• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, February 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Agar Kita Tak Serupa Sapi di Suwung

Dudik Mahendra by Dudik Mahendra
24 October 2014
in Kabar Baru, Opini, Sosial
0
0
sumber foto hoaxcitytravel.blogspot.com
sumber foto hoaxcitytravel.blogspot.com

Coretan ini dibuat setelah berjalan-jalan di TPA Suwung.

Masyarakat Bali kini sedang menghadapi perang besar. Satu kubu dimotori anak-anak muda dan barisan seniman sementara kubu lain dimodali pemodal besar. Perang ini dimulai dengan perang intelektual.

Perang kajian. Para pakar beradu data dan analisis. Hasilnya dipaksakan seri!!

Lalu perang spanduk dan baliho. Setiap presiden akan lewat spanduk dan baliho tolak reklamasi lenyap. Sementara spanduk dukung revitalisasi (nama baru reklamasi) tetap berdiri atau tertempel santai.

Kalau sebelumnya banyak baliho anti reklamasi robek, kemarin saya lihat salah satu baliho pro reklamasi di pertigaan buton sesetan sudah ada yang merobek.

Rupanya setelah cara-cara yang saru mencoba menghadang gerakan melawan reklamasi, sekarang, seperti ada gerakan untuk membenturkan massa anti reklamasi dengan pasukan yang mendukung reklamasi.

Jadi, mari waspada!!!! Jangan sampai kita menjadi sapi-sapi di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung.

Adanya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah imbas keserakahan pariwisata tak berkonsep di Bali ini. Go green slogannya tetapi faktanya mangrove dibabat, jalur hijau menghilang. Pariwisata berbasis pertanian organik dikampanyekan sementara izin kaveling tanah diobral, saluran subak diurug beton!

Katanya pariwisata budaya tetapi yang tumbuh dan berkembang adalah tari telanjang, kafe remang-remang!

Kalau kita tidak mulai berbenah sekarang maka tidak lama lagi kita semua akan berakhir seperti sapi-sapi di TPA Suwung. Hidup di atas tumpukan sampah, mencari makan di sampah. Berjalan di atas rerumputan adalah cerita masa lalu.

Memamah rumput dan dedaunan hanya ilusi.

Kelak orang-orang Bali yang tidak berani meninggalkan sanggah kemulan akan hidup di antara sisa-sisa vila yang tidak diperpanjang kontrakannya. Berjalan di antara hotel-hotel tanpa penghuni dan menonton cekikikan cewek-cewek kafe yang menunggu teman berbagi HIV menuju kematian.

Karena tidak ada lagi alam Bali yang bisa dibanggakan, semua telah disulap agar seperti Vanice, seperti Dubai, Seperti Las Vegas, seperti Pattaya… Semua buatan. Bukan lagi natural.

Maka tidak ada lagi touris yang datang. Karena mereka sudah memilikinya sendiri. Kenapa mencari yang sama jauh-jauh?

Maka tinggalah I Wayan, Made dan Nyoman menatapi bekas hotel-hotel mewah, bangkai-bangkai mobil di pinggir jalan dan bangku kayu lapuk berjajar di pinggir pantai. Mereka tidak bisa lagi mengadu ke pura, mereka tidak lagi ingat cara membuat canang karena sekarang ini semua telah berubah.

Semua agama, semua dewa dan semua ritual hanya boleh ada untuk pariwisata. Dan, pembanguanan kalau sudah atas nama pariwisata maka semuanya harus siap, suka-atau tidak, dikorbankan. [b]

Tags: BaliBudayaOpiniPariwisataSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dudik Mahendra

Dudik Mahendra

Seorang bapak dari tiga anak yang baik. Pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Warga Banjar Tengah Sesetan, Denpasar.

Related Posts

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

Udara Bersih saat G20, setelah itu Polusi kembali

11 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Next Post
Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima

Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia