• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, July 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Program City Tour Denpasar Kurang Tergarap

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
4 February 2009
in Opini, Travel
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Sejumlah obyek wisata Denpasar memberikan kontribusi stagnan. Dinas Pariwisata Denpasar mengaku tidak punya wewenang untuk mengelola obyek wisata city tour di Denpasar karena assetnya dimiliki Pemerintah Provinsi.

Catatan Dinas Pariwisata Denpasar memperlihatkan, pada 2007, jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata di Denpasar hanya 160.188 orang atau 10 persen dari total jumlah wisatawan ke Bali. Padahal jumlah wisatawan yang menginap di Kota Denpasar sebanyak 715.370 orang.

Data Dinas Pariwasata terakhir pada 2008 juga memperlihatkan grafik yang sama dengan 2008. Hingga Oktober 2008, kunjungan ke obyek wisata di Denpasar kurang dari 150 ribu orang.

Tak heran, tingkat hunian kamar di seputaran Kota Denpasar, pada 2007 rata-rata hanya 55 persen.

“Bisa saja, tidak semua wisatawan yang ke Denpasar mengunjungi obyek-obyek wisata tapi melihat-lihat suasana kota saja,” kata I Putu Budiasa, Kepala Dinas Pariwisata Denpasar akhir pekan lalu.

Namun, Budiasa mengaku dilematis karena tidak punya wewenang sepenuhnya mengelola obyek wisata di Denpasar. “Hampir semuanya adalah asset pemerintah provinsi Bali. Jadi semua penghasilan masuk ke kas provinsi,” ujarnya.

Sejumlah obyek wisata kota di antaranya Museum Bali, Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang lebih dikenal sebagai monumen Bajra Sandhi, dan Taman Budaya “Art Center”.

Karena itu ia merasa tidak berhak melakukan berbagai kebijakan untuk memperbaiki sarana prasarana obyek wisata kota. “Kami hanya memberikan saran dan membuat sejumlah program pendukung untuk menggairahkan program city tour dalam Sightseeing Denpasar,” tambah Budiasa.

Budiasa menjelaskan, citra Denpasar yang diangkat adalah wisata heritage. Sejumlah obyek wisata Denpasar menurutnya sangat mendukung citra itu namun kurang tergarap maksimal untuk menarik perhatian banyak pengunjung.

“Krisis global ini juga mempengaruhi kunjungan wisata ke Denpasar. Kami sudah banyak promosi, tapi kurang signifikan. Ini sulit diantisipasi,” kata Budiasa. Untuk obyek wisata Denpasar, menurutnya yang bisa dilakukan hanya menata karena keterbatasan lahan.

Kualitas wisata kota Denpasar ini juga dikritisi oleh Mats Haggstrom, seorang turis dari Swedia yang ditemui ketika minta informasi ke Dinas Pariwisata Denpasar di Jalan Surapati.

“It was difficult to find traditional foods. We don’t have any guarantee several food stall here doesn’t make me sick,” he said. Mats sebelumnya berasumsi akan sangat mudah mendapatkan makanan tradisional asli dan beragam variannya di kota dibandingkan di Sanur atau Kuta.

Ia mengaku telah berkeliling ke sejumlah obyek wisata sesuai dengan brosur yang menjadi panduannya. Sayangnya, ia merasa tidak leluasa menjelajah karena kerepotan mengusir pedagang acung atau guide liar yang membuntutinya.

Merujuk data Dinas Pendapatan Bali, tahun 2009 ini, obyek wisata di Denpasar hanya ditargetkan memberikan kontribusi Rp 1 milyar pada APBD. Taman Budaya sekitar 60 juta rupiah karena hanya mengandalkan keramaian saat Pesta Kesenian Bali tiap tahunnya, dan Museum Bali sekitar Rp 107 juta.

Hanya Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang pada 2009 ini ditargetkan dapat meningkatkan pendapatannya lebih dari 150 persen dari tahun lalu, yakni Rp 313 juta.

Kepala Humas Monumen, AA Sapta Negara mengatakan monumen ini baru mulai ramai dikunjungi sejak 1996, lima tahun setelah monumen ini rampung dibangun pada 2001. Peletakan batu pertama saja pada 1988.

“Bangunan dengan arsitektur yang rumit ini baru hidup setelah kita isi dengan diorama yang atraktif dan bisa digunakan untuk umum,” katanya.

Ia meyakini, bagaimana pun bagusnya bentuk bangunan obyek wisata secara fisik, tak akan ramai dikunjungi jika bangunan terkesan mati tanpa aktivitas. [b]

Tags: DenpasarOpiniPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Next Post

Jadi Pemimpin di Indonesia Mesti "Ndableg"

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia