
Oleh: Bandem Kamandalu
Seorang wanita sedang tertidur beralaskan pasir hitam di depan gubuk garam miliknya. Suara langkah kaki saya yang hendak menuju ke arah tanggul penahan ombak sontak membuatnya terjaga. Ketut Seringkik (52) kemudian mengarahkan “lewat driki gen pak (lewat ke sini saja pak),” menyuruh saya lewat di depan gubuknya.

Tanggul penahan ombak setinggi kurang lebih 2 sampai 3,5 meter berada tepat di depan gubuk garam Seringkik. Menjulang seperti benteng pertahanan. Struktur ini dibangun memanjang dari pesisir Pantai Sidayu sampai Kusamba (termasuk wilayah Karangnadi dan Bekutuh) pada tahun 2022.
Dari atas tanggul sudah tidak terlihat lagi garis pantai di depannya. Hanya ombak yang terus menerus menghantam batu-batu penyusun tanggul.
Ketut Seringkik ternyata masih menunggu di depan gubuknya, saya pun kembali menghampiri. “Sebelumne ked dije pasihe buk? (Sebelumnya sampai di mana garis pantainya bu?),” tanya saya. “Nak joh kelod pak (Itu jauh di selatan pak),” ujarnya singkat sembari tangannya menunjuk ke arah tanggul memberi isyarat bahwa dulu garis pantai masih jauh di selatan.


Menurut Seringkik saya datang di waktu yang relatif aman. “Lamun ombake cerik dados lewat driki (Kalau ombaknya kecil bisa lewat ke sini),” tuturnya. Namun jika ombak sedang besar, maka jangan harap bisa berjalan dari daerah Pantai Monggalan ke area pembuatan garam.
“Lamun gede ombake nak joh kaja, to umah anak e gen nyag-nyag (Kalau ombaknya besar bisa sampai di utara, itu rumah orang saja sudah rusak),” sorot matanya menatap sebuah vila lengkap dengan kolam renang yang sudah ambruk dihantam ganasnya ombak.


Jika ombak sedang besar dan tinggi tanggul yang membentengi ini pun tidak bisa menghalau. Seringkik juga bilang kalau pembangunan tanggul akan dilanjut sampai ke arah timur di Pantai Monggalan pada tahun 2027 mendatang. Namun ia khawatir pembangunan itu sulit dilakukan.
“Engken carane nyenderin nak sube teked kaja pasihe? Keweh, men pidan kan nak ye joh kelod pasihe (Bagaimana caranya membuat senderan/talud karena sekarang pantainya sudah sampai di utara? Susah, kalau dulu kan pantainya masih di selatan),” terangnya pada saya.
Kian Tergerus
Dinamika perubahan garis pantai di kawasan Klungkung pernah diteliti oleh Jesikapna Callia Br Guru Singa dkk. tahun 2023. Penelitian berjudul Deteksi Perubahan Garis Pantai Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 di Kabupaten Klungkung, Bali memuat dua hal yang mengakibatkan terjadinya pergerakan garis pantai. Dua hal itu adalah akresi (proses penambahan material) dan abrasi (proses pengikisan material) dalam hal ini adalah pasir pantai.
Penelitian itu melakukan perbandingan dari rentang tahun 2015 hingga 2020 di sepanjang garis pantai Kabupaten Klungkung, termasuk kawasan Pantai Kusamba, tempat dimana Seringkik dan petani garam lainnya menggantungkan hidup.
Hasil penelitian itu bilang, meskipun ada dua arah perubahan (erosi dan akresi), secara keseluruhan laju perubahan garis pantai di Desa Kusamba adalah 0,7019 m/tahun bersifat erosi. Itu artinya secara net/rata-rata keseluruhan, kecenderungan abrasi lebih condong terlihat daripada akresinya.

Tidak hanya kawasan Kusamba, 5 desa lain yakni Takmung, Satra, Tojan, Tangkas, dan Gunaksa juga punya kecenderungan yang sama.
Menurut Oka Agastya seorang geolog yang aktif menulis isu-isu lingkungan, hal ini terjadi bukan saja semata perkara ombak (alam). “Simplifikasi bahwa ini “hanya karena ombak besar” sangatlah keliru. Ada konvergensi antara disrupsi alam berskala global dan kesalahan tata ruang lokal,” tulisnya pada artikel yang terbit di laman Balebengong.id.
Perubahan iklim jadi bagian dari rantai itu. Dilansir dari artikel yang ditulis M Naufal dkk., (2020), diketahui bahwa pemanasan global juga turut andil dalam meningkatkan intensitas hidrodinamika. Pasalnya peningkatan itu berdampak pada kecepatan angin yang secara praktis diikuti dengan gelombang tinggi.
Daya Upaya
Pembuatan tanggul untuk sementara ini masih dapat menghadang laju pergeseran air ke arah daratan (tempat pembuatan garam). Namun, tak bisa dipungkiri beberapa bagiannya sudah mulai tergerus dan ambrol.
Rasanya mustahil apabila hanya mengandalkan tanggul itu sebagai garda pertahanan. Hal itu tersirat dari apa yang diceritakan Seringkik sore itu. “Lewat, bah gede ombake nak duuran kin kap e ne kene. Saking tegehne aduh, nguwer keto (Lewat, aduh ombaknya besar sampai rangka atap ini kena. Saking tingginya aduh nguwer (menirukan gelombang air) begitu)”.

Oka Agastya dalam artikel yang sama menulis, penggunaan beton adalah solusi sementara. Solusi ini ia ibaratkan seperti “meminum obat pereda nyeri tanpa menyembuhkan penyakitnya.”. Maka ia juga memberi beberapa jalan keluar yang bisa diterapkan dan diupayakan.
Ia membaginya menjadi beberapa hal, untuk jangka pendek hal yang dapat dilakukan khususnya bagi masyarakat pesisir adalah pembuatan pertahanan fisik mandiri seperti karung pasir dan revetment batu, dengan transisi menuju geobags yang lebih ramah lingkungan serta pemetaan mitigasi bencana partisipatif. Untuk jangka panjang, ia menekankan penguatan awig-awig (peraturan adat) yang dapat mengatur kebutuhan warga termasuk bisa mengatur penanaman vegetasi yang memiliki daya dukung penahan pasir, dan transisi petambak ke sistem Wanamina (Mixed Mangrove-Aquaculture) yang memulihkan sabuk hijau sekaligus meningkatkan pendapatan.
Di ranah pemerintah daerah dan pusat dapat melakukan pendekatan Building with Nature (Membangun Bersama Alam). Strategi ini melibatkan pembuatan bendungan semi-permeabel (permeable dams) di perairan dangkal. Hal ini memungkinkan sedimen terjebak secara alami dan mangrove bisa tumbuh lalu perlahan mengembalikan ekosistem pesisir.
Cerita foto ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim bersama IDJN dan IMS.
Referensi:
Singa, J. C. B. G., Nuarsa, I. W., & Putra, I. G. N. (2023). Deteksi Perubahan Garis Pantai Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 di Kabupaten Klungkung, Bali. Journal of Marine and Aquatic Sciences, 9(1), 70-81.
Naufal, M., Nandini, M., Rahmanu, Y. A., Najib, D. W. A., Kusumaningrum, P. B., Ahyar, M. I., & Hizbaron, D. R. (2019, July). Disaster mapping as decision support system to decrease abrasion impact due to climate change in Bantul Coastal Area. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 303, No. 1, p. 012020). IOP Publishing.








