• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

Oka Agastya by Oka Agastya
16 April 2026
in Kabar Baru, Lingkungan, Opini
0
0

Dari Samudra Pasifik ke Tanah Bali — Memahami, Mengantisipasi, dan Bertahan dari Fenomena Iklim Terbesar Abad Ini

“The sunspot maximum in 2025 has the potential to be followed by a strong El Niño in 2026.” — Sonni Setiawan, Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB University (2026)

Raksasa yang Bangkit dari Pasifik

Di kedalaman Samudra Pasifik tropis, sebuah proses berlangsung diam-diam namun dahsyat. Lapisan air hangat yang biasanya terkumpul di sisi barat samudra — tepat di atas kepulauan Indonesia, Papua Nugini, dan Australia utara — mulai bergeser ke timur. Angin pasat yang selama berbulan-bulan mendorong massa air itu berbalik arah, melemah, atau bahkan terhenti total. Ketika suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur naik melampaui batas normal hingga 1,5 derajat Celsius atau lebih, lahirlah El Niño — si anak laki-laki, dalam bahasa Spanyol — yang pertama kali dikenali oleh nelayan Peru berabad silam saat ikan-ikan mendadak lenyap dari pantai mereka setiap beberapa tahun sekali.

Namun ada kalanya El Niño tidak datang sendirian dengan kekuatan biasa. Ada kalanya ia hadir dalam wujud yang jauh lebih besar, lebih panas, dan lebih merusak dari semua yang pernah kita kenal. Inilah yang para ilmuwan dan media sebut sebagai El Niño “Godzilla” — sebuah julukan populer yang pertama kali diciptakan oleh ilmuwan NASA Bill Patzert untuk menggambarkan El Niño super 2015–2016, ketika suhu permukaan laut di Pasifik melonjak lebih dari 2,5°C di atas rata-rata normal, memicu serangkaian bencana iklim dari Amerika Latin hingga Asia Tenggara (Setiawan, 2026).

Kini, di pertengahan 2026, tanda-tanda kebangkitan kembali raksasa ini semakin nyata dan mengkhawatirkan. Beberapa model iklim Eropa tidak hanya memprediksi El Niño akan terbentuk, tetapi juga bahwa ia bisa menjadi El Niño terkuat dalam 140 tahun terakhir. Profesor Paul Roundy dari University of Albany menyebutnya sebagai potensi nyata yang harus kita waspadai. BMKG menyatakan peluang 50–80% terjadinya El Niño lemah hingga sedang di paruh kedua 2026, sementara NOAA Amerika Serikat bahkan menyisakan peluang 25% untuk El Niño “sangat kuat” dengan pemanasan lautan minimal 1,5°C di atas rata-rata.

Untuk Indonesia — dan Bali khususnya — ini bukan sekadar berita meteorologi. Ini adalah peringatan dini yang harus direspons dengan serius, terencana, dan cepat.

Anatomi Sebuah Bencana Global

Untuk memahami mengapa El Niño Godzilla begitu ditakuti, kita perlu memahami cara kerja mesin iklim global. Dalam kondisi normal, angin pasat di ekuator Pasifik bertiup dari timur ke barat, mendorong massa air hangat ke arah Asia Tenggara. Di sini, air hangat itu memicu penguapan masif, pembentukan awan, dan hujan lebat yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan orang di Indonesia, Filipina, dan Papua Nugini. Di sisi lain bumi, pantai Amerika Selatan mendapatkan air yang lebih dingin dan kering.

Ketika El Niño terjadi, sirkulasi Walker — nama untuk pola pergerakan atmosfer arah timur-barat ini — melemah drastis. Pusat tekanan rendah yang biasanya berdiam di atas Indonesia bergeser ke tengah Pasifik. Akibatnya, Indonesia kehilangan “mesin hujan”-nya. Langit menjadi cerah dan kering, sungai-sungai menyusut, dan bumi mengeras seperti tembikar yang dibakar. Sebaliknya, Peru, Brasil, dan California barat mengalami hujan dan banjir bandang (BMKG, 2023).

Sebuah studi Desember 2025 menemukan bahwa El Niño super dapat memicu “perubahan rezim iklim” — perubahan mendadak dan persisten dalam sistem iklim yang mengancam ekosistem dan kesejahteraan manusia — dan dunia yang semakin hangat akan membuat kejadian seperti ini semakin sering. Lebih jauh, El Niño melepaskan panas yang tersimpan di samudra kembali ke atmosfer, yang menyebabkan rata-rata suhu permukaan global meningkat, menciptakan efek berlapis yang memperparah pemanasan global yang sudah terjadi.

Kehadiran El Niño akan sangat meningkatkan kemungkinan 2026 atau 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Di tengah suhu global yang sudah memecahkan rekor delapan tahun berturut-turut, El Niño Godzilla bisa menjadi akselerator bencana yang belum pernah kita bayangkan.

Indonesia di Garis Terdepan

Indonesia, sebagai negara kepulauan di “jantung” Pasifik bagian barat, adalah salah satu negara yang paling langsung merasakan dampak El Niño. Sejarah telah berbicara dengan keras.

Pada El Niño 1982–1983, suhu permukaan air laut di bagian timur Samudra Pasifik mencapai 9–18°F di atas normal, dan akibatnya kekeringan parah melanda Indonesia. Namun sistem pemantauan belum berkembang, sehingga banyak data yang hilang. Barulah pada El Niño 1997–1998, dokumentasi ilmiah mulai menggambarkan skala kehancuran sesungguhnya.

Pada 1997–1998, Indonesia mengalami kerugian akibat El Niño berupa gagal panen seluas 3,9 juta hektar senilai Rp 6 triliun, kebakaran hutan seluas 11,6 juta hektar, dan kabut asap yang menyerang 20 juta jiwa di empat negara. Polusi udara dari kebakaran ini menyebar hingga ke Brunei, Filipina, dan Thailand. Ini bukan sekadar bencana alam — ini adalah krisis kemanusiaan lintas batas.

El Niño 2015–2016 mengulangi skenario serupa. Berdasarkan parameter NINO 3.4 SST Indeks, El Niño 2015 berada pada level kuat, ditandai dengan pelemahan sirkulasi Walker yang menyebabkan penurunan intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kebakaran hutan 2015 tercatat sebagai yang terburuk sejak 1997, menghancurkan jutaan hektar lahan gambut yang menyimpan karbon dalam jumlah kolosal.

Kini di 2026, tanda-tanda bahaya sudah muncul bahkan sebelum musim kering mencapai puncaknya. Luas lahan yang terbakar di Indonesia sudah mencapai 32.637 hektar pada Februari 2026 — dua puluh kali lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2025. Pemantauan independen Pantau Gambut mendeteksi 23.546 titik panas di kawasan gambut sejak Januari 2026. Di bulan Maret saja, jumlah titik panas melonjak hampir tiga kali lipat. Sejarah tampaknya sedang berulang, namun kali ini dengan skala yang berpotensi jauh lebih besar.

Bali — Pulau Surga di Ambang Krisis

Di antara semua daerah di Indonesia yang harus bersiap, Bali memiliki kerentanan yang sangat unik. Pulau seluas sekitar 5.600 km² ini menanggung beban yang tidak proporsional: populasi lokal yang terus bertumbuh, pariwisata yang memerlukan jutaan liter air setiap hari, sistem pertanian tradisional yang bergantung penuh pada ketersediaan air, dan perubahan tata guna lahan yang masif dalam dua dekade terakhir.

Pada El Niño kuat tahun 1997, beberapa wilayah di Indonesia terutama Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mengalami curah hujan yang sangat rendah sepanjang tahun. Secara ilmiah, dampak El Niño di Bali terdokumentasi dalam studi perbandingan yang menunjukkan bahwa baik El Niño 1997/98 maupun 2015/16 menyebabkan defisit curah hujan signifikan di seluruh provinsi Bali (Yuda, 2020). Ketika hujan absen berminggu-minggu, Bali berubah wajah secara dramatis.

Krisis air adalah luka yang sudah menganga jauh sebelum El Niño Godzilla tiba. Dari lebih dari 400 sungai di Bali, 260 di antaranya sudah mengering. Danau Buyan, cadangan air terbesar di pulau itu, sudah turun 3,5 meter. Dan penurunan muka air tanah menyebabkan intrusi air laut di sepanjang pesisir selatan Bali. Ini bukan proyeksi masa depan — ini adalah kenyataan hari ini, dan El Niño Godzilla berpotensi memperburuknya secara dramatis.

65% air di Bali digunakan untuk pariwisata, sementara wisatawan internasional rata-rata menggunakan 2.000 hingga 4.000 liter air per hari — hampir tiga kali konsumsi penduduk lokal (Cole, 2017). Ketika El Niño memperpanjang musim kemarau dan menunda datangnya hujan, konflik antara kebutuhan pariwisata dan kebutuhan pertanian serta kehidupan sehari-hari menjadi tidak terhindarkan.

Professor Lilik Sudiadjeng dari Politeknik Negeri Bali merangkum masalah ini dengan tajam: ada dua krisis utama yang saling memperparah — masalah kuantitas berupa penurunan air tanah akibat over-ekstraksi, dan masalah kualitas berupa intrusi air laut yang semakin jauh masuk ke daratan (Sudiadjeng & IDEP, 2024).

Ancaman Kebakaran yang Mengintai

Selain kekeringan pertanian dan krisis air, Bali juga menghadapi ancaman yang selama ini kurang mendapat perhatian: kebakaran hutan dan lahan. Meski secara geografis Bali tidak memiliki hamparan gambut seperti Kalimantan dan Sumatera, pulau ini memiliki kawasan hutan pegunungan, semak-belukar, dan lahan pertanian kering yang sangat rentan terhadap kebakaran saat kemarau panjang.

Perubahan iklim global diperkirakan akan meningkatkan frekuensi kekeringan ekstrem yang berpotensi memperburuk kejadian kebakaran di masa mendatang. Dalam kondisi El Niño kuat, kelembaban udara turun drastis, vegetasi mengering, dan satu percikan api kecil bisa memicu kebakaran yang meluas dengan cepat. Kebakaran di lereng Gunung Agung, Gunung Batur, atau hutan-hutan di Kabupaten Buleleng dan Karangasem bukan hal baru, dan El Niño Godzilla bisa mengubah kejadian sporadis menjadi bencana sistematis.

Belajar dari Kota-Kota yang Berhasil Beradaptasi

Di tengah ancaman yang menghadang, ada kabar baik: banyak kota di seluruh dunia telah membuktikan bahwa adaptasi terhadap panas ekstrem dan kekeringan bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat membawa manfaat berlapis bagi masyarakat. Bali bisa belajar dari pengalaman-pengalaman ini.

Medellín, Kolombia: Lorong Hijau yang Mendinginkan Kota

Medellín adalah salah satu kisah sukses terbesar dalam sejarah adaptasi iklim urban. Kota ini membangun jaringan “koridor hijau” — barisan pohon dan tanaman yang ditanam secara strategis sepanjang jalan-jalan utama, jalur pejalan kaki, dan jalur sepeda. Hanya dengan biaya $6,50 per orang, Medellín berhasil menurunkan suhu rata-rata kotanya sebesar 2°C melalui investasi senilai $16,3 juta untuk penanaman 8.000 lebih pohon. Ini bukan hanya pencapaian lingkungan — ini adalah investasi kesehatan publik, kualitas hidup, dan daya tarik wisata.

Phoenix, Arizona: Merevolusi Infrastruktur di Gurun Panas

Phoenix adalah kota yang tumbuh di padang pasir, dan selama puluhan tahun berjuang melawan panas ekstrem. Phoenix telah berhasil menurunkan suhu permukaan di beberapa area hingga lebih dari 7°C dengan menerapkan bahan-bahan reflektif pada permukaan jalan. Strategi ini dikombinasikan dengan program penanaman pohon di sepanjang jalan dan kebijakan atap dingin untuk bangunan baru.

Sebuah studi di PNAS mengevaluasi strategi adaptasi panas di tiga kota berbeda — Phoenix, Toronto, dan Miami — dan menemukan bahwa pepohonan di tepi jalan mampu mengurangi stres panas empat kali lebih efektif dibanding strategi infrastruktur lainnya. Di kota-kota tropis seperti Bali, di mana pejalan kaki dan pekerja outdoor adalah mayoritas, temuan ini sangat relevan.

