
Suasana Pasar Batu Kandik, Padangsambian Kaja, Denpasar Barat, sehari menjelang Hari Raya Galungan, Selasa (16/6/2026).
Sehari menjelang Hari Raya Galungan pada Selasa (16/6/2026), suasana Pasar Batu Kandik di Padangsambian Kaja, Denpasar Barat, tampak tidak terlalu ramai. Hanya beberapa pembeli terlihat mendatangi lapak buah dan sarana upacara pada pagi hari.
Meski demikian, para pedagang tetap menyiapkan berbagai kebutuhan Galungan, mulai dari buah-buahan hingga perlengkapan upacara yang didatangkan dari berbagai daerah. Tumpukan buah tersusun di lapak pedagang, sementara perlengkapan upacara dan bunga untuk kebutuhan persembahyangan masih tersedia bagi masyarakat yang berbelanja menjelang hari raya.
Berbagai komoditas tersebut tidak hadir begitu saja di pasar. Sebelum sampai ke tangan konsumen, buah, bunga, dan sarana upacara menempuh perjalanan melalui rantai distribusi yang melibatkan petani, pemasok, distributor, hingga pedagang eceran. Perjalanan itulah yang menjadi bagian dari rantai ekonomi Galungan di Bali.

Aktivitas jual beli di Pasar Batu Kandik terpantau lebih lengang dibanding perayaan Galungan sebelumnya.
Sejumlah pedagang mengaku kondisi pasar menjelang Galungan tahun ini tidak seramai perayaan sebelumnya. Komang Ratni, pedagang buah di Pasar Batu Kandik, mengatakan jumlah pembeli yang datang lebih sedikit dibanding Galungan enam bulan lalu.
“Jauh ini daripada dulu,” ujarnya.
Menurut Komang, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi berdekatan dengan kebutuhan lain, seperti tahun ajaran baru sekolah. Meski begitu, ia tetap menambah stok buah karena kebutuhan masyarakat saat Galungan cenderung meningkat.
Hal serupa dirasakan Melia, pedagang sarana upacara. Ia memperkirakan jumlah pembeli menurun cukup signifikan dibanding Galungan sebelumnya.
“Kalau dari Galungan yang lalu lebih ramai, sekarang turun 50 persen,” katanya.
Berkurangnya jumlah pembeli tidak serta-merta mengurangi pasokan kebutuhan Galungan yang masuk ke pasar. Buah-buahan, bunga, dan berbagai sarana upacara tetap tersedia di lapak pedagang. Ketersediaan barang tersebut menunjukkan adanya rantai distribusi yang terus bergerak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang hari raya.
Menelusuri Asal Pasokan Buah Galungan
Ketersediaan kebutuhan Galungan di Pasar Batu Kandik ditopang jaringan distribusi yang menghubungkan berbagai daerah penghasil dengan pasar tradisional di Denpasar. Tidak seluruh komoditas yang dijual pedagang berasal dari Bali. Sebagian kebutuhan bahkan didatangkan dari luar pulau untuk memenuhi permintaan masyarakat menjelang hari raya.
Buah menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari karena digunakan sebagai pelengkap banten. Komang Ratni, pedagang buah di Pasar Batu Kandik, mengatakan pasokan buah yang dijualnya berasal dari beberapa daerah, baik dari Bali maupun luar Bali.
Menurutnya, jeruk dan jambu yang dijual di lapaknya sebagian besar berasal dari Jawa. Sementara itu, sejumlah buah lain didatangkan dari Singaraja dan Kintamani.
“Jawa. Jeruk. Lumayan Jawa, jambu ini Jawa,” katanya.
Komang menjelaskan buah-buahan tersebut diperoleh melalui pemasok yang menyalurkan barang ke pedagang pasar. Ketika stok mulai menipis, pedagang dapat melakukan pemesanan dan menerima kiriman kembali pada keesokan harinya.
Rantai distribusi tersebut menunjukkan perjalanan buah sebelum sampai ke tangan konsumen. Komoditas dari daerah penghasil terlebih dahulu dikumpulkan oleh pemasok, kemudian disalurkan kepada pedagang pasar sebelum akhirnya dibeli masyarakat untuk kebutuhan Galungan.
Dari Kebun Bunga ke Pasar Tradisional

Berbagai sarana upacara dan bahan persembahyangan dijual di Pasar Batu Kandik menjelang Galungan.
Rantai distribusi yang lebih panjang terlihat pada komoditas bunga yang digunakan dalam berbagai sarana upacara Galungan. Budi, distributor bunga yang memasok sejumlah pasar tradisional di Denpasar, mengatakan sebagian besar pasokan bunga diperoleh langsung dari petani.
“Dari petani lebih banyak, mungkin perbandingannya 70:30 tergantung stoknya dan waktu panen di petani juga,” ujarnya.
Pasokan bunga tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Bali, seperti Yeh Mampeh, Tandang, Bayung, dan Belancan. Menurut Budi, pasar tradisional menjadi tujuan utama distribusi karena di sana terdapat pedagang pengecer yang menjual kembali bunga kepada masyarakat.
“Ke pasar tradisional yang banyak, di sana kan ada pengecernya juga,” katanya.
Selain melalui pedagang pasar, sebagian bunga juga dipasarkan kepada penjual canang di pinggir jalan. Rantai distribusi tersebut menunjukkan bahwa bunga yang digunakan dalam kebutuhan upacara Galungan melewati perjalanan dari petani, distributor, pedagang, hingga akhirnya sampai ke tangan masyarakat.
Pasokan, Permintaan, dan Harga Jelang Galungan
Pergerakan pasokan turut memengaruhi harga komoditas yang dijual menjelang Galungan. Komang Ratni mengatakan harga buah pada Galungan kali ini cenderung lebih tinggi dibanding enam bulan lalu.
“Naik. Lebih keras naik sekarang,” ujarnya.
Sementara itu, Budi, distributor bunga yang memasok sejumlah pasar tradisional di Denpasar, menjelaskan bahwa harga bunga tidak selalu mengalami kenaikan menjelang hari raya.
“Kalau bunga gumitir di pasar lagi mahal atau sedikit tersedia, banyak yang nyari itu. Fluktuasinya keras,” katanya.
Menurut Budi, harga bunga dapat meningkat ketika pasokan berkurang, tetapi kondisi sebaliknya juga bisa terjadi. Saat banyak petani memanen bunga menjelang Galungan, stok di pasar melimpah sehingga harga justru menurun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rantai ekonomi Galungan tidak hanya ditentukan oleh tingginya permintaan masyarakat, tetapi juga oleh ketersediaan pasokan dari daerah-daerah penghasil. Semakin terbatas stok yang masuk ke pasar, semakin besar peluang harga mengalami kenaikan.
Temuan tersebut memperlihatkan berbagai kebutuhan Galungan bergerak melalui rantai distribusi yang melibatkan banyak pelaku usaha. Galungan tidak hanya menjadi momen penting bagi umat Hindu di Bali, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Buah-buahan yang didatangkan dari Jawa, Singaraja, dan Kintamani, serta bunga yang dipasok dari sejumlah daerah di Bali, menunjukkan bahwa kebutuhan hari raya bergantung pada jaringan distribusi yang panjang.
Petani, pemasok, distributor, pedagang pasar, hingga pengecer memiliki peran masing-masing dalam memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia menjelang Galungan. Meski sejumlah pedagang mengaku jumlah pembeli tahun ini tidak seramai perayaan sebelumnya, rantai distribusi tetap bergerak untuk menyalurkan berbagai komoditas ke pasar tradisional.
Perjalanan dari kebun hingga pasar tersebut memperlihatkan bahwa di balik setiap buah, bunga, dan sarana upacara yang digunakan saat Galungan, terdapat aktivitas ekonomi yang menghubungkan banyak daerah dan pelaku usaha dari dan luar Bali. Namun masih didominasi buah impor.









