• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Agung Prana, Pelestari Terumbu Karang di Pemuteran

Anton Muhajir by Anton Muhajir
1 June 2012
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan, Sosok
0
1
Agung Prana melibatkan warga lokal untuk melestarikan terumbu karang. Foto The Bali Project.

Pelestari terumbu karang ini masuk nominasi peraih penghargaan internasional.

Dialah I Gusti Agung Prana, pengusaha wisata yang juga pelestari terumbu karang di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Di pantai utara Bali ini, Prana dan temannya, mengembangkan teknik rehabilitasi terumbu karang menggunakan listrik bertegangan tinggi.

Program inilah yang, menurut Kantor Berita Antara, akan mendapatkan penghargaan The Equator Prize dari Badan Program Pembangunan Dunia (UNDP). The Equator Prize merupakan penghargaan untuk orang-orang yang dianggap berperan besar dalam pelestarian lingkungan. Penghargaan untuk Prana ini akan diberikan di Rio de Janeiro, Brazil, 20 Juni 2012 nanti.

Keberhasilan ini membuat saya teringat ketika liputan ke sana sekitar 2003 silam. Waktu itu sih saya menulis untuk GATRA, tempat saya bekerja pada saat itu. Saya coba merangkum lagi tulisan lama tersebut.

I Gusti Agung Prana sebenarnya pengusaha wisata di Sanur, Bali. Dia juga punya Taman Sari Cottages di Desa Pemuteran, berjarak sekitar 120 km dari Denpasar. Perlu waktu sekitar 2,5 jam dari Denpasar ke tempat ini dengan kendaraan bermotor.

Pemuteran, dengan lokasi menghadap pantai utara Bali, merupakan salah satu daerah pariwisata di Bali Utara selain Lovina. Alam bawah laut dan pantai landai merupakan dua di antara pesona kawasan ini.

Bom
Namun, dulunya, daerah ini justru mengalami kerusakan terumbu karang amat parah. Warga setempat menggunakan bom dan potasium untuk mencari ikan. Akibatnya, terumbu karang hancur. Yang tersisa hanya putih bekas terumbu karang.

Prana kemudian melakukan kampanye agar warga setempat melestarikan terumbu karang. Dia juga mendirikan cottage di sana. Sekitar 80 persen stafnya adalah warga desa yang berada di jalur antara Gilimanuk – Singaraja ini. Tujuannya, kata Prana waktu itu, agar warga setempat mulai beralih ke pariwisata, tak hanya nelayan apalagi dengan merusak lingkungan.

Kampanye ini klop dengan ide dua warga asing, dua ahli terumbu karang dari Global Coral Reef Alliance, Amerika Serikat. Dua ahli tersebut, Thomas J Goreau (AS) dan Wolf Hibertz (Jerman) “dibawa” Yos Amerta, Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Bali pada saat itu.

Mereka memulai melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan teknik baru. Caranya dengan mengalirkan listrik bertegangan rendah pada kerangka rumpon (bronjong) di bawah dasar laut.

Tom dan Wolf, panggilan kedua ahli bilogi laut tersebut, membuat kerangka rumpon dari besi. Sebagai percobaan mereka membuat kerangka besi ini dua buah. Masing-masing berbentuk kubus berukuran sekitar 6 x 10 x 6 meter. Dua rumpon ini ditenggelamkan di dasar laut sedalam sekitar 12 meter. Ribuan bibit terumbu karang juga diikat dengan kawat pada rumpon tersebut. Pada keduanya dialiri listrik berkekuatan rendah, 12-20 volt.

Aliran listrik ini stimulus bagi berkumpulnya kalsium karbonat dan air laut yang mengandung magnesium hydroxide pada rumpon besi. Lalu, terbentuklah pondasi terumbu karang berupa kerak putih. Pondasi ini berpadu dengan bibit terumbu karang yang diikat tadi.

Hasilnya mencengangkan. Dalam sebulan, pondasi terbentuk. Bibit terumbu karang yang dicangkokkan pun memperlihatkan karang baru. Pertumbuhannya lebih cepat hingga 5-10 kali daripada pertumbuhan alami. Warna terumbu karang ini jelas bercahaya kebiruan.

Teknik yang disebut elektrolisa akresi mineral ini sudah pernah diterapkan di beberapa tempat di luar negeri yaitu Thailand, Maldives, dan Amerika Serikat. Namun, menurut Prana, hasilnya tidak sebagus di Pemuteran. “Hal ini karena warga lokal tidak turut berpartisipasi melakukan rehabilitasi tersebut,” kata Prana.

Empat bulan kemudian, pada Oktober 2000, rumpon lebih banyak pun diceburkan ke laut tersebut. Pada tahap kedua ini dibuat rumpon sebanyak 22 dengan total panjang 222 meter tinggi 6 meter dan lebar 12 meter. Bentuknya macam-macam. Ada yang setengah bola, piramida, kubus, dan elips. Total area yang dijadikan tempat rehablitasi tersebut mencapai sekitar 2 hektar.

Saya waktu itu ikut snorkling dan melihat bentuk-bentuk terumbu karang buatan ini. Memang menarik.

Sumber aliran listrik dari delapan aki beraliran listrik DC (direct current) tetap dengan voltase antara 12-20. Listrik dialirkan melalui kabel tembaga elektroda. Kabel-kabel ini dilapisi semacam plastik untuk mencegah rusak akibat air laut.

Biaya pembuatan rumpon tersebut swadaya masyarakat. Prana yang merupakan pemilik Puri Taman Sari, home stay di Pemuteran itu mengaku mengeluarkan biaya hingga Rp 400 juta dari Rp 800 juta biaya proyek tersebut.

Enam karyawannya pun menjaga rumpon-rumpon tersebut. Mereka terdiri dari diver, insinyur listrik, serta satu orang project instructur.

Pecalang Laut
Agar berkelanjutan, pelestarian terumbu karang ini juga melibatkan warga lokal. Desa Pemuteran mempunyai pecalang laut. Tugasnya menjaga agar tak ada lagi warga yang mengebom ikan. Warga juga membentuk Kelompok Karang Lestari, terdiri dari warga adat, dive operator, dan pengusaha wisata.

Keberhasilan Kelompok Karang Lestari dengan poyek rehabilitasi terumbu karang ini pernah mendapat berbagai penghargaan. Pada Mei 2002 Karang Lestari dipilih sebagai proyek pesisir terbaik oleh Menteri Perikanan dan Kelautan. Pada Juni 2002, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata juga mempresentasikan kesuksesan proyek ini di Preparatory Committe dan Pertemuan Tingkat Tinggi Menteri se-Dunia di Bali.

Pada Juli 2002, Direktur Eksekutif United Nation Environtmental Programs (UNEP) mengunjungi proyek tersebut. Pada September 2002, Thomas J Goreau, pemrakarsa teknik rehabilitasi ini mempresentasikan proyek ini di KTT Johannesburg, Afrika Selatan.

Pada November 2002 organisasi wisata dunia SKAL memberikan penghargaan sebagai tempat wisata bahaw air terbaik di dunia. Sejak 2002 silam Agung Prana sudah masuk nominasi untuk mendapat penghargaan dari UNEP.

Sepuluh tahun kemudian, dia juga masih masuk sebagai nominator. Apakah dia akan mendapatkannya kali ini? Semoga.. [b]

Foto diambil dari The Bali Project.

Tags: BulelengLingkunganProfilSosokWisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Aneka Olahan Bebek di Tengah Kota

Aneka Olahan Bebek di Tengah Kota

Comments 1

  1. Ayu Priska says:
    13 years ago

    Selamat Siang, saya mahasiswa Universitas pendidikan Ganesha ingin mewawancarai tentang pelestarian terumbu karang di Pemuteran ,, apa bapak bersedia untuk diwawancarai,, ,, terima kasih,, mohon konfirmasinya

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia