• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
26 September 2011
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Wacana seputar tradisi, modern dan kontemporer masih kerap diperdebatkan banyak kalangan.

Tak cuma ‘mempermasalahkan’ definisi ketiga terminologi tersebut, para kritikus juga mengaitkannya dengan berbagai hal di masa kini, baik dalam konteks sosial, politik, maupun seni budaya. Hal ini pun mengemuka dalam Akademika Bentara, diskusi bertajuk “Local Knowledge” Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer. Diskusi digelar di Bentara Budaya Bali, Minggu 25 September 2011 sore lalu.

Tiga pembicara yang hadir adalah I Wayan Seriyoga Parta, M.sn, Drs. I Wayan Kondra M.Si dan I Wayan Sudiarta, Spd. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pameran seni rupa menampilkan karya-karya para seniman yang berproses secara otodidak dan beranjak dari bahasa rupa tradisi Bali.

Diskusi ini sendiri merupakan pemaknaan dari pameran seni rupa ‘Local Knowledge’ yang dibuka hingga Selasa 4 Oktober 2011 mendatang di BBB, Jalan Prof. IB Mantra No 88 A, Ketewel.

Seriyoga dalam paparan awalnya menyatakan bahwa eksplorasi seniman-seniman tersebut meski berawal dari ‘wilayah kolektif’ ternyata mengandung nilai individualitas kuat. Penggalian secara ‘pribadi’ ini sendiri adalah salah satu ciri dari modernitas.

Hal tersebut dipertegas pula oleh Sudiarta. Menurutnya, dewasa ini rekonstruksi tradisi bukan hal baru lagi. Dengan berbagai kepentingan, tentunya selain motif pariwisata budaya, tradisi dikonstruksi ulang untuk keperluan masa kini, termasuk dalam ranah seni rupa.

“Sayangnya, karya-karya rupa yang bertolak dari tradisi seringkali kurang mendapat apresiasi, padahal seni rupa kontemporer membuka peluang besar untuk mereka,” tuturnya.

Dari pembahasan tersebut, sejumlah peserta yang terdiri dari pelajar, seniman, budayawan, dan masyarakat umum lainnya mengajukan beberapa argumen yang memperkaya diskusi. Suklu, misalnya. Perupa Bali ini berpendapat bahwa pembicaraan soal tradisi, modern, dan kontemporer baiknya dimulai dulu dengan menjelaskan batasan yang jelas antara ketiganya. Wayan “Jengki” Sunarta menambahkan bahwa penjelasan definisi menjadi dasar penting guna menelaah wacana lebih luas.

Sementara itu, Jean Couteau, budayawan dan kritikus seni rupa asal Perancis, menyampaikan apresiasinya kepada Wayan Sadha, pencipta karikatur Sompret. Melalui kisah dan tokoh dalam gambarnya, Sadha sanggup mewakili suara rakyat kecil di Bali.

“Ini sikap yang sangat modern,” kata Jean Couteau menanggapi karya Sadha yang juga ditampilkan dalam pameran. Ia menambahkan, bahwa untuk mencari definisi dari tradisi dalam seni rupa, dapat ditelaah dari segi bentuk dan tematis suatu karya.

Lalu, bagaimanakah jelasnya reposisi bahasa rupa tradisi, khususnya tradisi Bali, dalam ranah seni rupa kontemporer?

Seriyoga Parta, yang juga kurator pameran, mengatakan seni yang beranjak dari tradisi, semangatnya bukan mengejar penemuan bentuk dengan tema besar yakni menjadikan “diri sebagai pusat” sebagaimana seni rupa modern ala Barat. Seni tradisi merupakan bagian dari kekuatan lebih besar yang bersifat transeden. Bila seni rupa modern di Barat mengenal adanya perspektif dalam karya-karya lukisnya, seni rupa tradisi atau yang beranjak dari tradisi Bali, dapat mengabaikannya. Hal ini tercermin dari penonjolan bentuk-bentuk tertentu yang keluar dari kaidah perspektif ala Barat dan penggambaran objek secara berulang.

Adapun Kondra pada akhirnya menyampaikan pentingnya perubahan paradigma khususnya di kalangan seniman. Bahwa menjadi perupa tradisi atau yang dikait-kaitkan dengan tradisi (meski karyanya sudah termasuk kontemporer) bukanlah sesuatu yang mesti ditanggapi dengan inferioritas.

Posisi karya seni yang beranjak dari tradisi dalam wacana seni rupa kontemporer tetap diakui. Sebab, ia hadir dengan tema-tema yang sesungguhnya sangat kontekstual. Walau demikian, Jean Couteau dan moderator mengatakan pendapat yang semakna, bahwa teknik-teknik yang bersifat tradisi, bagaimanapun juga, harus tetap dipertahankan, tetapi jangan sampai berhenti jadi kerajinan semata. [b]

Artikel dan foto dari Bentara Budaya Bali.

Tags: AgendaBaliDiskusiSeni Rupa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Next Post
TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng

TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia