• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Cerita di Balik Cantiknya Sehelai Endek

fuguku by fuguku
11 March 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosial
0
0

Foto0223

Indonesia terkenal akan budaya yang beragam.

Adat istiadat di setiap wilyah Nusantara ini begitu unik. Tiap daerah memiliki  tradisi  tersendiri yang dipengaruhi alam di mana tradisi itu berada dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Salah satu hasil tradisi di tanah air tercinta adalah kain.

Berbagai macam jenis kain tradisional warisan budaya kita. Bahkan sampai ada jenis kain tradional kita yang pernah diakui oleh Negara tetangga, karena sikap ketidakpedulian kita terhadapa hasil karya dari leluhur kita.

Di pulau kelahiran saya, Bali banyak jenis kain tradional yang dimiliki mulai dari Gringsing Tengan, Songket, Prada, Endek. Pada kesempatan kali ini saya sempat menyambambangi perusahan tenun ikat atau sering disebut Endek, di wilayah Denpasar, tepatnya perusahan Tri Sakti yang  ada di Jalan Imam Bonjol Gang Gunung Saba nomer 6 Banjar Abian Timbul, Denpasar.

Perusahan Tri Sakti memproduksi Endek secara semi tradional. Alat yang digunakan masih digerakan dengan tenaga manusia yaitu alat tenun bukan mesin. Proses yang dilalui oleh sebuah kain endek tidak singkat karena melalui berbagai jenis  proses dimulai dari sehelai benang hingga menjadi selembar kain.

Foto0220
Proses nyantri.

Salah satu pekerja, Ni Ketut Rawi yang sudah bekerja selepas menamatkan pendidikannya di jenjang Sekolah Dasar, bercerita. “Kita menyiapkan dua jenis benang, satu bagian untuk pakan dan satu lagi untuk lusi,” katanya.  Pakan adalah benang yang dimasukan saat menenun secara mendatar dan dipemberian motif dilakuan pada benang ini. Sedangkan lusi  adalah benang yang di pasang horizontal atau tegak lurus dan biasanya berwarna atau polos tanpa motif.

Proses pembuatan pakan boleh dibilang cukup rumit. Perlu waktu lama dan menyerap tenaga kerja yang banyak. “Proses ini dimulai dari ngeliying, mempen, mebet, ngasuh, melut, nyatri, mapal, ngeliying pakan,” tutur Ketut Rawi.

Bingung dengan istilah ini? Ngeliying ialah proses ketika benang dalam gulungan yang besar dibawa dalam gulungan yang kecil menggunakan alat seperti roda dan diputar dengan tangan. Mempen benang yang sudah digulung dalam gulungan kecil berikutnya disatukan beberapa helai benang untuk dililitkan di suata alat diputar-putar.

Foto0221
Pemberian warna.

Proses berikutnya adalah memberikan motif yang diinginkan dengan cara diikat dengan menggukan tali rafia pada benang yang sudah melalui proses mempen,  ini yang dimaksud dengan mebet. Pemberian warna dasar pada benang disebut ngasuh. Proses ini menggunakan teknik celup pada pemberian warna dan dibilas dengan air bersih.

Sebelum lanjut proses berikutnya benang pakan dikeringkan dahulu dengan cara diangin-anginkan dan dijemur. Proses melut berupa membuka ikatan pada benang pakan. Benang yang terikat ini tidat ikut dalam warna dasar tetap pada warna putih. Pada benang yang masih berwarna putih ini diwarnai, dicelup per ikatan, atau jika ada motif yang memerlukan warna sedikit pada area warna yang sedikit pula digunankan dua bilah kayu kecil yang ujungnya dililit kain.

Pemberian warna dengan menggosokan warna divantara dua kayu ini, proses ini namanya nyatri pada proses ini memerlukan ketelitian. Setelah proses ini selesai benang pakan dikeringkan. Dilanjutkan dengan proses mapal, memisahkan kumpulan benang tadi untuk menjadi perhelai benang dan biasanya digulung menjadi gulungan-gulungan benang yang diikat supaya motif yang telah dibuat tetap nyambung pada saat menenun nanti. Per gulungan benang ini di sebut ronce.

Terakhir adalah ngeliying pakan adalah seperti awal proses penggulungan benang pada alat yang digunakan untuk meletakan benang pakan yang dinamakan  sekoci. Proses semua ini memerlukan kurang lebih lima hari.

Prose pembuatan pakan selesai bukan berarti kita sudah siap menenenun. Proses pembutan benang untuk lusi  belum jadi ini juga memerlukan waktu yang lumanyan lama. Dari proses ngeliying ke porsi benang kecil lalu dari benang ini,  liying lagi ke tempat yang lebih besar. Dengan lebar kurang lebih 1 meter. Dari gulungan ini dibawa lagi ke alat yang akan di taruh di alat tenun bukan mesin, ini disebut dengan nganying.

Proses pemasukan perhelai di alat tenun dinamakan nyuntik  yang ada di dua tempat yaitu guwun dan serat.  Dari helai-helai benang pada serat  benang di tarik dan diikat pada alat penggulung hasil kain tenun ini dinamai nyantel. Selesai semua proses pembuatan lusi yang memakan waktu kurang lebih tiga hari.

Sekarang langkah terakhir baru menenun kain. Yaitu menyukan benang lusi dan pakan. Proses penenunan menghasilkan kain sebanyak 1,5 kain per hari yaitu kurang lebih 3 meter.

 Foto0225

Dan, proses pembuatan kain endek pun selesai. [b]

Tags: DenpasarEkonomi Kreatif
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
fuguku

fuguku

saya seorang anak manusia dimuka bumi ini dan baru belajar nulis.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Manisnya Salak, Pahitnya Nasib Petani

Manisnya Salak, Pahitnya Nasib Petani

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia