• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
26 September 2011
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Wacana seputar tradisi, modern dan kontemporer masih kerap diperdebatkan banyak kalangan.

Tak cuma ‘mempermasalahkan’ definisi ketiga terminologi tersebut, para kritikus juga mengaitkannya dengan berbagai hal di masa kini, baik dalam konteks sosial, politik, maupun seni budaya. Hal ini pun mengemuka dalam Akademika Bentara, diskusi bertajuk “Local Knowledge” Reposisi Bahasa Rupa Tradisi Bali dalam Wacana Seni Rupa Kontemporer. Diskusi digelar di Bentara Budaya Bali, Minggu 25 September 2011 sore lalu.

Tiga pembicara yang hadir adalah I Wayan Seriyoga Parta, M.sn, Drs. I Wayan Kondra M.Si dan I Wayan Sudiarta, Spd. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pameran seni rupa menampilkan karya-karya para seniman yang berproses secara otodidak dan beranjak dari bahasa rupa tradisi Bali.

Diskusi ini sendiri merupakan pemaknaan dari pameran seni rupa ‘Local Knowledge’ yang dibuka hingga Selasa 4 Oktober 2011 mendatang di BBB, Jalan Prof. IB Mantra No 88 A, Ketewel.

Seriyoga dalam paparan awalnya menyatakan bahwa eksplorasi seniman-seniman tersebut meski berawal dari ‘wilayah kolektif’ ternyata mengandung nilai individualitas kuat. Penggalian secara ‘pribadi’ ini sendiri adalah salah satu ciri dari modernitas.

Hal tersebut dipertegas pula oleh Sudiarta. Menurutnya, dewasa ini rekonstruksi tradisi bukan hal baru lagi. Dengan berbagai kepentingan, tentunya selain motif pariwisata budaya, tradisi dikonstruksi ulang untuk keperluan masa kini, termasuk dalam ranah seni rupa.

“Sayangnya, karya-karya rupa yang bertolak dari tradisi seringkali kurang mendapat apresiasi, padahal seni rupa kontemporer membuka peluang besar untuk mereka,” tuturnya.

Dari pembahasan tersebut, sejumlah peserta yang terdiri dari pelajar, seniman, budayawan, dan masyarakat umum lainnya mengajukan beberapa argumen yang memperkaya diskusi. Suklu, misalnya. Perupa Bali ini berpendapat bahwa pembicaraan soal tradisi, modern, dan kontemporer baiknya dimulai dulu dengan menjelaskan batasan yang jelas antara ketiganya. Wayan “Jengki” Sunarta menambahkan bahwa penjelasan definisi menjadi dasar penting guna menelaah wacana lebih luas.

Sementara itu, Jean Couteau, budayawan dan kritikus seni rupa asal Perancis, menyampaikan apresiasinya kepada Wayan Sadha, pencipta karikatur Sompret. Melalui kisah dan tokoh dalam gambarnya, Sadha sanggup mewakili suara rakyat kecil di Bali.

“Ini sikap yang sangat modern,” kata Jean Couteau menanggapi karya Sadha yang juga ditampilkan dalam pameran. Ia menambahkan, bahwa untuk mencari definisi dari tradisi dalam seni rupa, dapat ditelaah dari segi bentuk dan tematis suatu karya.

Lalu, bagaimanakah jelasnya reposisi bahasa rupa tradisi, khususnya tradisi Bali, dalam ranah seni rupa kontemporer?

Seriyoga Parta, yang juga kurator pameran, mengatakan seni yang beranjak dari tradisi, semangatnya bukan mengejar penemuan bentuk dengan tema besar yakni menjadikan “diri sebagai pusat” sebagaimana seni rupa modern ala Barat. Seni tradisi merupakan bagian dari kekuatan lebih besar yang bersifat transeden. Bila seni rupa modern di Barat mengenal adanya perspektif dalam karya-karya lukisnya, seni rupa tradisi atau yang beranjak dari tradisi Bali, dapat mengabaikannya. Hal ini tercermin dari penonjolan bentuk-bentuk tertentu yang keluar dari kaidah perspektif ala Barat dan penggambaran objek secara berulang.

Adapun Kondra pada akhirnya menyampaikan pentingnya perubahan paradigma khususnya di kalangan seniman. Bahwa menjadi perupa tradisi atau yang dikait-kaitkan dengan tradisi (meski karyanya sudah termasuk kontemporer) bukanlah sesuatu yang mesti ditanggapi dengan inferioritas.

Posisi karya seni yang beranjak dari tradisi dalam wacana seni rupa kontemporer tetap diakui. Sebab, ia hadir dengan tema-tema yang sesungguhnya sangat kontekstual. Walau demikian, Jean Couteau dan moderator mengatakan pendapat yang semakna, bahwa teknik-teknik yang bersifat tradisi, bagaimanapun juga, harus tetap dipertahankan, tetapi jangan sampai berhenti jadi kerajinan semata. [b]

Artikel dan foto dari Bentara Budaya Bali.

Tags: AgendaBaliDiskusiSeni Rupa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

27 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng

TANTRI, Kekuatan Sebuah Dongeng

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia