• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Manusia, Berhentilah Memburu dan Membunuh Hiu

Fadlik Al Iman by Fadlik Al Iman
11 March 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan
0
0

pembunuhan hiu

Konflik antara manusia dengan satwa juga terjadi di lautan.

Bedanya, jika di hutan kita menemukan konflik manusia dan orang utan, masyarakat dengan harimau, gajah, badak dan lainnya, maka di laut juga ada konflik manusia dengan sebut saja paus, penyu serta hiu.

Hiu merupakan top predator yang banyak sekali dibicarakan.

Baru-baru ini ribuan orang di Australia Barat berkumpul membicarakan kebijakan pemerintah untuk membunuh hiu agar tidak mengancam manusia. Namun bagi para aktivis lingkungan, masalahnya tidak sesederhana itu. “Biarkan hiu-hiu itu hidup. Itu tempat mereka,” seru para aktivis.

Hiu-hiu yang dibunuh adalah hiu yang memiliki panjang 3 meter. Hal ini dikarenakan sering sekali hiu menyerang manusia yang sedang melakukan kegiatan di sepanjang pantai.

“Hiu adalah hewan penyeimbang,” ujar Dewa Wirya salah seorang nelayan Kusamba, Klungkung, Bali. Menurutnya, hiu hanya akan memakan tongkol-tongkol yang tidak sehat.

Berdasarkan pengalamannya jika ada tongkol yang gerakannya lamban atau keluar dari kelompoknya maka hiu akan memfokuskan mangsanya pada ikan satu itu. “Banyak sekali hiu yang hidup di perairan timur Bali,” ungkap Wirya.

Pada Juli tahun lalu di daerah pantai Klatakan, Kabupaten Jembrana terdapat satu hiu mati terdampar. Panjangnya empat meter. Penyebab kematiannya karena luka pada mulut yang diperkirakan adalah luka bekas kail pancing.

Menurut catatan National Geographic tiap tahun 100 juta ekor hiu dibunuh. Angka ini didapatkan dari berbagai data ilmiah yang dikumpulkan. Data di atas memang tidak akurat, untuk itu para ahli memberi data rentang kematian antara 63 juta sampai 273 juta ekor tiap tahun.

Hiu diburu untuk siripnya yang biasanya digunakan untuk sup sirip hiu yang memiliki khas serta tidak berbau. Dari cita rasa sirip itu di Asia banyak orang mengonsumsinya. Hal paling mencengangkan bahwa harga per mangkuknya mencapai Rp 1 juta.

Karena permintaan di atas itulah maka hukum permintaan yang bermain. Meski sudah dilarang undang undang namun hiu tetap diburu. Konflik ini akan terus berlanjut seiring angka yang terus merongrong.

“Hidup di lautan haruslah seimbang,” ungkap Dewa Wirya. Ambil saja contoh hewan lumba-lumba merupakan musuh nelayan ikan tongkol. Hal ini karena lumba-lumba memakan tangkapan nelayan. Namun, jika diambil positifnya bukankah lumba lumba serta burung camar yang menjadi kompas nelayan dalam mencari ikan?

“Yang paling penting adalah mengedukasi para nelayan serta para pemesan hiu di pasaran, dengan menjaga keseimbangan maka hidup akan semakin baik,” ungkap Renggo nelayan lain. Menurut Renggo, masalah nelayan adalah menyelamatkan profesinya.

I Nyoman Yayus nelayan lain mengatakan profesi nelayan diapit dari empat penjuru. Dari arah belakang nelayan harus menyiapkan modal untuk melaut, dari depan dihantui tangkapan yang belum pasti, dari kiri ada kebutuhan keluarga sementara dari kanan masih ada saja rentenir yang memanfaatkan profesi nelayan.

“Hidup kami kini semakin sulit,” ungkap I Nyoman Yayus sambil mengakhiri obrolan kopi kami di pagi itu. [b]

Tags: LingkunganPesisir
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Fadlik Al Iman

Fadlik Al Iman

Pegiat lingkungan di Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI) Bali.

Related Posts

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Next Post
Cerita di Balik Cantiknya Sehelai Endek

Cerita di Balik Cantiknya Sehelai Endek

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia