• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, September 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Agar Kita Tak Serupa Sapi di Suwung

Dudik Mahendra by Dudik Mahendra
24 October 2014
in Kabar Baru, Opini, Sosial
0
0
sumber foto hoaxcitytravel.blogspot.com
sumber foto hoaxcitytravel.blogspot.com

Coretan ini dibuat setelah berjalan-jalan di TPA Suwung.

Masyarakat Bali kini sedang menghadapi perang besar. Satu kubu dimotori anak-anak muda dan barisan seniman sementara kubu lain dimodali pemodal besar. Perang ini dimulai dengan perang intelektual.

Perang kajian. Para pakar beradu data dan analisis. Hasilnya dipaksakan seri!!

Lalu perang spanduk dan baliho. Setiap presiden akan lewat spanduk dan baliho tolak reklamasi lenyap. Sementara spanduk dukung revitalisasi (nama baru reklamasi) tetap berdiri atau tertempel santai.

Kalau sebelumnya banyak baliho anti reklamasi robek, kemarin saya lihat salah satu baliho pro reklamasi di pertigaan buton sesetan sudah ada yang merobek.

Rupanya setelah cara-cara yang saru mencoba menghadang gerakan melawan reklamasi, sekarang, seperti ada gerakan untuk membenturkan massa anti reklamasi dengan pasukan yang mendukung reklamasi.

Jadi, mari waspada!!!! Jangan sampai kita menjadi sapi-sapi di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung.

Adanya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah imbas keserakahan pariwisata tak berkonsep di Bali ini. Go green slogannya tetapi faktanya mangrove dibabat, jalur hijau menghilang. Pariwisata berbasis pertanian organik dikampanyekan sementara izin kaveling tanah diobral, saluran subak diurug beton!

Katanya pariwisata budaya tetapi yang tumbuh dan berkembang adalah tari telanjang, kafe remang-remang!

Kalau kita tidak mulai berbenah sekarang maka tidak lama lagi kita semua akan berakhir seperti sapi-sapi di TPA Suwung. Hidup di atas tumpukan sampah, mencari makan di sampah. Berjalan di atas rerumputan adalah cerita masa lalu.

Memamah rumput dan dedaunan hanya ilusi.

Kelak orang-orang Bali yang tidak berani meninggalkan sanggah kemulan akan hidup di antara sisa-sisa vila yang tidak diperpanjang kontrakannya. Berjalan di antara hotel-hotel tanpa penghuni dan menonton cekikikan cewek-cewek kafe yang menunggu teman berbagi HIV menuju kematian.

Karena tidak ada lagi alam Bali yang bisa dibanggakan, semua telah disulap agar seperti Vanice, seperti Dubai, Seperti Las Vegas, seperti Pattaya… Semua buatan. Bukan lagi natural.

Maka tidak ada lagi touris yang datang. Karena mereka sudah memilikinya sendiri. Kenapa mencari yang sama jauh-jauh?

Maka tinggalah I Wayan, Made dan Nyoman menatapi bekas hotel-hotel mewah, bangkai-bangkai mobil di pinggir jalan dan bangku kayu lapuk berjajar di pinggir pantai. Mereka tidak bisa lagi mengadu ke pura, mereka tidak lagi ingat cara membuat canang karena sekarang ini semua telah berubah.

Semua agama, semua dewa dan semua ritual hanya boleh ada untuk pariwisata. Dan, pembanguanan kalau sudah atas nama pariwisata maka semuanya harus siap, suka-atau tidak, dikorbankan. [b]

Tags: BaliBudayaOpiniPariwisataSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dudik Mahendra

Dudik Mahendra

Seorang bapak dari tiga anak yang baik. Pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Warga Banjar Tengah Sesetan, Denpasar.

Related Posts

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Next Post
Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima

Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Setahun Banjir dan Meruwat Bali

8 September 2026
Apakah Rp59 miliar Terlalu Mahal untuk Memastikan Warga Bali tetap Memiliki Transum?

Apakah Rp59 miliar Terlalu Mahal untuk Memastikan Warga Bali tetap Memiliki Transum?

7 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia