• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, June 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Agar Kita Tak Serupa Sapi di Suwung

Dudik Mahendra by Dudik Mahendra
24 October 2014
in Kabar Baru, Opini, Sosial
0
0
sumber foto hoaxcitytravel.blogspot.com
sumber foto hoaxcitytravel.blogspot.com

Coretan ini dibuat setelah berjalan-jalan di TPA Suwung.

Masyarakat Bali kini sedang menghadapi perang besar. Satu kubu dimotori anak-anak muda dan barisan seniman sementara kubu lain dimodali pemodal besar. Perang ini dimulai dengan perang intelektual.

Perang kajian. Para pakar beradu data dan analisis. Hasilnya dipaksakan seri!!

Lalu perang spanduk dan baliho. Setiap presiden akan lewat spanduk dan baliho tolak reklamasi lenyap. Sementara spanduk dukung revitalisasi (nama baru reklamasi) tetap berdiri atau tertempel santai.

Kalau sebelumnya banyak baliho anti reklamasi robek, kemarin saya lihat salah satu baliho pro reklamasi di pertigaan buton sesetan sudah ada yang merobek.

Rupanya setelah cara-cara yang saru mencoba menghadang gerakan melawan reklamasi, sekarang, seperti ada gerakan untuk membenturkan massa anti reklamasi dengan pasukan yang mendukung reklamasi.

Jadi, mari waspada!!!! Jangan sampai kita menjadi sapi-sapi di tempat pembuangan akhir (TPA) Suwung.

Adanya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah imbas keserakahan pariwisata tak berkonsep di Bali ini. Go green slogannya tetapi faktanya mangrove dibabat, jalur hijau menghilang. Pariwisata berbasis pertanian organik dikampanyekan sementara izin kaveling tanah diobral, saluran subak diurug beton!

Katanya pariwisata budaya tetapi yang tumbuh dan berkembang adalah tari telanjang, kafe remang-remang!

Kalau kita tidak mulai berbenah sekarang maka tidak lama lagi kita semua akan berakhir seperti sapi-sapi di TPA Suwung. Hidup di atas tumpukan sampah, mencari makan di sampah. Berjalan di atas rerumputan adalah cerita masa lalu.

Memamah rumput dan dedaunan hanya ilusi.

Kelak orang-orang Bali yang tidak berani meninggalkan sanggah kemulan akan hidup di antara sisa-sisa vila yang tidak diperpanjang kontrakannya. Berjalan di antara hotel-hotel tanpa penghuni dan menonton cekikikan cewek-cewek kafe yang menunggu teman berbagi HIV menuju kematian.

Karena tidak ada lagi alam Bali yang bisa dibanggakan, semua telah disulap agar seperti Vanice, seperti Dubai, Seperti Las Vegas, seperti Pattaya… Semua buatan. Bukan lagi natural.

Maka tidak ada lagi touris yang datang. Karena mereka sudah memilikinya sendiri. Kenapa mencari yang sama jauh-jauh?

Maka tinggalah I Wayan, Made dan Nyoman menatapi bekas hotel-hotel mewah, bangkai-bangkai mobil di pinggir jalan dan bangku kayu lapuk berjajar di pinggir pantai. Mereka tidak bisa lagi mengadu ke pura, mereka tidak lagi ingat cara membuat canang karena sekarang ini semua telah berubah.

Semua agama, semua dewa dan semua ritual hanya boleh ada untuk pariwisata. Dan, pembanguanan kalau sudah atas nama pariwisata maka semuanya harus siap, suka-atau tidak, dikorbankan. [b]

Tags: BaliBudayaOpiniPariwisataSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dudik Mahendra

Dudik Mahendra

Seorang bapak dari tiga anak yang baik. Pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Warga Banjar Tengah Sesetan, Denpasar.

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

15 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Next Post
Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima

Zushioda, Menu Jepang ala Kaki Lima

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Rentetan Peristiwa Demo Agustus 2025: Kasus Kekerasan Jurnalis ke Tahap Penyidikan

Rentetan Peristiwa Demo Agustus 2025: Kasus Kekerasan Jurnalis ke Tahap Penyidikan

29 June 2026
Lahan Basah sebagai Ginjal Bumi

Lahan Basah sebagai Ginjal Bumi

28 June 2026
Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

26 June 2026

Ketahanan Pangan Bali Bertumpu pada Kearifan Lokal tapi ya Begitulah

25 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia