• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Apakah Kotamu Meningkatkan Kualitas Hidup? Berefleksi di Urban Social Forum Bali

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
4 September 2025
in Kabar Baru
0
0

Untuk pertama kali Bali menjadi tuan rumah ruang diskursus tentang kota, Urban Social Forum (USF) ke 11 pada 30-31 Agustus 2025. Bali juga menjadi kota pertama perhelatan USF di luar Solo, rumah bagi Yayasan Kota Kita, penyelenggaranya. Tema tahun ini adalah Another City is Possible, ajakan menciptakan kota yang kita inginkan, bahkan yang diimajikan.

Diskusi soal urban planning, sisi manusiawi kota, ketidakadilan fasilitas publik bagi kelompok marjinal, dan bagaimana warga menyadari haknya bukanlah hal familiar di Kota Denpasar. Karena ketika membahas kota, yang dibahas hanya masalahnya (yang nampak di depan mata) seperti macet, sampah, dan kriminalitas. Sisi manusia dan di balik masalahnya sangat jarang didiskusikan. Bisa jadi karena kurang pisau analisis atau letupan-letupan diskusi yang memberikan sudut pandang alternatif melihat kota.

Nah, USF memberi keduanya, mengasah pisau analisis dan memantik sudut pandang yang beragam. Misalnya saja, ketika salah satu ruang kelas di gedung Fakultas Teknik Universitas Warmadewa yang trendi ini membahas pejalan kaki dan haknya atas trotoar yang mendukung. Peserta mengungkapkan kisah-kisahnya ketika berjalan kaki. Ya, jalan kaki terasa begitu luhur dan langka karena bukan kebiasaan sebagian warga di kota-kota negeri ini. Alasannya ada banyak.

Forum ini difasilitasi Koalisi Pejalan Kaki dan Climate Reality Project. Anak muda penggeraknya melanjutkan diskusi dalam kelas ini ke sejumlah ruas jalan di keesokan harinya. Mereka mengajak jalan kaki dengan penuh kesadaran. Bahwa ada prinsip-prinsip dan hak pejalan kaki yang dipenuhi negara seperti berkelanjutan. “Kalau kita jalan kan harus ada trotoar yang selalu tersedia, tidak bisa terputus,” sebut aktivis koalisi ini. Prinsip lain aksesibilitas dan inklusi, mudah dan langsung, serta keamanan dan kenyamanan. Peserta diajak memikirkan dan identifikasi kondisi dengan audit sosial trotoar dari prinsip di atas. Juga menandai fasilitas yang kurang seperti zebra cross dan benda-benda yang mengambil ruang trotoar.

Pada hari pertama difokuskan ke pembukaan dan diskusi-diskusi panel dengan keragaman tema, dibawakan oleh komunitas dan organisasi dari Bali dan luar Bali. Sebanyak 20 panel diskusi berjalan maraton dalam beberapa sesi. Hal menarik dari sesi diskusi, side event, dan lokakarya adalah USF sudah membuka tawaran tema diskusi, narasumber, dan perintilan lainnya ke publik beberapa minggu sebelumnya. Setelah itu baru dikurasi oleh tim USF dan yang terpilih mengikuti koordinasi persiapan. Panitia hanya menyediakan ruang, layar, dan teknis lainnya.

Alhasil ada beragam tema yang muncul, dan menunjukkan partisipasi publik pada perhelatan ini. Di hari kedua barulah fokus USF di luar ruang, yakni Taman Kota Denpasar di sisi Youth Park. Sementara di dalam ruang ada pembukaan Urban City Fora yang menampung suara anak muda melalui riset dan diskusi-diskusi untuk dibawa ke penciptaan platform digital berkolaborasi dengan pemerintah kota.

Di Taman Kota Denpasar, sejumlah kelompok anak muda berkumpul lesehan di rumput. Ada roleplay dan boargame unik seperti Merebut Jalanan, ular tangga solusi anak muda pada masalah kota, dan simulasi anggaran berperan sebagai walikota. Kelihatannya main-main atau bermain, tapi serius banget isunya. Berimajinasi memang dimulai dengan bermain.

Jadwal lengkap dan detail topik diskusi, side events, dan lokakarya bisa dicek di sini. https://urbansocialforum.or.id/#program

Dari tahun ke tahun, forum ini terus berkembang dan memperluas percakapan kritis tentang kota seperti apa yang kita inginkan dan butuhkan, serta bagaimana kota dapat lebih inklusif terhadap segala aspirasi, komunitas, masyarakat, dan masa depan. Forum ini didirikan, dan terus eksis, dengan misi untuk mengadvokasi dan mempromosikan kota yang lebih adil secara sosial, berkelanjutan, dan demokratis dengan menciptakan ruang yang mendorong partisipasi aktif warga.

Provokasi untuk kota yang lebih baik

Ahmad Rifai, Direktur Eksekutif Kota Kita yang membuka USF dan memandu diskusi perdana menyebut kata provokasi untuk ide-ide dan imaji bagi kota yang lebih baik. Merebut Kota untuk Kita, demikian tema talkshow menampilkan 5 narasumber ini. “Ini bukan berarti berhadapan tapi kota adalah kontestasi ruang. Misal pejalan kaki merebut ruang,” jelas Rifai.

Sebelumnya Rektor Universitas Warmadewa menyatakan pentingnya kota berkeadilan, untuk itu perlu kolaborasi penghuninya untuk mewujudkan.

Wakil Walikot Denpasar yang membuka USF, I Kadek Agus Arya Wibawa menjadikan pidato pembukaannya menjelaskan situasi kota, bahkan ia ingin membahasnya cukup lama sehingga beberapa kali minta waktu tambahan.

Wibawa memulai dari situasi kemacetan, demikianlah sambutan selamat datang bagi turis yang lewat ibukota Bali ini. Makin parahnya kemacetan tak ayal karena populasi kendaraan jauh lebih banyak dari warga. “Rasionya, 1 warga memiliki 3 kendaraan apalagi ditambah plat luar untuk transportasi online,” sebutnya.

Berikutnya sampah, volume sampah kota 1050 ton per hari, untuk ini pihaknya harus bersihkan sungai dengan timbunan sampah 25 ton per hari. “Sampah dibungkus kresek terbanyak artinya ini sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai,” jelasnya. Strategi pengelolaan sampah yang dilakukan pemerintah adalah di hulu dengan mengajak peran aktif warga mengelola sampahnya. Pemkot akan membiayai pembuatan 5500 teba modern sebagai trigger selain bikin komposter sendiri misalnya dengan polybag.

Strategi di tengah adalah pembuatan TPS3R dengan mesin hybrid. “TPST Kertalangu ditolak karena bau dan akan diubah jadi pusat daur ulang,” kata Wawali. Sementara di hilir, akan dibangun pembangkit listrik dari pembakaran sampah. Ia menyebut syaratnya adalah Pemkot menyediakan lahan 5 Ha pada 2026, kemudian pemerintah pusat melalui Danantara investasi dengan estimasi membangun 3 tahun. “Harga beli listrik PLN ke investor terlalu murah, karena itu Perpres sudah diubah. Semoga 2029 sudah bisa menyelesaikan sampah di Denpasar,” yakinnya.

Sementara itu terkait Merebut Kota untuk Kita, dua anak muda diminta merespon apa yang diidamkan di kota dan ruang apa yang harus direbut. Gusti Diah Pramesti menyebut soal air bersih.

“Sebagai anak muda perantau, saat kuliah, air susah dan kotor, tak hanya di kota juga terjadi di Bali. Pertanian juga susah air,” keluhnya.

Sementara Bandem Kamandalu yang membuat akun media sosial Nuturang mengidamkan anak muda terjun langsung ke wilayah perkotaan yang memerlukan intervensi perubahan. Mengaktivasi kota dengan live-in atau belajar di komunitas warga.

Ngurah Suryawan, antropolog dan penulis masalah sosial budaya yang fokus pada ketidakadilan memaparkan bahwa peristiwa kekerasan seperti Peristiwa 65 menandai kontestasi ruang. Menurutnya desain pembentukan kota terkait kekerasan pasca 65, banyak monumen dan perluasan kapital khususnya pariwisata. Infrastruktur diciptakan sesuai kepentingan politik. Di sisi lain warga malas berdiskusi, apolitis, dan pragmatis,” ujarnya sehingga industri pariwisata mendominasi ruang kota seperti alih fungsi kawasan hijau.

Rifai juga merefleksikan situasi kota Banjarmasin yang berubah pasca tambang. Kota di Kalimantan ini terkenal sebagai kota sungai namun banyak sungai diurug.

Agung Wardana, akademisi UGM menambahkan setiap corak ekonomi menciptakan ruang seperti kota. Sawah terasering di Bali awalnya bukan untuk produk kebudayaan tapi efisiensi lahan karena tanah kontur berbukit. Industri pariwisata dinilairentan krisis dengan memproduksi ruang dan komuditas baru. “Dulu di tiap kota dipenuhi patung saat pariwisata budaya digaungkan sekarang mall, cafe. Wisata healing membentuk komoditas,” sebutnya. Kini ada wisata compund kompleks tempat tinggal padahal ada perempuan yang capek buat banten dan menjalankan ritual tapi jadi komoditas pariwisata budaya.

Dalam permasalahan sampah ada peran sektor swasta produsen sampah yakni pariwisata yang meninggalkan sampah. Menurut Agung, selama ini sampah hanya dihadapkan sebagai masalah warga. “Jika warga berkontribusi ekonomi minim dianggap tidak berkontribusi seperti difabel dan ibu rumah yangga. Padahal di isu reproduksi sosial mereka sangat penting,” ingatnya.

Wiwandari Handayani, akademisi dari Undip Semarang mengingatkan fungsi kota to live, work, and play. Menurutnya kota harus meningkatkan kualitas hidup dan keseimbangan lingkungan terutama jika kota menghadapi bencana sampah, macet, banjir, dan lainnya.

kampungbet kampungbet kampungbet sangkarbet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Senja Kala Humaniora

14 May 2026
Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Next Post
Sumur Resapan dan Filter Air Limbah Rumah Tangga, Cara Mudah Konservasi Air

Sumur Resapan dan Filter Air Limbah Rumah Tangga, Cara Mudah Konservasi Air

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Senja Kala Humaniora

14 May 2026
Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia