• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Agar Pura Tetap Sakral, Tidak Diobral

Anton Muhajir by Anton Muhajir
12 November 2013
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru
0
1

Besakih05

Penetapan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) mendapat perlawanan di Bali.

Salah satu bentuk perlawanan itu datang dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Pada 27 Oktober 2013 lalu, pemimpin organisasi pemuka agama Hindu ini mengeluarkan pernyataan menolak penetapan Besakih dan sekitarnya sebagai KSPN. Surat tersebut ditanda tangani Dharma Adyaksa PHDI Ida Pedanda Gde Ketut Sebali Tianyar Arimbawa dan lima wakilnya.

Ada lima poin dalam Surat Keputusan No 01 tentang KSPN Besakih itu. Ada dua poin yang menurut saya paling penting. Pertama, PHDI menolak penetapan Besakih-Gunung Agung dan sekitarnya sebagai KSPN. Kedua, mereka meminta Presiden mencabut penetapan Besakih – Gunung Agung dan sekitarnya sebagai KSPN.

Asal muasal penolakan itu justru sudah muncul hampir dua tahun sebelumnya. Pada 2 Desember 2011 silam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyoni (SBY) menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) n0 50 tahun 2011. PP tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional ini memuat 70 pasal termasuk tentang tempat-tempat yang dianggap strategis untuk dikembangkan sebagai tempat wisata.

Lampiran PP no 50 tahun 2011 ini memuat apa yang disebut Destinasi Pariwisata Nasional (DPN). Ada 50 destinasi di semua provinsi, termasuk Bali, magnet utama pariwisata Indonesia. Ada 11 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) di Bali. Besakih – Gunung Agung dan sekitarnya termasuk salah satu dari KPPN ini bersama lain Taman Nasional Bali Barat dan sekitarnya, Ubud dan sekitarnya, Nusa Penida dan sekitarnya, dan lain-lain.

Nah, penetapan Besakih – Gunung Agung dan sekitarnya dalam KPPN itulah yang kemudian memicu penolakan dari beberapa kalangan termasuk PHDI.

Besakih01

Ada dua alasan penolakan tersebut yaitu karena Besakih merupakan kawasan suci dan penetapan tersebut menimbulkan konflik norma. Besakih merupakan desa di mana pura ibu dari segala pura di Bali berada. Kawasan pura ini berada di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Jaraknya sekitar 1,5 – 2 jam dari Denpasar.

Gubernur Bali Mangku Pastika sebenarnya tidak langsung terkait dengan polemik ini. Dia bukanlah pihak yang memberikan izin atas penetapan tersebut. Agak berbeda dengan kasus rencana reklamasi Teluk Benoa di mana Gubernur Bali tersebut berperan besar dengan memberikan izin studi kelayakan.

Toh, Pastika sebagai Gubernur Bali tetap kecipratan polemik ini. Suara-suara sinis terhadap Pastika sebagai pengobral Bali terhadap investor tetap terdengar, lantang maupun samar-samar.

Bisa jadi karena gerah dengan tuduhan tersebut, terutama terkait status Besakih sebagai KPPN (yang oleh media lokal lebih sering disebut KSPN), maka Pastika terkesan ngambul. Dalam satu diskusi dengan warga dia berujar, “Kalau begitu larang saja turis untuk beriwisata ke pura-pura di Bali.”

Ucapan Pastika ini disambut aneka komentar. Ada yang setuju, ada yang menolaknya. Seperti biasa, media lokal di Bali rajin sekali mengipas-ngipasinya.

besakih-cewek

Sakral vs Komersial
Gara-gara polemik tersebut, saya jadi terpikir ikut bersuara tentang boleh tidak turis berwisata ke pura. Pikiran ini tidak khusus soal Besakih tapi soal pura-pura lainnya di Bali.

Menurut saya, pura tetap bisa menjadi salah satu tempat kunjungan wisata. Toh selama ini juga hal tersebut sudah dilakukan.

Ketika berkunjung ke suatu tempat, saya biasanya lebih senang jalan-jalan ke tempat di mana kita bisa belajar tentang budaya daerah itu. Misalnya museum, bangunan tua, pasar lokal, dan seterusnya. Maka, wajar pula ketika di Bali, saya memilih jalan-jala ke Tanah Lot, Pura Uluwatu, Taman Ayun, Museum Bali, dan semacamnya.

Saya yakin sebagian besar turis yang jauh dari Eropa dan Amerika juga tentu lebih ingin mengenal budaya dan agama di Bali ini daripada misalnya cuma ke pantai apalagi ke bar, night club, dan semacamnya.

Karena itu, mengizinkan pura dikunjungi turis tentu jauh lebih baik daripada mengizinkan pembangunan-pembangunan yang mengeksploitasi alam dan lingkungan Bali.

Mau tidak mau, suka tidak suka, pura itu menjadi semacam jantung yang terus menghidupkan dan dihidupkan budaya Bali. Berkunjung ke pura adalah upaya untuk tahu jantung budaya Bali itu. Lebih baik turis-turis itu belajar tentang pura dan budaya Bali daripada hanya berjemur di pantai atau berpesta di night club.

Menariknya, pura adalah tempat yang dikelola secara kolektif oleh warga-warga di sekitarnya. Karena itu, di beberapa tempat di mana pura juga menjadi tempat wisata, pengelolanya adalah banjar setempat. Ini berarti menjadikan warga lokal sebagai tuan rumah di tempatnya sendiri. Dia tidak harus jadi kacung di tempat-tempat wisata yang dikelola investor.

Namun, ketika pura juga menjadi tempat wisata, ada nilai-nilai dasar yang tetap harus dipegang. Setahu saya hal ini juga sudah berlaku selama ini.

besakih-turis

Pertama bahwa fungsi utama pura tetaplah sebagai tempat sembahyang. Pada saat warga memang melakukan sembahyang, misalnya Odalan, maka aktivitas wisata di sana harus ditutup untuk sementara. Hal ini untuk menjaga kesakralan upacara itu sendiri.

Kedua, kunjungan ke pura hanya boleh dilakukan pada zona tertentu. Pura pada umumnya terdiri dari tiga zona yaitu nista mandala, madya mandala, dan utama mandala. Turis yang berkunjung hanya diperbolehkan sampai di nista mandala, zona paling luar. Zona tengah (madya) dan inti (utama) cukup dilihat dari luar. Dengan demikian tetap ada bagian-bagian “suci” yang terlindungi.

Ketiga, turis harus menghormati aturan-aturan umum di pura. Misalnya, orang yang lagi berduka karena keluarganya baru meninggal atau lahir (cuntaka) tak boleh masuk, mereka harus berpakaian sopan, perempuan sedang menstruasi tidak boleh masuk, dan seterusnya. Ini hal umum yang sudah diterapkan hampir di semua pura.

Untuk bisa mengetahui aturan-aturan umum pura itu, warga lokal harus terlibat. Mereka yang lebih tahu aturan di pura milik desa atau komunitasnya. Jadi, guide alias para pemandu tidak bisa datang sesuka-sukanya ke pura.

Terakhir, dari konteks pariwisata berkelanjutan, perlu ada pembatasan jumlah kunjungan. Pembatasan ini penting diterapkan agar wisata ke pura tidak menjadi wisata massal dan tidak dieksploitasi. Agar pura tetap terjaga sebagai tempat sakral bukan tempat komersial yang diobral. [b]

Tags: BaliBesakihKSPNOpiniPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Next Post
Agenda: Pameran Seni Rupa JATIM ART NOW #3

Agenda: Pameran Seni Rupa JATIM ART NOW #3

Comments 1

  1. Netvice says:
    12 years ago

    Sebaiknya Pura tidak dikunjungi/dimasuki oleh orang non Hindu, karena siapa yang bisa menjamin “kesucian” Non Hindu tersebut karena Pura adalah tempat suci.

    Reply

Leave a Reply to Netvice Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia