• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, January 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Arsitektur Pertahanan Desa Tenganan

Riri Prabandari by Riri Prabandari
6 November 2010
in Agenda, Kabar Baru, Lingkungan, Sosok
0
2

Teks dan Foto Riri Prabandari

Arsitek muda kelahiran Desa Tenganan membagi pengalaman dan pandangannya tentang pengaruh  Dewa Perang pada penataan desa.

I Putu Wiadnyana hadir sebagai penyaji (presenter) di hadapan sekitar 30 audiens Architect Under Big 3. Diskusi bulanan ini diadakan di kebun Danes Art Veranda, Jumat malam kemarin. Putu mengenalkan audiens pada tanah kelahirannya. Dia menyajikan film dokumenter mengenai Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Film ini dibuat TVRI Nasional untuk program acara Suku-suku.

Pada bagian pertama cerita, Place and People, Putu bercerita mengenai Desa Tenganan secara umum; lokasi dan sejarah Desa Tenganan. Putu menceritakan sistem sosial Tenganan, salah satunya bahwa warga desa setempat diharapkan melakukan pernikahan indogami, ritual dan upacara khas Desa Tenganan. Misalnya, Maling-malingan dan Perang Pandan yang tersohor. Putu juga menceritakan bagaimana pariwisata berdampak pada Desa Tenganan.

Cerita tentang kain Geringsing yang cantik menandai dimulainya bagian kedua, Art and Architecture. Putu berkisah, kain Geringsing Tenganan merupakan kain dobel ikat di mana sistem pembuatannya hanya ada dua di dunia, yaitu di Desa Tenganan dan di India. Motifnya yang unik merupakan representasi dari alam semesta. Putu  menunjukkan beberapa slide gambar alat musik khas Tenganan, Selonding. Tidak semua orang diperbolehkan memainkan alat musik ini. Diperlukan proses bagi orang yang ingin memainkannya.

Menurut Putu Desa Tenganan memiliki pola yang linear dari utara ke selatan. Penataannya bertumpu pada konsep mandala Dandaka Mandala, konsep kosmologi alam semesta. Sebagai pemuja Dewa indra (Dewa Perang), Desa Tenganan ditata seolah-olah seperti benteng (barak tentara). Masyarakat Desa Tenganan diumpamakan tentara bagi Dewa Indra. Benteng di sini tidaklah berwujud fisik seperti tembok, melainkan berupa kondisi alam, yaitu bukit dan aliran sungai.

Menuju lingkup lebih kecil, alumnus Universitas Gajah Mada angkatan 2001 ini menjelaskan mengenai pola rumah di Tenganan. Sesama rumah letaknya berhadapan membentuk ruang kosong di tengahnya. Ada ruang publik dan sakral. Hal ini mempermudah infrastruktur desa.

Pada sistem drainasenya, semua air kotor dialirkan ke arah belakang. Akibatnya ruang publik maupun sakral akan tetap sesuai konsepnya, bersih dan sakral. Rumah-rumah di Tenganan berbentuk seragam, dari utara ke selatan. Pola ini membentuk sifat masyarakat lebih mementingkan kebersamaan daripada perorangan (individual).

The Architect and Community merupakan bagian akhir ceritanya. Pemuda kelahiran Desa Tenganan, 29 Desember 1982 ini menceritakan kiprahnya sebagai arsitek dalam beberapa proyek di masyarakat Tenganan.

Tenganan Microhydro Power Plant merupakan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam melalui sumber energi terbaru. Dalam proyek yang didanai UNDP ini Putu terlibat desain proses maupun konstruksi penyusunan rumah pembangkit listrik dan fasilitas produksi beras. Selain itu, Putu terlibat dalam pengelolaan operasi produksi melalui kerjasama bisnis berbasis masyarakat. Dia sebagai manajer lapangan. Proyek ini menghasilkan “Green Rice”, beras dihasilkan dari pemanfaatan energi baru dengan biaya produksi murah.

Proyek selanjutnya Tenganan Water Supply Project. Tujuan proyek ini memperbaiki seluruh teknis dan sosial aspek alokasi kuantitas air, penilaian kualitas air dan kapasitas bangunan masyarakat setempat. Secara umum, Putu yang pernah bekerja di Popo Danes Architect ini bertanggung jawab sebagai manajer proyek lokal. Tugasnya mengoordinir dan mengelola seluruh program di tingkat lokal. Selain itu, Putu juga mengerjakan desain dan persiapan konstruksi.

Menurut Putu, pencapaian terbesar proyek ini ditandai dengan kolaborasi masyarakat dalam memberikan sistem infrasuktur air baru bagi warga yang sebelumnya tidak memiliki akses air bersih. Menurutnya, sudah dua tahun sejak proyek ini dilaksanakan, distribusi air tidak pernah putus. Tujuan jangka panjang proyek ini menyediakan sistem organisasi air sumur dengan pengelolaan yang melibatkan masyarakat.

Selain mengerjakan proyek besar untuk keberlangsungan desanya, Putu juga mengerjakan proyek rumah tinggal di Tenganan. Dia tetap mengindahkan pakem-pakem di Tenganan.

Usai presentasi apik Putu, audiens dipersilakan bertanya.

Desa Tenganan memiliki aturan infrastruktur tersendiri. Kekhasan Tenganan ini memancing audiens untuk bertanya sejauh mana batasan-batasan renovasi rumah tinggal di Tenganan. Menurut Putu, renovasi rumah tinggal di Tenganan dilakukan tanpa lepas dari keberlangsungan upacara-upacara yang akan dilakukan pemiliknya. “Ini peraturan tidak tertulis yang sebaiknya diindahkan,” kata Putu.

Salah satu audiens, Fitorio Bowo Leksono, memberi masukan tentang kain dengan sistem double ikat yang menurut Putu hanya ada dua di dunia. Menurut Fitorio di Okinawa, Jepang juga terdapat kain yang dibuat dengan sistem double ikat secara turun-temurun.

Salah satu presenter Architects Under Big 3 #6, Andika Priya Utama, menanyakan pandangan Putu yang sudah pernah melihat daerah daerah maju di luar Desa Tenganan. “Apakah pengalaman itu menimbulkan pemikiran-pemikiran bagi perkembangan Desa Tenganan?” tanya Andika.

Putu mengakui, banyak hal perlu diperbaiki, khususnya konsep dan filosofi yang mulai bergeser. Putu memberi contoh persepsi warga Desa Tenganan terhadap periwisata. Dampak nyatanya adalah pergeseran pola pikir warga Tenganan yang cenderung menjual demi kepentingan materi daripada mendalami makna dari upacara.

Nampaknya alam memiliki waktunya sendiri. Ketika interaksi Putu dengan audiens dirasa cukup, hujan mulai turun membasahi kami semua.

Putu, pemuda asli Tenganan Pageringsingan hari ini telah memberi pelajaran pada kita untuk membangun tanah kelahirannya dengan tetap berpegang pada kearifan lokal. [b]

Tulisan diambil dari blog AUB3.

Tags: ArsitekturBaliDiskusiTenganan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Riri Prabandari

Riri Prabandari

Mulanya seni sebagai hobi, kemudian jatuh cinta sedalam-dalamnya sehingga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Setelah berhasil lulus sampai sekarang masih setia di jalurnya dengan bekecimpung di lahan manajemen seni dan budaya.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post

The Living End Guncang Kuta

Comments 2

  1. wiradynamic says:
    15 years ago

    arsitektur, i like this..
    salam knal bli..
    majukan bali lewat infrastruktur yg berbasis kearifan local..

    Reply
  2. ayu says:
    14 years ago

    wah memarik sekali saya bangga pada desa tenganan tolong tetap dilestarikan awig-awig dan warisan dari leluhur jngn mau di perbudak oleh modernisasi sehingga menjadi budaknya materi dan menjadi serakah membabat habis lahan dan mendirikan beton2 jng sampai bali berubah menjadi surganya beton,,,nanti bali tidak metaksu lagi dan ditinggal wisatawan.Jaya Bali ku selalu..

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia