
Penumpukan sampah menjadi ancaman serius yang menyentuh kesehatan. Mikroplastik kini ditemukan di berbagai rantai makanan dan berdampak pada kesehatan, terutama bagi kelompok usia produktif.
Kekhawatiran ini dirasakan oleh Luh Putu Upadisari, akrab disapa Sari. Selama lebih dari dua dekade sejak 2003, Sari aktif memberikan edukasi kesehatan reproduksi bagi perempuan, khususnya para pekerja pasar di Pasar Badung. Tidak hanya dinamika kesehatan perempuan, tetapi ia juga merasakan perubahan signifikan terkait persoalan sampah.
Menurut Sari, dalam beberapa tahun terakhir terjadi pergeseran pola penyakit. Ia mengamati adanya peningkatan kerentanan kesehatan pada usia produktif, melebihi kelompok usia menopause. Salah satu faktornya adalah meningkatnya paparan limbah plastik, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin bergantung pada kemasan sekali pakai.
“Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan, emergency. Sekarang di gang-gang semua numpuk sampah.” ungkapnya. Ia menilai, baik pemerintah maupun masyarakat belum sepenuhnya efektif dalam merespons situasi darurat sampah ini.
Kesadaran akan hal tersebut mendorong Yayasan Rama Sesana mengadakan diskusi rutin bersama para peer educator. Jumat, 24 April 2026, tepat pukul 11.00 siang, sekelompok ibu-ibu berkumpul di depan klinik sederhana di kawasan pasar. Mereka saling bertegur sapa, berbagi kabar, dan berdiskusi tentang isu yang semakin dekat dengan keseharian yaitu sampah.
Sampah didefinisikan sebagai sesuatu yang sudah tidak terpakai atau hasil akhir dari suatu aktivitas. Manusia secara disadari atau tidak merupakan produsen utama sampah, baik dari rumah tangga maupun aktivitas ekonomi lainnya. Meski tak mungkin sepenuhnya berhenti menghasilkan sampah, para peserta sepakat bahwa pengurangan adalah langkah realistis yang bisa dilakukan.
Namun, praktiknya tidak mudah. Sejumlah ibu berbagi pengalaman mereka dalam mengelola sampah di rumah. Ada yang terpaksa membakar atau mengubur sampah ketika jumlahnya menumpuk dan tidak kunjung diangkut.
Pengelolaan sampah juga berbeda-beda di tiap daerah. Sumiati dari Ketewel, Gianyar, menceritakan bahwa pengangkutan sampah dilakukan dua kali seminggu, setiap Selasa dan Sabtu. Warga hanya boleh mengeluarkan sampah sesuai jadwal, dan sampah harus dipilah agar mau diangkut. Namun, waktu pengangkutan kerap berubah tak sesuai jadwal. “Ada halo-halo (pengumuman) keliling baru boleh dikeluarin. Kalo gak harus disimpan di dalam rumah. Sampah yang tercampur tahu dia. Dikasih tahu misal ada permen yang dibungkus harus dibuka dulu,” ungkapnya.
Sementara itu, pengalaman lain dirasakan Oka dari kawasan Balun, Denpasar. Ia mengungkapkan meski aturan pemilahan sudah ada, praktik di lapangan masih belum tertib. Sampah kerap diletakkan sembarangan di depan rumah atau gang tanpa jadwal jelas. “Kadang lama gak diangkut sampai ada ulat,” ujarnya. Iuran swakelola dikenakan sebesar Rp50 ribu per bulan, meski sistemnya masih dianggap belum optimal.
Dalam situasi tertentu, biaya pengangkutan bahkan bisa melonjak. “Waktu penutupan TPA, ada yang berani bayar sampai Rp200 ribu sekali angkut truk,” tambahnya. Di beberapa titik, praktik pembakaran sampah juga masih marak, termasuk di kawasan kos-kosan.
Para peserta diskusi sepakat bahwa kesadaran individu adalah kunci utama. Namun, mereka juga mengakui adanya keterbatasan ruang dan fasilitas yang membuat pengelolaan sampah tak selalu ideal. Tantangan lainnya yaitu pengelolaan sampah pasca upakara seperti odalan atau pawiwahan.

Beberapa praktik baik mulai muncul. Misalnya di Gianyar, penggunaan kampil (karung) yang dapat dipakai ulang membantu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Beberapa banjar membagikan karung bekas untuk membungkus sampah dan dikembalikan ketika sampah sudah diangkut. Selain itu, sampah organik pun mulai dimanfaatkan untuk menghasilkan pupuk cair.
Langkah-langkah alternatif pun mulai dicetuskan. Mulai dari membawa wadah sendiri saat berbelanja, menolak kantong plastik, serta mengelola sampah dari sumbernya. Selain itu, diharapkan kembalinya tren menanam tanaman buah dan sayur dalam pot (tabulampot), sebagai cara memanfaatkan pupuk dari sampah organik sekaligus memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.
Bagi Sari, perubahan tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan pergeseran pola pikir masyarakat, peran aktif dalam edukasi dan mobilisasi, serta kebijakan pemerintah yang konsisten dan berpihak pada pengelolaan sampah berkelanjutan.