Singapura: Kota Taman di Negara Kota

Singapura, dengan kepadatan penduduk yang ekstrem dan iklim tropis yang menyengat, menjawab tantangan panas dengan filosofi “kota dalam taman.” Di kota-kota padat seperti Singapura dan Kuala Lumpur, infrastruktur hijau — hutan kota, atap hijau, dan jaringan pepohonan di jalan — terbukti paling efektif, mampu menurunkan suhu udara hingga 2,6°C dan suhu permukaan hingga 11°C.

Singapura juga menjadi pelopor dalam regulasi keselamatan pekerja outdoor berkaitan dengan panas ekstrem, menggunakan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) untuk menentukan kapan pekerjaan luar ruangan harus dihentikan atau dimodifikasi — sebuah kebijakan yang sangat relevan untuk Bali, di mana pertanian dan konstruksi masih menjadi mata pencaharian utama bagi sebagian besar warganya (Eco-Business, 2025).

Ahmedabad, India: Rencana Aksi Panas Berbasis Komunitas

Kota Ahmedabad di India menjadi model dunia dalam respons kelembagaan terhadap gelombang panas. Setelah gelombang panas mematikan tahun 2010, kota ini mengembangkan Rencana Aksi Panas (Heat Action Plan) yang komprehensif, termasuk sistem peringatan dini, jaringan pusat pendingin publik, dan program cat putih untuk atap rumah. Di Ahmedabad, pemerintah kota bersama NGO mengecat putih atap 17.000 rumah untuk mengurangi akumulasi panas, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan.

Warisan Budaya Bali sebagai Senjata Mitigasi

Di sinilah Bali memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh banyak kota lain di dunia. Pulau ini adalah gudang kearifan lokal tentang hubungan manusia dengan alam yang telah teruji selama lebih dari satu milenium. Bukan sekadar tradisi estetis — ini adalah sistem adaptasi iklim yang embedded dalam budaya, spiritualitas, dan tata kelola komunitas.

Tri Hita Karana: Filsafat Hidup yang Melampaui Zamannya

Tri Hita Karana adalah kearifan lokal masyarakat Bali yang terdiri dari tiga pilar: Parahyangan (hubungan harmonis manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan harmonis antar sesama manusia), dan Palemahan (hubungan harmonis manusia dengan lingkungannya). Pilar ketiga — Palemahan — adalah yang paling langsung relevan dalam konteks krisis iklim.

Palemahan mengajarkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi, melainkan bagian sacred dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Melalui praktik-praktik keagamaan, budaya, dan tradisional, masyarakat Bali terlibat dalam upaya seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, dan pelestarian sumber air. Filosofi ini bukan abstraksi — ia diterapkan dalam tata kelola hutan desa, pemeliharaan mata air, dan pengaturan penggunaan lahan.

Di tengah ancaman El Niño Godzilla, revitalisasi Tri Hita Karana bisa menjadi kerangka etis dan sosial yang menggerakkan mobilisasi komunitas dalam skala yang tidak bisa dicapai oleh regulasi pemerintah semata.

Subak: Sistem Irigasi yang Diakui Dunia

Sistem subak di Bali diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada 2012, mencakup kawasan lebih dari 19.500 hektar di lima kabupaten. Sebagai kearifan lokal tentang praktik pertanian berkelanjutan dengan sistem climate smart agriculture (CSA), subak menjadi upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang terbukti efektif selama lebih dari seribu tahun.

Subak bukan sekadar teknik irigasi. Ia adalah sistem tata kelola air kolektif yang mengintegrasikan ritual keagamaan, kalender pertanian berbasis bulan, dan mekanisme pengambilan keputusan bersama. Subak dapat digambarkan sebagai kumpulan imam dan petani yang mengelola aliran air, volume, waktu, dan pola penanaman sesuai dengan kalender Hindu-Bali.

Namun sistem subak kini sedang dalam tekanan hebat. Sistem subak masih digunakan setiap desa di Bali, tetapi kini berhadapan dengan industri pariwisata yang menguras sumber air, sementara banyak sawah menghilang sebagai akibatnya. Di Jatiluwih, yang terkenal sebagai ikon subak dan destinasi wisata kelas dunia, petani terpaksa membeli air dari selatan karena mata air di pegunungan sudah mengering.

Menghadapi El Niño Godzilla, memulihkan dan memperkuat subak — bukan sekadar sebagai warisan wisata, tetapi sebagai sistem manajemen air yang fungsional — adalah kemendesakan strategis. Ini berarti membatasi ekstraksi air tanah oleh hotel dan vila, menegakkan regulasi yang selama ini diabaikan, dan mengembalikan otoritas subak atas pengelolaan sumber air.

Gotong Royong: Modal Sosial untuk Menghadapi Krisis

Filosofi gotong royong — kerja bersama tanpa pamrih — adalah fondasi dari subak itu sendiri. Dalam subak, ada prinsip “Paras-paros sarpa naya selulung subayan taka” — saling memberi dan menerima, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Prinsip ini adalah basis dari resiliensi komunitas terhadap bencana.

Ketika El Niño Godzilla memperparah kekeringan, gotong royong bisa diorganisir untuk membangun bak-bak penampungan air hujan komunal, membuat sumur bor bersama, menanam pohon di kawasan tangkapan air, dan mendirikan “pos pantau api” komunitas di desa-desa dekat kawasan hutan. Di sinilah budaya Bali memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh kota-kota modern yang lebih individualis.

Sad Kerthi: Enam Sumber Kehidupan yang Harus Dilindungi

Dalam visi pembangunan jangka panjang Bali 2025–2125, konsep Sad Kerthi menjadi panduan utama. Sad Kerthi merujuk pada enam sumber kehidupan yang harus dijaga kesucian dan kelestariannya: Atma Kerthi (jiwa), Jana Kerthi (manusia), Jagat Kerthi (alam semesta), Samudra Kerthi (laut), Danu Kerthi (danau dan sungai), dan Wana Kerthi (hutan). Dalam konteks El Niño Godzilla, Danu Kerthi dan Wana Kerthi adalah dua pilar yang paling mendesak untuk diwujudkan — pelestarian danau dan sungai sebagai sumber air, serta pelestarian hutan sebagai penyangga ekologis sekaligus benteng alami terhadap kebakaran.

Peta Jalan Adaptasi untuk Bali

Mengintegrasikan pelajaran dari kota-kota global dan kekuatan budaya lokal, berikut adalah langkah-langkah adaptasi konkret yang harus segera dijalankan Bali:

1. Reformasi Tata Kelola Air Segera

Bali membutuhkan moratorium atau pembatasan ketat ekstraksi air tanah oleh industri pariwisata, disertai penegakan sanksi yang nyata. Stroma Cole dari University of Westminster London telah berulang kali mendokumentasikan bahwa peraturan yang ada tidak ditegakkan, sehingga muka air tanah di beberapa area selatan Bali turun lebih dari 50 meter dalam kurang dari satu dekade (Cole, 2017). El Niño Godzilla tidak akan menunggu reformasi birokrasi yang lambat.

2. Infrastruktur Hijau Berbasis Komunitas

Mengadopsi model Medellín dengan menanam koridor pohon di sepanjang jalan-jalan utama Denpasar, Kuta, dan Ubud tidak hanya akan menurunkan suhu lokal, tetapi juga mengurangi kebutuhan pendingin udara, meningkatkan kenyamanan pejalan kaki, dan menjaga cadangan air tanah melalui evapotranspirasi. Dalam skala desa, setiap banjar bisa memimpin program reboisasi kawasan tangkapan air di sekitarnya — sebuah ekspresi modern dari Tri Hita Karana.

3. Sistem Peringatan Dini Kebakaran Terintegrasi

Studi menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran parah yang dipengaruhi El Niño sejak 1997 bisa diantisipasi menggunakan prediksi curah hujan dari model prakiraan cuaca musiman. Bali perlu memiliki sistem pemantauan titik api berbasis komunitas yang terkoneksi dengan data satelit BMKG, sehingga desa-desa di sekitar kawasan hutan bisa bertindak cepat sebelum api membesar.

4. Panen Air Hujan Skala Massal

Setiap bangunan — dari villa mewah hingga rumah tinggal — harus diwajibkan memasang sistem penampungan air hujan (rainwater harvesting). Ini adalah solusi paling sederhana, paling murah, dan paling efektif untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah. Di tengah musim kemarau El Niño, setiap liter air hujan yang tertampung adalah cadangan kehidupan yang berharga.

5. Revitalisasi Subak sebagai Sistem Manajemen Krisis

Subak harus dikembalikan perannya bukan hanya sebagai aset wisata warisan dunia, tetapi sebagai lembaga tata kelola air yang memiliki wewenang nyata. Pemerintah daerah harus mengalokasikan anggaran untuk memulihkan saluran irigasi yang rusak, memperkuat mata air di pegunungan melalui penghijauan, dan memberikan subak kekuatan hukum untuk membatasi penggunaan air komersial di wilayah catchment mereka.

Sampah, Polusi, dan Beban Berlapis

Bali menghadapi El Niño Godzilla bukan dengan kondisi lingkungan yang prima. Krisis sampah plastik yang sudah menjadi masalah kronik — terutama di pantai-pantai wisata dan sungai-sungai yang mengalir ke laut — akan semakin parah ketika debit air sungai menurun saat kemarau panjang. Plastik yang selama ini sedikit tersapu oleh aliran air akan menumpuk, menutup saluran irigasi, dan mencemari sumber-sumber air yang sudah berkurang.

Lebih jauh, kualitas udara di Bali berpotensi memburuk drastis jika kebakaran hutan dan lahan terjadi di wilayah sekitar. Wisatawan dan warga lokal akan terpapar asap berbahaya yang mengandung partikel PM2.5 — partikel ultrafine yang masuk jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah. Bagi destinasi wisata internasional seperti Bali, satu musim kebakaran yang buruk bisa menghapus citra pulau bersih yang dibangun selama puluhan tahun.

Ini adalah alasan mengapa persiapan menghadapi El Niño Godzilla tidak bisa dipisahkan dari penyelesaian masalah sampah, restorasi sungai, dan penghentian pembakaran lahan pertanian — sebuah praktik yang, meskipun kecil skalanya dibanding Kalimantan, tetap berbahaya dalam kondisi udara kering ekstrem.

Antara Monster dan Peluang

El Niño “Godzilla” yang berpotensi datang di paruh kedua 2026 dan menguat hingga 2027 adalah ancaman nyata yang tidak bisa diremehkan. Namun seperti semua krisis besar dalam sejarah, ia juga membawa peluang yang jarang hadir: peluang untuk merevolusi cara Bali mengelola air, menata ruang, dan membangun resiliensi komunitas.

Godzilla El Niño mengacu pada super El Niño, yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik dapat naik sekitar 2,5 derajat Celsius atau bahkan lebih di atas kenaikan suhu El Niño standar, dan fenomena ini biasanya berlangsung selama rata-rata sekitar satu tahun. Satu tahun memang terasa singkat. Namun dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama — dalam bentuk akuifer yang terkuras, hutan yang terbakar, sawah yang ditinggalkan petani, dan komunitas yang kehilangan kepercayaan pada masa depannya.

Bali memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Phoenix, Medellín, atau Singapura: sistem nilai dan filosofi hidup yang sudah lebih dari satu milenium mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam. Tri Hita Karana, Subak, Sad Kerthi, dan Gotong Royong bukan sekadar kata-kata indah di prasasti atau brosur wisata. Mereka adalah cetak biru ketahanan iklim yang lahir dari pengalaman ribu tahun menghadapi tantangan alam di pulau tropis.

Tantangannya adalah mengaktifkan kembali warisan ini — bukan sebagai museum, tetapi sebagai panduan hidup yang dinamis dan relevan. Itu adalah tugas kita bersama, sebelum Godzilla benar-benar tiba.

Daftar Pustaka

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). (2023). Pengaruh El Niño dan La Niña terhadap Curah Hujan di Indonesia. Jakarta: BMKG. https://cews.bmkg.go.id/enso-tentang.php

BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). (2025). Sejarah Kebakaran Hutan di Kalimantan dan Sumatera: Pembelajaran dalam Mitigasi Karhutla. Jakarta: BNPB. https://sejarah.dibi.bnpb.go.id

Cole, S. (2017). Water, Tourism and Equity: Case Study of Bali. University of the West of England / University of Westminster. Published in Annals of Tourism Research.

Eco-Business. (2025, June 19). Hot in the City. But It Doesn’t Have to Be – We Have Answers. Asia Pacific. https://www.eco-business.com

Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI-IAGI). (2021). Ancaman El Niño terhadap Potensi Kebakaran Hutan Indonesia di Masa Depan. https://fgmi.iagi.or.id

Good Tourism Blog. (2025, September 10). As Bali Runs Dry, Can Tourism Help Replenish Its Water? https://www.goodtourismblog.com

IPB University. (2026, April). “Godzilla” El Niño Predicted to Occur: An Explanation from an IPB University Lecturer (Sonni Setiawan). https://www.ipb.ac.id

Mongabay Indonesia. (2015, July 6). El Niño Datang, Indonesia Berisiko Alami Kebakaran Hutan Hebat. https://mongabay.co.id

Mongabay. (2026, April 15). Indonesia Braces for Possible ‘Godzilla El Niño’ as Fire Season Escalates Early. https://news.mongabay.com

Page, S. E., Siegert, F., Rieley, J. O., Boehm, H.-D. V., Jaya, A., & Limin, S. (2002). The amount of carbon released from peat and forest fires in Indonesia during 1997. Nature, 420(6911), 61–65.

Pantau Gambut. (2026). Laporan Hotspot Lahan Gambut Indonesia Januari–Maret 2026. Jakarta.

Relawan Nusantara. (2026, March 18). El Niño Godzilla 2026: Fenomena Iklim Raksasa yang Berpotensi Memicu Kekeringan dan Krisis Air. https://relawannusantara.org

Roundy, P. (2026). [Tweet mengenai potensi El Niño terkuat dalam 140 tahun]. University of Albany. Dikutip dalam Surfer Magazine (March 2026).

ScienceDirect / Discover Cities – Springer Nature. (2025). A Review of Adaptation Strategies to Increased Urban Temperatures and Heat Island Effect. https://link.springer.com/article/10.1007/s44327-025-00064-4

ScienceDirect. (2025). Cooling the Cities: A Comprehensive Review of Urban Heat Island Mitigation Strategies in Southeast Asia. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S3050607725000248

Setiawan, S. (2026). Penjelasan Fenomena “Godzilla El Niño” dan Kaitannya dengan Siklus Sunspot. Departemen Geofisika dan Meteorologi, IPB University.

Sudiadjeng, L., & IDEP Foundation. (2024). Presentasi Joint Research tentang Krisis Air di Bali: Kuantitas dan Kualitas. Bali Water Festival, 30 Juli 2024.

Syaufina, L. (2018). Kebakaran Hutan dan Lahan: Pengendalian dan Dampaknya. Bogor: IPB Press.

Tarubali / Pemprov Bali. (2025). Analisis Potensi dan Permasalahan Regional dan Global: Tantangan Alam, Manusia, dan Kebudayaan Bali ke Depan. Sistem Informasi Wilayah dan Tata Ruang Bali. https://tarubali.baliprov.go.id

UNESCO. (2012). Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy. World Heritage List. https://whc.unesco.org

Wesley, E., Mackres, E., Shickman, K., Anzilotti, E., & Palmieri, M. (2025). Cities Are Heating Up. Better Infrastructure Can Cool Them Down. World Resources Institute. https://www.wri.org

World Economic Forum. (2024, January 2). How Cities from Medellín to Düsseldorf Are Using Nature to Tackle Extreme Heat. https://www.weforum.org

World Meteorological Organization (WMO). (2026, March 3). ENSO Update: Transition from La Niña to ENSO-Neutral. Geneva.

Yuda, I.K. (2020). Perbandingan Dampak El Niño Kuat 2015/16 dan 1997/98 terhadap Curah Hujan di Provinsi Bali – Indonesia. Jurnal Meteorologi dan Geofisika. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/344732322

sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: cuaca ekstremelninogodzilla
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

No Content Available
Next Post
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia