• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, July 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
26 September 2011
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Wacana seputar tradisi, modern dan kontemporer masih kerap diperdebatkan banyak kalangan.

Tak cuma ‘mempermasalahkan’ definisi ketiga terminologi tersebut, para kritikus juga mengaitkannya dengan berbagai hal di masa kini, baik dalam konteks sosial, politik, maupun seni budaya. Hal ini pun mengemuka dalam Akademika Bentara, diskusi bertajuk “Local Knowledge” Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer. Diskusi digelar di Bentara Budaya Bali, Minggu 25 September 2011 sore lalu.

Tiga pembicara yang hadir adalah I Wayan Seriyoga Parta, M.sn, Drs. I Wayan Kondra M.Si dan I Wayan Sudiarta, Spd. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pameran seni rupa menampilkan karya-karya para seniman yang berproses secara otodidak dan beranjak dari bahasa rupa tradisi Bali.

Diskusi ini sendiri merupakan pemaknaan dari pameran seni rupa ‘Local Knowledge’ yang dibuka hingga Selasa 4 Oktober 2011 mendatang di BBB, Jalan Prof. IB Mantra No 88 A, Ketewel.

Seriyoga dalam paparan awalnya menyatakan bahwa eksplorasi seniman-seniman tersebut meski berawal dari ‘wilayah kolektif’ ternyata mengandung nilai individualitas kuat. Penggalian secara ‘pribadi’ ini sendiri adalah salah satu ciri dari modernitas.

Hal tersebut dipertegas pula oleh Sudiarta. Menurutnya, dewasa ini rekonstruksi tradisi bukan hal baru lagi. Dengan berbagai kepentingan, tentunya selain motif pariwisata budaya, tradisi dikonstruksi ulang untuk keperluan masa kini, termasuk dalam ranah seni rupa.

“Sayangnya, karya-karya rupa yang bertolak dari tradisi seringkali kurang mendapat apresiasi, padahal seni rupa kontemporer membuka peluang besar untuk mereka,” tuturnya.

Dari pembahasan tersebut, sejumlah peserta yang terdiri dari pelajar, seniman, budayawan, dan masyarakat umum lainnya mengajukan beberapa argumen yang memperkaya diskusi. Suklu, misalnya. Perupa Bali ini berpendapat bahwa pembicaraan soal tradisi, modern, dan kontemporer baiknya dimulai dulu dengan menjelaskan batasan yang jelas antara ketiganya. Wayan “Jengki” Sunarta menambahkan bahwa penjelasan definisi menjadi dasar penting guna menelaah wacana lebih luas.

Sementara itu, Jean Couteau, budayawan dan kritikus seni rupa asal Perancis, menyampaikan apresiasinya kepada Wayan Sadha, pencipta karikatur Sompret. Melalui kisah dan tokoh dalam gambarnya, Sadha sanggup mewakili suara rakyat kecil di Bali.

“Ini sikap yang sangat modern,” kata Jean Couteau menanggapi karya Sadha yang juga ditampilkan dalam pameran. Ia menambahkan, bahwa untuk mencari definisi dari tradisi dalam seni rupa, dapat ditelaah dari segi bentuk dan tematis suatu karya.

Lalu, bagaimanakah jelasnya reposisi bahasa rupa tradisi, khususnya tradisi Bali, dalam ranah seni rupa kontemporer?

Seriyoga Parta, yang juga kurator pameran, mengatakan seni yang beranjak dari tradisi, semangatnya bukan mengejar penemuan bentuk dengan tema besar yakni menjadikan “diri sebagai pusat” sebagaimana seni rupa modern ala Barat. Seni tradisi merupakan bagian dari kekuatan lebih besar yang bersifat transeden. Bila seni rupa modern di Barat mengenal adanya perspektif dalam karya-karya lukisnya, seni rupa tradisi atau yang beranjak dari tradisi Bali, dapat mengabaikannya. Hal ini tercermin dari penonjolan bentuk-bentuk tertentu yang keluar dari kaidah perspektif ala Barat dan penggambaran objek secara berulang.

Adapun Kondra pada akhirnya menyampaikan pentingnya perubahan paradigma khususnya di kalangan seniman. Bahwa menjadi perupa tradisi atau yang dikait-kaitkan dengan tradisi (meski karyanya sudah termasuk kontemporer) bukanlah sesuatu yang mesti ditanggapi dengan inferioritas.

Posisi karya seni yang beranjak dari tradisi dalam wacana seni rupa kontemporer tetap diakui. Sebab, ia hadir dengan tema-tema yang sesungguhnya sangat kontekstual. Walau demikian, Jean Couteau dan moderator mengatakan pendapat yang semakna, bahwa teknik-teknik yang bersifat tradisi, bagaimanapun juga, harus tetap dipertahankan, tetapi jangan sampai berhenti jadi kerajinan semata. [b]

Artikel dan foto dari Bentara Budaya Bali.

Tags: AgendaBaliDiskusiSeni Rupa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

15 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Next Post
TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng

TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Kota Makin Padat dan Tanah yang Kian Sulit Dijangkau

6 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Penganugerahan Olimpiade Jurnalis Muda Pertama di Indonesia di AJW 2026

Penganugerahan Olimpiade Jurnalis Muda Pertama di Indonesia di AJW 2026

5 July 2026
Anak Muda dan Peristiwa 65: Tidak Seperti di Buku Pelajaran dan Study Tour

Romantisme Pulang: Kisah Kelam 1965 yang Tersensor

4 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia