
Menjelang Nyepi, Bali selalu memasuki satu fase yang sulit dipisahkan dari denyut kehidupan warganya. Di banjar-banjar, bale pertemuan mulai ramai. Kayu dipotong, rangka diikat, kertas dibentuk, cat disapukan, dan malam pengerupukan perlahan disiapkan bukan hanya sebagai ritual, tetapi juga sebagai peristiwa sosial. Di titik inilah ogoh-ogoh hadir. Ia bukan semata patung raksasa yang diarak keliling desa. Ia adalah simbol, kerja kolektif, ruang ekspresi, juga cermin dari kegelisahan masyarakat. Maka ketika band rock Bali TRABASENJA merilis single baru berjudul “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”, yang mereka sentuh bukan hanya tema budaya, tetapi juga satu medan sosial yang hidup, rumit, dan terus berubah.
TRABASENJA memperkenalkan single ini dalam konferensi pers pada 12 Maret 2026 di studio milik gitaris sekaligus penulis lagunya, A.A. Eka Paramartha alias Eka Poglax, di Gianyar. Personil lain Band ini beranggotakan Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass dan Cokde Kagawa pada drum. Lagu tersebut dirilis menjelang Hari Raya Nyepi dan sejak awal memang dirancang untuk mempertemukan energi rock modern dengan warna gamelan Bali serta semangat ogoh-ogoh yang tumbuh di masyarakat.
Asal-usul TRABASENJA membuat proyek ini terasa organik. Mereka tidak lahir dari skena musik yang dibangun secara formal, melainkan dari komunitas motor trail Trail Club Adventure atau TCA yang terbentuk pada 2025. Dari pertemuan antar rider yang juga musisi, band ini lalu berkembang. Awalnya mereka membuat lagu untuk komunitas mereka sendiri, lalu pelan-pelan terus menulis karya baru. Kini mereka sudah memiliki lebih dari sepuluh materi lagu. Artinya, “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” bukan ledakan sesaat, tetapi bagian dari proses yang tumbuh dari kebersamaan, nongkrong, perjalanan, dan kebiasaan berkarya tanpa banyak pretensi.
Yang menarik, TRABASENJA tidak memandang ogoh-ogoh sebagai objek wisata visual atau tontonan musiman. Bagi mereka, ogoh-ogoh adalah energi budaya. Mereka merespons tradisi yang hidup itu lewat medium yang paling dekat dengan mereka, yaitu rock, tanpa meninggalkan nuansa Bali. Pandangan ini penting. Banyak karya bertema tradisi jatuh pada romantisasi. Mereka sibuk memajang simbol, tetapi gagal menangkap getaran sosialnya. Lagu ini berusaha melakukan hal lain. Ia tidak sekadar menyebut ogoh-ogoh sebagai ikon Bali, tetapi mencoba menangkap gerak kolektif di belakangnya.
Hal itu sudah terasa dari lirik pembukanya. “Nuju sasih kesange nutup tahun sake, gumi sampun leteh, tawurin mangde suci, sifat raksase sampun nyusup ke rage.” Bait ini langsung menempatkan lagu pada konteks Sasih Kesanga, saat tahun saka mendekati penutupannya dan dunia dipandang perlu disucikan. Kata-kata itu tidak bicara tentang monster dalam pengertian dangkal, melainkan tentang sifat raksasa yang menyusup ke dalam diri manusia. Jadi sejak awal, ogoh-ogoh di sini tidak dibaca sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di luar diri, tetapi juga sebagai representasi sisi gelap manusia yang harus dikenali, dihadapi, lalu dilebur.
Pada bait berikutnya, lirik bergerak ke ruang sosial yang lebih konkret. “Rare, yowana pade kumpul ring dese, mecande lan ngibur sambil ngae ogoh ogoh, adat lan kesenian saling masikian, kayu lan kertas meukir dadi raksase.” Ini adalah potret yang akrab bagi siapa pun yang pernah hidup dekat dengan suasana menjelang pengerupukan di Bali. Anak-anak dan pemuda berkumpul di desa. Mereka bercanda, bekerja, bermain, dan membuat ogoh-ogoh bersama. Adat dan kesenian saling bertemu. Dari kayu dan kertas lahir sosok raksasa. Dalam beberapa baris saja, TRABASENJA menangkap inti dari ogoh-ogoh sebagai kerja kolektif. Bukan hanya hasil akhir yang diarak, tetapi proses sosial yang membentuknya.
Lalu datang chorus yang pendek, keras, dan mudah diingat. “Ogar ogar ogoh ogoh.” Setelah itu disusul dengan baris “Garap raksase ring pempatan dese, merage raksase, enyitang ring apine, lebur bhuta kale ring rage.” Bagian ini seperti seruan ramai di jalan. Ia punya daya pekik. Ia terasa dibuat untuk diteriakkan bersama. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan lapis makna yang kuat. Raksasa tidak cukup dibuat, dipamerkan, lalu dielu-elukan. Ia harus dihadapi, dibawa ke titik pertemuan sosial, lalu dibakar. Pembakaran di sini bukan sekadar penutup parade, melainkan simbol peleburan Bhuta Kala dalam diri. Jadi lagu ini berdiri di antara dua dunia sekaligus. Ia bisa dinikmati sebagai lagu rock yang gaduh dan seru, tetapi juga menyimpan kesadaran ritual yang jelas.
Secara musikal, pendekatan yang dipakai TRABASENJA mendukung pembacaan tersebut. Lagu ini dibangun dengan struktur yang dinamis. Aransemen dibuka dengan suasana yang lebih minimalis melalui gitar dan vokal, lalu perlahan ritmenya naik ketika drum dan bass masuk, sebelum gitar elektrik memberi tekanan yang lebih besar. Unsur gamelan Bali yang diaransemen oleh Tut Nyong tidak hadir sebagai tempelan eksotis, melainkan menjadi bagian dari lapisan ritmis yang membentuk karakter lagu. Hasilnya adalah perpaduan dua rasa sekaligus, yakni energi rock yang mentah dan nuansa ritual yang terasa tua, dekat, dan akrab dengan tubuh masyarakat Bali.
Pilihan musikal ini penting karena ogoh-ogoh sendiri memang berdiri di wilayah antara ritual dan tontonan. Ia punya akar spiritual yang kuat, tetapi tampil dalam bentuk yang hingar-bingar. Jalanan jadi panggung. Banjar jadi bengkel seni. Keramaian jadi bagian dari pengalaman. Rock, dengan karakter bunyinya yang keras, repetitif, dan mengandalkan energi kolektif, terasa cocok untuk menerjemahkan suasana itu. Chant “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” dalam konteks ini bekerja seperti pekikan bersama dalam pawai. Ia memiliki potensi menjadi anthem banjar, lagu yang diputar terlalu keras dari speaker dan langsung menyatu dengan kerumunan. Di titik itu, musik TRABASENJA bukan sedang mengamati dari jauh, tetapi sedang masuk ke jantung peristiwa.
Video klip lagu ini juga menguatkan semangat kebersamaan tersebut. Sosok raksasa dalam visual diperankan oleh seniman penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan yang muncul melibatkan truna-truni Desa Batuyang dan anggota komunitas Trail Club Adventure. Dukungan terhadap karya ini juga datang dari lingkungan adat, yang melihat bahwa karya semacam ini bisa menghidupkan kreativitas anak-anak muda di banjar, khususnya dalam tradisi ogoh-ogoh. Ini menunjukkan bahwa “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” bukan proyek yang mencomot simbol budaya untuk estetika belaka, melainkan karya yang tumbuh dari jaringan komunitas, adat, dan pergaulan yang nyata.
Namun berbicara tentang ogoh-ogoh hari ini tidak cukup hanya berhenti pada romantika kebersamaan. Di sinilah lagu TRABASENJA menjadi menarik untuk dibaca lebih luas. Ogoh-ogoh memang berakar sebagai simbol Bhuta Kala, energi negatif yang diarak pada pengerupukan untuk membantu proses penyucian lingkungan menjelang Nyepi. Tetapi dalam perkembangan mutakhir, ogoh-ogoh juga telah menjadi ruang kreativitas kontemporer yang memuat banyak ketegangan. Ia mengalami pergeseran makna. Ia tidak jarang kehilangan taksu karena fokus bergeser dari ritual menuju tontonan. Ia juga makin sering dilombakan, memakai teknologi gerak dan pencahayaan, bahkan tampil dalam bentuk yang tidak selalu menyeramkan.
Pergeseran ini tidak otomatis buruk. Justru di satu sisi, ia menunjukkan daya hidup budaya Bali. Tradisi yang hidup memang bergerak. Ia tidak beku. Anak muda masuk dengan ide baru, bentuk baru, teknik baru, dan semangat baru. Mereka memperlakukan ogoh-ogoh sebagai medium ekspresi yang terbuka. Dari sini, ogoh-ogoh bisa menjadi panggung seni rupa, teater jalanan, kerja tim, teknik mekanik, sampai eksperimentasi visual. Dalam pengertian itu, ogoh-ogoh adalah sekolah sosial. Ia melatih koordinasi, negosiasi, disiplin, dan rasa memiliki terhadap ruang komunal. Lagu TRABASENJA menangkap bagian ini lewat lirik tentang rare dan yowana yang berkumpul di desa. Mereka membaca ogoh-ogoh sebagai pertemuan adat dan kesenian, bukan sekadar objek ritual yang diam.
Tetapi kritik juga tetap perlu diajukan. Ketika ogoh-ogoh terlalu jauh bergeser menjadi ajang kompetisi, ada risiko bahwa roh kulturalnya menipis. Taksu bisa berganti dengan hasrat menang lomba, menjadi viral, atau tampil paling wah. Patung dibesarkan, lampu dibuat lebih mewah, gerak dibuat lebih rumit, tetapi refleksi atas makna penyucian justru mengecil. Tekanan sosial juga muncul. Dalam banyak kasus, proses penggalangan dana untuk ogoh-ogoh bisa berubah menjadi beban bagi warga. Ada situasi ketika sumbangan terasa seperti kewajiban, bukan gotong royong yang lahir dari kesadaran bersama. Dalam situasi seperti ini, ogoh-ogoh tidak lagi sepenuhnya menjadi ruang kebersamaan, melainkan juga bisa memunculkan tekanan sosial dan gesekan horizontal.
Masalah lain yang kerap mengiringi pawai ogoh-ogoh adalah benturan antar kelompok pemuda. Semangat kebersamaan yang seharusnya menjadi inti tradisi kadang berubah menjadi adu gengsi. Jalanan yang mestinya menjadi ruang ekspresi komunal malah bisa menjadi arena pertarungan identitas antar banjar atau antar grup. Jika ini terjadi, maka yang tampil ke permukaan bukan lagi proses pembersihan diri, tetapi justru reproduksi ego kolektif. Dalam konteks inilah lagu seperti “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” terasa relevan, karena ia mengembalikan fokus pada ide dasar bahwa yang harus dilebur bukan hanya sosok raksasa yang diarak, tetapi juga sifat raksasa yang hidup dalam diri manusia dan kelompok sosialnya.
Ada pula isu lingkungan yang makin sulit diabaikan. Penggunaan material yang tidak ramah lingkungan pernah menjadi sorotan, terutama ketika pembuatan ogoh-ogoh menggunakan bahan yang sulit terurai atau menghasilkan limbah berbahaya. Ini penting karena ironi akan muncul ketika simbol penyucian justru diproduksi dengan bahan yang mencemari. Tradisi tidak bisa dibela dengan menutup mata terhadap dampak ekologisnya. Sebaliknya, tradisi perlu terus dirawat dengan cara yang relevan terhadap tantangan zaman. Dalam hal ini, pertanyaan tentang ogoh-ogoh hari ini bukan hanya soal siapa yang paling kreatif atau siapa yang paling megah, tetapi juga siapa yang paling bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Karena itu, pembacaan atas ogoh-ogoh perlu terus diperluas. Ia bukan hanya karya seni tiga dimensi yang akan diarak semalam lalu dibakar. Ia juga adalah ruang tempat masyarakat Bali menegosiasikan banyak hal. Di dalamnya ada adat, seni, identitas generasi muda, ekonomi lokal, gengsi sosial, solidaritas komunal, sampai isu ekologis. Maka membicarakan ogoh-ogoh sebenarnya sama dengan membicarakan Bali itu sendiri. Sebuah ruang yang indah, kaya simbol, dan kuat secara budaya, tetapi juga terus berhadapan dengan godaan komersialisasi, kompetisi, dan krisis makna.
Dalam konteks itu, “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” terasa relevan bukan karena ia memberi jawaban lengkap, tetapi karena ia memulangkan perhatian kita pada inti pengalaman ogoh-ogoh. Lagu ini mengingatkan bahwa pusat dari tradisi itu bukan hanya patung besar, pencahayaan, atau keramaian pawai, melainkan proses menghadapi sifat raksasa dalam diri dan mengelolanya dalam kerja bersama. Ketika lirik menyebut “lebur bhuta kale ring rage”, yang disasar sesungguhnya adalah pembenahan batin dan ruang sosial. Ketika chorusnya menggema, ia bukan hanya mengundang orang bersorak, tetapi juga mengajak orang ingat bahwa yang dibakar seharusnya bukan sekadar bentuk fisik, melainkan sifat-sifat buruk yang menempel pada manusia dan komunitasnya.
TRABASENJA juga membawa satu lapisan lain yang jarang dibahas dalam wacana ogoh-ogoh hari ini, yaitu soal penyaluran energi. Bali adalah ruang yang penuh ledakan ekspresi. Energi itu bisa mengalir ke banyak bentuk, dari tradisi, ritual, pertunjukan, sampai keributan yang tidak perlu. Dalam posisi seperti ini, musik menjadi salah satu saluran yang sehat. Ia bisa menjadi medium untuk merawat tradisi, menghidupkan bahasa lokal, menjaga semangat kolektif, dan sekaligus membuka kritik sosial. Bukan tradisi melawan modernitas, tetapi tradisi yang menemukan saluran baru dalam bunyi, panggung, dan rekaman.
Sikap ini makin terasa ketika melihat bagaimana band ini memposisikan diri. Mereka tidak datang dengan gaya serba dibuat-buat. Yang muncul justru semangat untuk terus berkarya, terus menyalurkan energi, dan terus hidup di tengah komunitasnya. Dalam kasus TRABASENJA, yang hadir adalah gabungan pengalaman hidup, pertemanan, komunitas, dan kemauan untuk tetap produktif. Maka “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” juga bisa dibaca sebagai pernyataan tentang keberlanjutan. Tradisi hidup karena ada generasi muda yang mengerjakan, tetapi juga karena ada generasi lain yang tetap mau ikut menyumbang tenaga, gagasan, dan karya.
Pada akhirnya, kekuatan single ini terletak pada keberhasilannya memadukan beberapa hal sekaligus tanpa terdengar seperti pamflet. Ia adalah lagu rock yang punya tenaga. Ia memanfaatkan gamelan Bali bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai bagian dari tubuh musiknya. Ia memakai bahasa dan citraan lokal dengan wajar. Ia lahir dari komunitas, bukan dari strategi pencitraan. Dan lebih penting lagi, ia membuka pintu untuk membicarakan ogoh-ogoh tidak hanya sebagai simbol budaya Bali yang indah dipotret, tetapi juga sebagai medan sosial yang dipenuhi kreativitas, kompetisi, kebanggaan, tekanan, kritik, dan harapan.
Jika kelak lagu ini benar-benar diputar di banjar-banjar pada malam pengerupukan, lalu orang-orang meneriakkan chorusnya di tengah kerumunan, itu bukan semata tanda bahwa TRABASENJA berhasil membuat lagu yang mudah diingat. Itu akan berarti sesuatu yang lebih besar. Lagu ini telah kembali ke habitatnya. Ia hidup di ruang yang melahirkannya. Di antara kayu, kertas, cat, tawa, debat kecil, semangat yowana, dan upaya manusia untuk menghadapi raksasa dalam dirinya sendiri. Dalam lanskap musik Bali hari ini, “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” menunjukkan bahwa single yang baik tidak harus menjauh dari akar sosialnya. Ia bisa berdiri tepat di tengah denyut budaya, lalu berbunyi lantang dari sana.
Lebih dari itu, lagu ini mengingatkan bahwa seni populer masih bisa berbicara serius tanpa kehilangan daya tariknya. Musik tidak harus memilih antara menjadi hiburan atau menjadi refleksi sosial. Ia bisa menjadi keduanya sekaligus. “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” membuktikan hal itu. Lagu ini bisa dinikmati sebagai pekikan rock yang seru, tetapi juga bisa dibaca sebagai pengingat bahwa tradisi bukan benda mati. Ia selalu berada dalam negosiasi. Ia bisa dirawat, diselewengkan, dibanggakan, dipertandingkan, dikritik, dan dibayangkan ulang. Di tengah semua itu, tugas seniman bukan memberi khotbah, tetapi membuka ruang dengar yang lebih jujur.
Dan TRABASENJA tampaknya mengerti posisi itu. Mereka tidak datang untuk menggurui tradisi. Mereka datang dari dalam denyutnya sendiri. Mereka mendengar bunyi jalanan, keramaian desa, semangat anak muda, dan lapisan simbolik dalam pengerupukan, lalu mengubah semuanya menjadi lagu yang keras, lugas, dan dekat dengan konteks sosialnya. Itulah sebabnya “Ogar Ogar Ogoh Ogoh” terasa penting. Ia bukan hanya lagu baru dari sebuah band Bali. Ia adalah cara lain untuk membaca Bali hari ini. Sebuah Bali yang tetap kreatif, tetap penuh energi, tetapi juga tetap perlu bertanya kepada dirinya sendiri, raksasa apa yang sebenarnya sedang dibakar setiap tahun, dan raksasa mana yang diam-diam masih dipelihara.
Link Lagu di Spotify : https://open.spotify.com/track/1zVNzjqvVmxdYV84JY86IY?si=nhD3oNvERdyjqr0hmke1vQ
Link Vide Klip “ https://www.youtube.com/watch?v=NyH-igcaf-8
Instagram : https://www.instagram.com/trabasenja_official/
TikTok : https://www.tiktok.com/@trabasenja.official
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
