• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Membangun Tinggi untuk Selamatkan Bali

I Dewa Gede Putra by I Dewa Gede Putra
16 December 2011
in Berita Utama, Kabar Baru, Opini
0
8

Di wilayah lain mungkin bangunan tinggi sangat mudah diterima oleh masyarakat.

Namun, dalam proses pembangunan di Bali ada suatu tradisi dan aturan sejak dulu. Aturan dalam bungkus budaya Bali tersebut tidak mengapresiasi hadirnya bangunan tinggi di Bali.

Budaya dan pemahaman inilah yang sangat berakar pada sebagian besar pemikiran masyarakat Bali. Masyarakat Bali selalu berusaha mempertahankan apa yang diwarisi dari dulu karena memang merasa masih nyaman dan relevan dalam tatanan ruang kita.

Sekarang sebagian besar masyarakat di Bali agak enggan membicarakan wacana bangunan tinggi sebagai alternatif keterbatasan lahan di Bali. Namun jarang sekali ada solusi utuk masalah keterbatasan lahan ini. Padahal, kenyataannya, sekarang justru pembangunan selalu ke arah horisontal sehingga melahap lahan-lahan produktif untuk dibangun.

Lalu apakah kita tidak akan menyisakan lahan pertanian dan lahan hijau untuk kepentingan pertanian dan keseimbangan lingkungan?

Pada dasarnya mungkin masyarakat Bali tidak ingin merusak tatanan ruang dan arsitektur yang kita warisi hingga saat ini. Namun, di sisi lain tidak ada upaya untuk memberikan solusi terhadap permasalahan kebutuhan ruang kini.

Siapakah yang akan merusak tatanan ruang Bali, pembangunan ke arah samping (horisontal) ini ataukah pembangunan bangunan tinggi (vertikal)? Saya kira pada kondisi riil, pembangunan horisontal justru lebih merusak. Diperlukan waktu tidak sebentar memang untuk memahami bahwa perubahan itu selalu terjadi. Namun, harus diyakini bersama bahwa perubahan itu harus lebih baik.

Dalam hal kebutuhan ruang di kota dan pusat pariwisata, saya kira bangunan tinggi layak untuk dikaji secara lebih mendalam mengenai dampak lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya. Demikian pula lahan yang tidak produktif sangat layak dijadikan bahan pemikiran bersama.

Mengurangi pembangunan horisontal dan diarahkan ke vertikal akan memberikan ruang hijau, ruang publik, dan ruang pertanian produktif.

Pernyataan ini benar jika pemerintah mampu menerapkan aturan dan menegakkan aturan yang pasti dan jelas, mana zona yang boleh ada bangunan tinggi dan tidak. Hal ini agar jangan sampai menjadi celah investor untuk membanguan bangunan tinggi di mana-mana. Hal ini yang tentu tidak diinginkan bersama apalgi dikaitkan dengan mengganggu kesucian pura, dan daerah sakral lainnya.

Pada akhirnya kita sendirilah yang akan menentukan jalan kita dan generasi mendatang apakah kita akan membiarkan kerusakan dari dalam yang kita sadari atau berusaha untuk sedikit demi sedikit mempelajari pemahaman baru untuk menghadapi permasalahan ruang yang semakin kompleks.

Sebelum terjadi kerusakan yang parah, dengan pembangunan horisontal yang terus berlangsung, setidaknya kita harus menentukan pilihan. Mudah-mudahan masyarakat Bali memberikan apresiasi pembangunan vertikal (bangunan tinggi) di Bali sebagai alternatif kebutuhan akan ruang. [b]

Tags: ArsitekturBaliOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Dewa Gede Putra

I Dewa Gede Putra

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Next Post
Serangan, Dari Berperahu Hingga Taman Air

Serangan, Dari Berperahu Hingga Taman Air

Comments 8

  1. ketut simpen says:
    14 years ago

    Dengan sistem pembangunan horisontal saudara” kita dari Jawa mesti membeli lahan yg lebih banyak untuk tempat tinggal. Ini akan menggairahkan bisnis tanah. Masuk akal juga

    Reply
  2. ketut simpen says:
    14 years ago

    Perlu dikaji kedepan arstikektur traditional Bali untuk pemukiman bawah laut. Atau setidaknya bawaha tanah apabila pembangunan sistem vertical tidak sesuai dg adat istiadat Bali

    Reply
  3. I Dewa Gede Putra says:
    14 years ago

    Setdkny mari berikan ruang untuk dikaji dulu.. Sebelumny masyarakat bali ‘asing dgn bangunan tinggi, kini hampir terbiasa dengn bngunan maks 4 lantai. Dalam mnghadpi prmasalhan lahan n lingkungan k depan, bgnunan tinggi mngkn slah satu altrntif diantra bnyak altrnatif lainnya, namun skali lgi mesti melalui kajian yg matang trkait, ekonomi, sosial budaya, lingkungan. dan jika hari ini trlalu dini untk mnytujui bngunan tinggi, mari stdaknya optimalkan bngunan 4 lantai saja (sesuai aturan) pada titik kwasan trtentu, agar lahan terbuka, hijau, mendapat ruang yg lebih luas untuk brnafas dan dihormati sebgai Ibu(pertiwi)

    Reply
  4. pramgil says:
    14 years ago

    Kita semua tahu bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah biasanya hanya berlaku 5-10 tahun ke depan padahal ada kemungkinan lebih baik dibuat untuk jangka waktu yang lebih lama. Tentu saja dengan kajian yang mendalam dan menyeluruh. Kalau dalam kasus Bali ini, mengapa harus menyerah pada pendekatan developmentalisme sementara kita mesti mengorbankan akar budaya yang sudah susah-susah dijaga dan menjadi nilai tambah bagi Bali. Jika bangunan tinggi satu-satunya solusi, tekanan fisik bangunan terhadap tanah itu pun tetap akan membawa dampak bagi ekologi. Tidak mau seperti “Jakarta tengelam”, kan? artinya tetap mesti ada batasan-batasan yg ketat.

    Reply
  5. wisata di bali says:
    14 years ago

    kita tidak bisa menutup mata dengan situasi yang berkembang kedepan. bersama2 kita mencari solusi kita dan generasi mendatang. Asal jangan ego saja. shanti !

    Reply
  6. gustulang says:
    14 years ago

    Disebutkan “kebutuhan ruang” kebutuhan ruang untuk siapa? warga bali? investor? wisatawan? atau siapa? Bisa dijelaskan oleh penulis?

    Analisis kasar, hanya orang yg uangnya berkelimpahan yg bisa membangun bangunan tinggi dan tentu saja bukan masyarakat kelas menengah dan bawah.

    Saya pribadi menolak pembangunan bangunan tinggi (kecuali bangunan khusus sesuai perda RTRW). Apa ada yg menjamin? Jika diperbolehkan bangunan tinggi (vertikal) tidak akan terjadi pembangunan kesamping (horisontal)?

    Reply
  7. I Dewa Gede Putra says:
    14 years ago

    tulisan ini sdh prnh trbit d rubrik suara hati balipst,,blan lalu.. dgn jdul bangunan tinggi perlu kajian komprehensif. Dblebngong jg tiang krim, diedit olh editor, jdulny mnjdi lbih unik.
    ini hanya ungkpan hati, kmbali pada tulisan di atas, mnrut tiang,Bangunan tinggi layak untuk dikaji secara lebih mendalam mengenai dampak lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya. Demikian pula lahan yang tidak produktif layak dijadikan bahan pemikiran bersama.Mengurangi pembangunan horisontal dan diarahkan ke vertikal akan memberikan ruang hijau, ruang publik, dan ruang pertanian produktif.
    Pernyataan ini benar jika pemerintah mampu menerapkan aturan dan menegakkan aturan yang pasti dan jelas, mana zona yang boleh ada bangunan tinggi dan tidak.
    Kalo mnrt bli gustulang ditolak, sperti ap kra2 pntaan ruang bali yg diingnkan? yaa kalo mmng smuany mnolk, stdakny MAri Optimalkan bngunan 4 lantai (sesuai aturan). cntoh kalo sja kwasan dgang hape t umar smua brlantai 4, shrsnya ada ruang parkir yg lbih luas, tman yg lbih hijau dsb dsana.. mwujudkn yg baik mmng tdak mudah, kn perlu dkungn smua phak
    suksma perhatiaanya…

    Reply
  8. dewa ari yudha says:
    14 years ago

    wisatawan datang ke Bali kan untuk melihat dan menikmati alam serta isinya, adat istiadat, dan juga budaya, kalau bangunan tinggi dibali di setujui, wisatawan gak perlu datang kebali untuk melihat itu, dinegara meraka bnyak ada gedung2 tinggi dan lebih canggih,

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

13 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia