
Oleh I Ngurah Suryawan
Belum lekang dari ingatan menjelang Nyepi Caka 1948 pada Maret 2026 lalu, berbagai festival digelar dan antusiasme yang menyeruak di tengah masyarakat. Tidak terbantahkan energi luar biasa yang menghinggapi generasi muda Bali khususnya dalam menyambut festival ogoh-ogoh, sebuah pentas yang sudah mereka siapkan dari beberapa bulan sebelumnya. Perhatian, fokus, energi, dan sebagian besar sumber daya mengarah kepada festival yang dilaksanakan sebelum malam pengerupukan Nyepi Caka 1948.
Festival di beberapa daerah mengundang antusias warga sekaligus juga sebagai ajang “perhatian” pemerintah terhadap kreatifitas seni generasi muda. Gelontoran dana pembinaan dan kreatifitas dikucurkan dari puluhan hingga ratusan juta bahkan hingga mencapai milyaran rupiah. Demikianlah, festival disambut sumringah dan gelontoran dana sosial untuk kesenian dan kebudayaan menjadi absah sebagai bentuk kepedulian pemerintah untuk memfasilitasi gairah masyarakatnya dalam berkebudayaan. Antusiasme semakin tinggi saat sanjungan dan ketakjuban wisatawan dan masyarakat luas akan kreatifitas yang begitu tinggi.
Masyarakat menyambutnya dengan suka cita penuh kebanggaan. Media sosial menambah kemeriahan dengan berbagai komentar yang menyanjung dan juga mengkritik dengan sinis. Festival ogoh-ogoh membuat seluruh lapisan masyarakat ketog semprong (tua muda, laki-laki dan perempuan, dan seluruh orang) menyambutnya dengan antusias sampai di tingkat keluarga. Celotehan di sebuah grup whatsapp yang saya ikuti menunjukkan hal ini. “Mekejang jumah pesu banne ulian ogoh-ogoh.” (semua anggota keluarga di rumah dibuat keluar ikut terlibat karena ogoh-ogoh).
Ia kemudian melanjutkan dalam Bahasa Bali bahwa kedua anaknya yang menginjak remaja, laki-laki dan perempuan terlibat menjadi penari dan tukang tegen (orang yang mengusung ogoh-ogoh). Sementara istrinya membantu bagian konsumsi dan ia sendiri adalah sebagai pecalang di banjar yang bertugas mengamankan perjalanan ogoh-ogoh dari banjar menuju Catur Muka pusat Kota Denpasar hingga kembali lagi ke banjar. Hari-hari tersebut begitu bergairah. Hampir sebagian besar perhatian generasi muda Bali tertuju kepada ogoh-ogoh dan rangkaian festival yang mengikutinya.
Melewati Nyepi Caka 1948, festival masih berlanjut dengan berbagai jenis dan tujuan. Arak-arakan ogoh-ogoh tidak berhenti. Beberapa ogoh-ogoh bahkan masih berdiri megah di depan banjar dan berencana “dimuseumkan” (dibeli oleh pihak museum dan menjadi koleksi mereka). Histeria festival terus berlanjut. Ogoh-ogoh yang akan dipentaskan di festival tersebut diarak di jalan dan menempuh perjalanan yang tidak pendek. Namun, antusias dan semangat para anggota sekaa terunamengarak ogoh-ogoh mereka ke alun-alun untuk pentas tidak surut. Histeria itu ada, baik di wilayah urban maupun perdesaan.
Ruang Histeria lalu Kalah?
Seperti yang sudah kita duga, bermuncullah ruang-ruang histeria yang difasilitasi oleh negara dan kapital untuk manyalurkan energi luar biasa dari masyarakat dalam mengekspresikan diri dan kebudayaannya. Ruang tersebut berlomba-lomba dibuat dengan tujuan “mensinergikan” kreatifitas dan energi masyarakat dengan program pemberdayaan serta pelestarian yang dirancang pemerintah. Festival ogoh-ogoh dari mulai tingkat kabupaten/kota hingga ke desa-desa adat. Belum lagi festival untuk memeriahkan ulang tahun kabupaten atau tempat pariwisata. Kemeriahan festival tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan generasi muda. Mereka pun kemudian berlomba-lomba berebut akses bergabung dan berinteraksi dalam ruang tersebut.
Ruang histeria ini juga melahirkan subyek-subyek manusia Bali yang menjadi panutan, influencer, orang yang dianggap bisa memberi dampak dan berpengaruh di tengah masyarakat. Maka bermunculanlah para tokoh anak muda yang berpengaruh dengan karya-karya mereka yang dianggap maestro. Aktivitas dan karya mereka selalu ditunggu karena dianggap berpengaruh penting dalam bingkai histeria. Tidak lupa juga berbagai jenis perusahaan dari mulai provider handphone hingga bir ambil bagian dalam histeria ini. Tentu tidak ada yang salah, semuanya mengambil bagian dan mendapatkan tempatnya masing-masing.
Tapi, satu hal yang jelas, ruang histeria terbentuk bukannya tanpa motif. Inilah seperangkat pembentukan sekaligus pengarahan dua hal penting. Pertama, mengerasnya imajinasi tentang kebudayaan Bali hanya dalam bentuk properti-properti kebudayaan yang artifisial (permukaan). Hal-hal yang bersifat permukaan selain dangkal juga sudah pasti menipu. Tapi kekuatannya adalah sangat strategis menjadi pintu masuk yang ampuh untuk menebar kekuasaan dan menanamkan pengaruh. Dimensi-dimensi dibalik hal yang artifisial menjadi tidak terlihat karena tertutup oleh ruang histeria yang menjadi rebutan berbagai kepentingan.
Mengerasnya imajinasi kebudayaan Bali inilah yang oleh Santikarma (2004) diistilahkan kebudayaan menjadi semacam benda antik yang mahal dan harus dilap dan disimpan dalam lemari kaca, dimuseumkan, diawasi, dijaga, dan dipelihara agar tidak rusak. Orang Bali menjadi satpam penjaga museum lengkap dengan atribut seragam militer (atau pecalang, tokoh adat, dan ormas?) dan sikap defensif. Pandangan yang menyederhanakan kebudayaan dengan segala kompleksitasnya menjadi benda yang bisa dimiliki, menjadi modal awal untuk orang Bali mempersiapkan diri memasuki pasar global kapital yang rakus sekaligus serakah. Semuanya harus dibungkus untuk dijual dalam paket yang indah. Kebudayaan akhirnya terjerambab menjadi produk yang sesuai dengan selera pasar (dan kekuasaan lokal) yang menawarkan romantisme untuk orang Bali sendiri dan juga kepentingan eksotisme pariwisata.
Hal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah ruang histeria yang menjadi penyejuk sekaligus penghibur keterdesakan bahkan kekalahan manusia Bali itu sendiri. Ruang-ruang histeria yang ditawarkan oleh festival-festival ini sejenak menjadi penghibur di tengah penatnya tuntutan hidup dan ketersingkiran yang semakin massif di tanah sendiri. Negara dan pemerintahan lokal menangkap situasi ini untuk mewujudkan dirinya sebagai “pengatur resmi” ketertiban dalam berkebudayaan. Pengatur yang kemudian kita tahu bersama tunduk dengan Jakarta dan kepentingan kapital yang lebih besar.
Kebudayaan yang disederhanakan ini menjadi siap untuk melayani permintaan negara modern. Kebudayaan yang mampu mengelola anggotanya dengan suatu sistem yang tertib dan stabil adalah kebudayaan yang mudah diatur. Jika demikian bisa dimengerti, bukanlah suatu kebetulan bila rezim Orde Baru mencurahkan semua energi dan sumber dayanya untuk membangun dan menyebarkan ide-ide tentang kebudayaan melalui pidato-pidato pejabat, jawatan, dinas pertanahan dan sekolah-sekolah melalui kurikulum pendidikan.
Guna mengatur keanekaragaman penduduk yan tersebar di ribuan pulau dan memiliki ratusan lingusitik, pemerintah rezim otoritarian Soeharto memakai konsep kebudayaan sebagai suatu kesatuan yang terpisah, dengan batas-batas yang jelas. Kebudayaan inilah yang harus dilestarikan dan dijaga dari ancaman “gerakan pengacau” atau pengkritiknya. Konsep kebudayaan ini digunakan untuk mengatur dengan mudah perbedaan budaya menjadi suatu unit sosial yang kaku. Kebudayaan yang dibayangkan oleh negara “hanya” terbatas pada kesenian, kerajinan, warna-warni upacara ritual kuno, dan dijadikan semacam alat yang berpotensi untuk mempersatukan kehidupan bangsa.
Ruang histeria yang saya uraikan di atas mungkin menjadi salah satu contoh nyatanya. Kita berhenti berpikir dan mengkritisi kebudayaan ini. Kita membayangkannya menjadi sebuah objek yang kongkret yang mempunyai kesimpulan, esensi, dan wujud yang jelas. Kebudayaan telah direduksi menjadi benda yang dibayangkan sebagai hak milik yang bersift eksklusif. Sebagai pemilik budaya, orang Bali secara otomatis dipercaya menghormati nilai kebudayaan mereka tanpa pertanyaan, sanggahan, dan kritik(Santikarma, 2004).
Involusi pun kemudian terjadi. Pandangan rezim otoritarian Orde Baru tentang kebudayaan kita saksikan dengan nyata pada situasi negara ini dan Bali kontemporer. Tentu dengan pembaharuan dalam fenomena-fenomena. Akibat jalinan mesra pembangunan dan pariwisata, kebudayaan Bali direduksi menjadi “benda” daripada suatu proses. Ruang histeria dan jalingan pariwisata, budaya, dan kuasa di Bali sejatinya memantik diri kita untuk berpikir, merenungi secara mendalam, mengkritisinya, dan pada tahapan tertentu melawannya pertama-tama dari cara kita berpikir dan berlaku hidup di tengah Bali global yang semakin hiruk pikuk sekaligus menantang cara kita menanggapinya.
Daftar Pustaka
Santikarma, Degung. (2004). “Pecalang Bali: Siaga Budaya dan Budaya Siaga” dalam I Nyoman Darma Putra (ed), Bali menuju Jagaditha: Aneka Perspektif.Denpasar: Pustaka Bali Post.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)




