“Ini penghasilan utama saya. Kalau TPA ditutup, mau ke mana lagi?” ungkap Yanto, pemulung yang sehari-hari bekerja di TPA Suwung.
Selama puluhan tahun, TPA Suwung menjadi tujuan akhir sampah dari wilayah Sarbagita sekaligus sumber penghidupan bagi banyak pekerja informal. Ratusan pemulung ini berjasa dalam pemilahan sampah ribuan ton selama puluhan tahun sampai ada yang mukim di TPA.
Yanto telah lama bermukim di kawasan ini bersama istri dan anaknya. Setiap hari mereka memilah plastik, kardus, dan botol bekas yang masih memiliki nilai jual. Dari sampah itulah kebutuhan keluarga mereka terpenuhi.
Namun, TPA Suwung juga menyisakan persoalan lingkungan yang panjang. Truk sampah terus berdatangan setiap hari, sementara bau menyengat menjadi bagian keseharian warga sekitar.
Di tengah upaya Bali menghentikan praktik open dumping dan beralih menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, nasib mereka yang hidup dari sampah dipertanyakan. Ketika harapan bertemu kenyataan bahwa masih banyak orang yang bergantung pada sistem yang sedang diubah.
sangkarbet


















