
Acara Sabtu Sketsa di Uma Seminyak pada 11 April 2026
Sabtu Sketsa menjadi salah satu ruang kreatif yang menghadirkan kegiatan menggambar bersama sekaligus diskusi santai bagi masyarakat umum. Kegiatan yang digelar di Uma Seminyak ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengekspresikan ide serta refleksi diri melalui karya visual. Dalam pelaksanaannya, peserta berkumpul di area taman terbuka dengan suasana santai, duduk melingkar di atas tikar sambil menyiapkan alat gambar masing-masing.
Pada Sabtu (11/4), kegiatan dimulai sekitar pukul 16.00 WITA dengan sesi menggambar bertema “pulang”. Peserta yang hadir duduk lesehan sambil mengerjakan sketsa menggunakan media yang telah dibagikan panitia. Beberapa peserta tampak mulai menggambar dengan serius, sementara yang lain sesekali berdiskusi ringan dengan peserta di sekitarnya. Tema tersebut dipilih untuk mengajak peserta memaknai arti pulang dari sudut pandang pribadi masing-masing.
Setelah sesi menggambar selesai, peserta secara bergiliran menunjukkan hasil karya mereka di hadapan peserta lain. Masing-masing peserta juga memperkenalkan diri serta menjelaskan makna di balik gambar yang dibuat. Dalam momen ini, terlihat beragam interpretasi tentang arti pulang, mulai dari gambaran rumah, keluarga, hingga simbol-simbol personal yang memiliki makna tersendiri bagi pembuatnya. Suasana berlangsung santai dan interaktif, sehingga tercipta ruang berbagi cerita dan pengalaman personal melalui karya yang dihasilkan.

Sesi Perkenalan Diri serta Menunjukkan Hasil Gambar Masing-Masing Peserta
Kegiatan menggambar bersama ini juga menjadi bagian dari rangkaian pameran karya yang tengah dipajang di Uma Seminyak. Melalui kegiatan tersebut, Sabtu Sketsa tidak hanya menjadi wadah berkarya, tetapi juga sarana untuk memahami seni dapat menjadi media refleksi diri serta ruang untuk berdialog dengan pengalaman pribadi.
Penyelenggara kegiatan Sabtu Sketsa di Uma Seminyak adalah Dayu Sartika, seniman yang juga tengah menggelar pameran tunggal bertajuk Hari Ini Aku Kembali Pulang yang dipajang di lokasi yang sama sebagai bagian dari rangkaian kegiatan seni yang berlangsung di ruang tersebut.
Perjalanan berkarya Dayu Sartika berawal dari kebiasaan menggambar potret diri sebagai medium eksplorasi personal. Potret diri dipilih sebagai ruang untuk melakukan introspeksi serta memahami pengalaman pribadi melalui visual. Dalam proses berkarya, sempat terjadi jeda, dengan karya terakhir yang dihasilkan pada tahun 2024 sebelum akhirnya kembali melanjutkan proses kreatif.
Pada awalnya, muncul keraguan mengenai alasan karya potret diri perlu dipamerkan kepada publik. Namun, seiring berjalannya proses berkarya, karya-karya tersebut kemudian dikembangkan menjadi rangkaian visual yang merepresentasikan perjalanan refleksi diri dan diwujudkan dalam bentuk pameran tunggal yang kini ditampilkan kepada publik.
Makna Karya dan Konsep Visual Pameran
Selain pada acara Sabtu Sketsa, dalam pameran bertajuk Hari Ini Aku Kembali Pulang yang dipajang di Uma Seminyak, karya-karya Dayu Sartika didominasi penggunaan warna monokrom. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Penggunaan warna hitam dan putih dimaknai sebagai upaya untuk melucuti elemen visual yang dianggap tidak perlu, sehingga perhatian dapat terfokus pada diri sendiri sebagai subjek utama dalam karya.

Beberapa Karya Dayu Sartika dalam Pameran “Hari Ini Aku Kembali Pulang“
Selain penggunaan warna monokrom, elemen rambut menjadi simbol yang berulang dalam sejumlah karya yang ditampilkan. Rambut dimaknai sebagai representasi waktu, yang terus bertambah seiring perjalanan hidup. Bentuk rambut yang dikepang menggambarkan proses menata kembali waktu yang telah berlalu, seolah menjadi pengingat untuk lebih sadar terhadap perjalanan diri dan pengalaman yang telah dilewati.
Karya-karya potret diri dalam pameran ini juga menampilkan figur tanpa penutup tubuh. Visual tersebut dimaknai sebagai simbol kejujuran terhadap diri sendiri, bukan untuk menghadirkan kesan vulgar. Ketelanjangan dalam karya dihadirkan secara simbolis sebagai bentuk keterbukaan dan penerimaan terhadap diri apa adanya. Melalui rangkaian karya tersebut, pameran ini menjadi ruang dialog personal yang merepresentasikan proses mengenali diri. Dalam salah satu penjelasannya, Dayu Sartika menyebut bahwa proses kembali menggambar setelah sempat berhenti terasa “seperti berkenalan kembali, seperti pulang.”
Perspektif dan Respons Pengunjung
Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran di Uma Seminyak menghadirkan beragam tafsir dari para pengunjung. Setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memaknai simbol yang dihadirkan dalam karya, termasuk elemen rambut yang menjadi visual dominan dalam sejumlah potret diri yang dipajang.
Salah satu pengunjung, Dinda, memaknai elemen rambut dalam karya sebagai representasi memori yang melekat pada tubuh. “Ada yang merepresentasikan rambut itu sebagai memori, kalau bagiku itu seperti tubuh karena rambutku tidak pernah panjang,” ungkap Dinda saat sesi berbagi makna setelah kegiatan menggambar berlangsung.
Pandangan lain juga disampaikan oleh pengunjung bernama Bimbim yang menilai karya-karya tersebut mampu menghadirkan ruang refleksi bagi siapa saja. “Gambar-gambarnya cantik banget, aku bisa merefleksikan diri aku meskipun aku bukan perempuan,” ujar Bimbim, menunjukkan bahwa pesan dalam karya dapat dipahami lintas pengalaman personal maupun latar belakang pengunjung.
Melalui kegiatan Sabtu Sketsa dan pameran yang berlangsung di Uma Seminyak, ruang seni dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat memamerkan karya, tetapi juga sebagai wadah interaksi antara seniman dan masyarakat. Kegiatan menggambar bersama yang menjadi bagian dari rangkaian pameran memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk terlibat secara langsung dalam proses kreatif, sekaligus memahami makna di balik karya yang ditampilkan.
Tema “pulang” yang diangkat dalam kegiatan Sabtu Sketsa maupun pameran turut memperkuat gagasan bahwa seni dapat menjadi medium refleksi diri. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Sabtu Sketsa dan pameran karya Dayu Sartika menunjukkan bahwa seni tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga membuka ruang dialog, berbagi pengalaman, serta menghadirkan makna personal bagi setiap individu yang terlibat.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet










