• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Atraksi 1.000 Penari Lintas Generasi

Anton Muhajir by Anton Muhajir
16 October 2016
in Budaya, Foto
0
0
Penari menunggu pembukaan Festival Nusa Penida 2016.

1.000 penari menarikan tari jangkang saat pembukaan Festival Nusa Penida 2016. Foto-foto Anton Muhajir.

Para penari menunggu sebelum tampil.

Para penari bersiap memasuki gelanggang di Pantai Banjar Nyuh, Nusa Penida.

Selain tombak, para penari juga membawa senjata keris.

Sebelum tari jangkang, penari perempuan menarikan tari sekar jagat.

Penari lintas generasi menarikan tari jangkang di Nusa Penida.

Tombak menjadi senjata andalan para penari tari jangkang.

Penonton membludak di Pantai Banjar Nyuh, Nusa Penida.

Seorang penari menunggu giliran tampil.

Tari sekar jagat oleh penari perempuan sebelum tari jangkang.

Atraksi tari jangkang juga menjadi pertemuan lintas generasi seperti bapak dan anak ini.

Seribu penari tari jangkang memadati Pantai Banjar Nyuh.

Dari anak-anak hingga kakek-kakek, mereka semua menarikan tarian itu pada Jumat pekan lalu. Semuanya laki-laki. Tarian ini termasuk tarian sakral di Banjar Pelilit, Desa Pejukutan, di bagian selatan Pulau Nusa Penida.

Kali ini tari jangkang dipentaskan dalam pembukaan Nusa Penida Festival 2016. Festival tahunan ketiga kalinya ini bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata tiga pulau di Nusa Penida yaitu Nusa Gede, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan.

Tiap tahun, pembukaan Nusa Penida Festival mementaskan tarian-tarian kolosal. Tahun lalu, tarian yang dipentaskan adalah 000 penari rejang yang semuanya perempuan. Kali ini tari jangkang yang dipentaskan laki-laki.

Jangkang sendiri berasal dari kata jungkang jungking, gerakan menghindari musuh.

Menurut sejarahnya, tari jangkang merupakan tarian perang antara warga Banjar Pelilit dengan desa tetangga. Pada saat itu, warga Pelilit menggunakan tombak, melemparkan batu, menghindari serangan, mengintip musuh, dan merangkak. Gerakan-gerakan itu pun dilambangkan dalam tarian jangkang.

Para penari membawa tombak perang. Di ujung tombak terdapat benang tiga warna atau tridatu. Ada pula ilalang yang diikatkan untuk menghormati rumput raksasa yang ketika itu dipakai berperang. Penari mengenakan pakaian khas Nusa Penida yaitu kamben atau sarung berwarna merah dan selendang berwarna kuning.

Tarian ini diiringi baleganjur, instrumen musik khas Bali. Bedanya, alat musik pengiring tari jangkang ini termasuk sederhana. Tidak ada baleganjur lengkap layaknya musik Bali pada umumnya tapi hanya kendang, cengceng (semacam simbal), tetawe, kempul (gong kecil), dan bonang (gamelan kecil).

Menurut kepercayaan warga Banjar Pelilit, kempul memberikan semangat dan kekuatan bagi para penari, seperti halnya pada saat perang.

Tarian jangkang sebenarnya termasuk tarian sakral. Hanya dimainkan pada saat upacara agama Hindu. Seiring perubahan waktu, tari jangkang juga beradaptasi dengan zaman. Jumlah penari biasanya hanya sembilan orang. Namun, saat ini sesuai kebutuhan.

Dari semula sebagai tarian di pura saat upacara agama, sekarang juga ditarikan untuk tujuan menghibur. Namun, kali ini dipentaskan sebagai bagian dari hiburan. “Kami juga mulai menari untuk acara-acara seperti festival saat ini,” kata Ketut Teguh, salah satu penari.

Bagi para penari, pementasan tari jangkang kali ini menjadi waktu untuk mengenalkan bahwa mereka juga memiliki tradisi-tradisi tari yang unik. Karena itu mereka antusias berlatih lagi, terutama anak-anak SMP dan SMA, sejak sebulan sebelum pementasan.

Pertunjukan penari lintas-generasi kali ini pun menjadi waktu untuk belajar sekaligus meneruskan tradisi tari di Banjar Pelilit. I Komang Wisnu termasuk salah satu siswa yang menari bersama bapaknya, Ketut Teguh.

Sabtu sore itu, Wisnu pun menari bersama Teguh dan para penari lainnya. Mereka menari menirukan gerakan-gerakan serupa perang diiringi tabuhan gamelan Nusa Penida. Ribuan warga menyaksikan mereka bahkan meluber sampai pantai sisi barat Nusa Penida itu. [b]

Tags: BudayaFotoNusa Penida
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

22 July 2024
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

23 October 2023
Next Post
Krisis Air Bersih di Ujung Timur Bali

Krisis Air Bersih di Ujung Timur Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia