
I Ngurah Suryawan
Kadi bahni ring pahoman, dumilah mangde sukanikang r?t
‘Laksana api di tempat persajian menyala dan membawa kebahagiaan dunia’
Sejak menjadi mahasiswa Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana tahun 1997, dalam ritus pengenalan mahasiswa baru, samar-samar saya mendengar seorang dosen senior menyebutkan kalimat yang saya kutipkan di atas dengan pelan dan halus. Saat itu saya tidak terlalu mengerti makna dan konteksnya. Perlahan, saat mengikuti perkuliahan, saya mulai memahami sedikit-demi sedikit makna dan konteksnya dalam keilmuan saya, antropologi. Selebihnya saya meresapinya sebagai cita-cita yang dimimpikan pendiri Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) agar ilmu-ilmunya mampu menjadi api yang terus menyala dan menjadi suluh dalam kehidupan.
Ilmu-ilmu humaniora (humanities) yang terdapat di fakultas ini layaknya menjadi pengingat dan cermin dari bergeraknya peradaban manusia dengan hasratnya yang besar untuk mengendalikan bahkan menaklukkan apapun. Modernitas dengan centang parenang-nya membuat dunia seakan berlari dan menjadi pemuas hasrat-hasrat manusia. Yang kalah akan tersingkir dan selebihnya akan berjuang untuk sekadar bertahan. Berbagai cara dihalalkan untuk memperbesar dan memperluas kepentingan modal (kapital) yang direpresentasikan dalam berbagai wajah. Ada kapital yang sangat buas tapi juga ada yang lugu dan jinak sebagai permulaan kelahirannya. Ada yang sudah menjadi raksasa di jantung perputaran kapital, tapi ada juga yang baru mengawali dari pinggiran. Capitalism from below orang sering menyebutnya.
Mengejar hasrat menjadi pelayan kapital dengan pertumbuhan ekonomi inilah yang mengikis nilai-nilai humanities tidak hanya pendidikaan, tapi juga diri manusia itu sendiri. Institusi dan proses pendidikan melegitimasi sekaligus melanggengkan pengikisan itu karena “diarahkan” untuk melayani kepentingan kapital. Pengarahan ini berlangsung secara sadar tanpa paksaan, bahkan kesukarelaan karena mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Negara dan kapital semakin melicinkan keberlangsungan proses ini.
Itulah yang saya kira dipertontonkan oleh pemerintah saat melontarkan wacana penghapusan jurusan perkuliahan yang dianggap tidak relevan demi tembus target pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam kegiatan Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Universitas Udayana, Bali pada 25 April 2026. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan jurusan perkuliahan sebaiknya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia di masa depan.
Mengevaluasi jurusan yang tidak relevan dengan tujuan pertumbuhan ekonomi berangkat dari pemikiran bahwa pertama, terjadi oversupply (lulusan sarjana yang menumpuk) pada bidang kedokteran serta pendidikan. Pada bidang pendidikan, sekitar 490 ribu lulusan dihasilkan tiap tahunnya. Tapi lapangan kerja yang tersedia untuk guru dan fasilitator di taman kanak-kanak hanya 20 ribu, jadi 470 ribu sisanya menganggur. Pada bidang kedokteran, pada 2028 nanti jumlah dokter juga sudah oversupply.
Pemikiran kedua berkaitan dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang tengah dikejar pemerintah. Langkah yang diambil yaitu membangun industrialisasi di bidang-bidang strategis seperti energi sampai pangan. Perguruan tinggi diharapkan menyediakan lulusan-lulusan yang kelak menopang misi dan hasrat pemerintah tersebut. Hal ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah bonus demografi dari para lulusan perguruan tinggi yang membludak ini perlu “ditempatkan” sekaligus “dimanfaatkan” ke dalam ruang yang sejalan untuk pertumbuhan ekonomi tersebut. Inti sari pemikirannya adalah perguruan tinggi semestinya beradaptasi dengan kebutuhan pasar industri (market–driven). Caranya ialah mengembangkan program studi yang menyokong industrialisasi. Bisa membuka jurusan baru atau menghentikan program studi lama yang dianggap tidak sejalan dengan kebutuhan industri dan menghambat pertumbuhan ekonomi.1
Dimana Martabat Manusia?
Jika menelisik lebih dalam, dan ini sudah menjadi menjadi perdebatan lama, terdapat konflik internal di dunia pendidikan yang lebih substansial dengan implikasi yang serius. Konflik internal tersebut adalah tuntutan proses pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia dalam rangka pertumbuhan ekonomi pada satu sisi dan pada sisi lainnya adalah pengembangan martabat manusia. Pendidikan dapat memainkan peran yang ambivalen. Pertama, pendidikan dapat secara positif membekali manusia baik dengan modal pengetahuan praktis maupun substantif yang amat berguna bagi umat manusia, apabila didalamnya termuat visi yang memihak bukan hanya pada hidup sesaat tetapi pada hidup sejahtera yang adil bagi umat manusia secara lintas generasi. Kedua, pendidikan justru punya potensi sebaliknya yaitu menjadi kendala bagi pembangunan (pertumbuhan ekonomi, memenuhi keinginan pasar dan yang lainnya) karena tuntutan-tuntutan praktis, khusus dan sesaat yang dikehendaki oleh kepentingan-kepentingan ekonomi, politik dan sosial yang selalu berubah.
Jika kita merenung lebih mendalam, pendidikan pada prinsipnya berkaitan dengan revolusi kesadaran historis manusia akan hakekat hidupnya. Eksistensi manusia terbentang antara masa lampau dan masa depan. Dengan demikian pendidikan itu arahnya tidak hanya pada ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi juga pada usaha pemahaman atas diri sendiri dalam konteks historisnya. Artikel menyentuh dari Sastrapateja (1997) dan Laksono (2009) sangat baik untuk mengingatkan kita akan arti penting pendidikan yang menjungjung martabat manusia (kemanusiaan) itu yaitu: pertama, pengetahuan manusia itu bersifat historis, maka sifat dogmatis bertentangan dengan sikap historis manusia itu. Kedua, perlu tekanan dalam pendidikan pada “proses” bukan hanya dalam “produk”. Ketiga, perlunya menghidupkan kesadaran historis dengan membiasakan peserta didik melihat “akar-akar” sejarah dan kontekstualisasinya dengan masalah-masalah masa kini yang kita hadapi. Pendidikan seperti inilah yang berwawasan kemanusiaan, jadi juga berwawasan antropologi.
Nah, berwawasan antropologi ini juga yang saya kira juga terancam tersingkir karena belum tentu mendukung pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Pendidikan antropologi itu penuh dengan lekuk liku karena obyek dan subyek yang dipelajarinya terus bergeser, sementara pengalaman pribadi para penelitinya atau orang yang mempelajarinya juga terus bergeser sesuai dengan posisi historisnya. Oleh karena itu hasil dari belajar antropologi lebih bersifat pengetahuan reflektif dan apresiatif yaitu pada penemuan eksistensi manusia itu sendiri. Dengan demikian pendidikan antropologi berbeda sekali hakekatnya dengan pendidikan yang pragmatis.
Pendidikan antropologi sebaiknya jauh dari pendekatan-pendekatan normatif tetapi dekat dengan proses yang kreatif saling percaya dan saling belajar antara sesama manusia, baik dia itu mahasiswa, dosen, ataupun subyek rakyat yang berada di seantero negeri ini. Ilmu-ilmu humaniora (humanities) meletakkan kebenaran ada dalam rentang sejarah sosial manusia, dalam relasi kuasa/politik, ketika manusia harus membuat strategi dan siasat untuk mengorganisir hidupnya di dunia nyata.
Satu hakekat yang tidak kalah pentingnya adalah usaha bersama yang mengarah kepada usaha-usaha pengembangan manusia ke arah sasaran-sasaran yang lebih substansial, halus penuh apresiasi dan empati pada hidup manusia itu sendiri daripada ke arah hidup material yang praktis. Namun, dalam dunia yang dipenuhi dengan jargon-jargon pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus dipacu ini, konflik internal dalam dunia pendidikan berjalan tidak seimbang. Kepentingan untuk melayani pasar, kekuasaan, dan globalisasi cenderung menunda bahkan mengabaikan pentingnya pendidikan humaniora yang membimbing manusia berkembang ke arah hidup yang lebih bermartabat secara utuh.
Pendidikan humaniora membimbing manusia berkembang ke arah hidup yang lebih bermartabat secara utuh seringkali, atau lebih tepatnya terpaksa dikompromikan dengan kepentingan sementara untuk melayani pasar, kekuasaan dan globalisasi. Kisah sukses globalisasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia memproduksi kesejahteraan terlalu dekat dengan kegagalannya meredistribusi kesejahteraan nyata bagi rakyatnya (Laksono, 2009). Jika sudah demikian, pijar-pijar api humaniora akan mulai redup. Senja kala humaniora mungkin hanya tinggal menghitung waktu jika kita terus-menerus abai melakukan refleksi mendalam menyoal kemanusiaan itu. Nilai yang semakin ringkih untuk diperjuangkan di tengah kerakusan dan kepicikan manusia.
Daftar Pustaka
Laksono, P.M. (2009). Spektrum Budaya (Kita), Yogyakarta: Kepel Press, Pusat Studi Asia Pasfik Universitas Gadjah Mada dan Ford Foundation.
Sastrapateja, M. (1997). “Pendidikan formal tidak siapkan tenaga kerja” dalam Harian Kompas, 21 Februari 1997.
1 Lihat: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn0w04ngrz0o (diakses 10 Mei 2026).
![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)



