• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, July 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Ajeg Bali untuk Pariwisata Berwawasan Lingkungan

Dwicahya Sulistyawan by Dwicahya Sulistyawan
8 August 2012
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru, Opini
0
1

Pengembangan pariwisata tidak boleh merusak lingkungan, terutama pertanian.

World Tourism Organization (WTO) sebenarnya telah menggariskan kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Kebijakan ini menitikberatkan pada tiga hal, yaitu keberlanjutan alam, sosial dan budaya, dan ekonomi. Konsep ini secara jelas menjabarkan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh merusak alam, lingkungan, dan lahan terutama lahan pertanian.

Agrotourism merupakan model pengembangan pariwisata yang memiliki keterkaitan erat antara pertanian dan pariwisata.

Pesatnya pembangunan pariwisata di Bali tidak hanya menimbulkan dampak positif, seperti peningkatan pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejasteraan tetapi juga menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran, kemacetan lalu lintas, kerusakan lingkungan dan pengalihan fungsi lahan. Alih fungsi lahan ini terutama lahan pertanian yang dijadikan sebagai tempat pengembangan fasilitas dan sarana pariwisata, seperti hotel, restoran, objek wisata dan lain-lain.

Pengembangan pariwisata di Bali telah berkontribusi banyak terhadap kerusakan dan keseimbangan lingkungan, terutama pembangunan pariwisata yang memanfaatkan lahan pertanian baik lahan basah maupun kering. Di Kawasan Seminyak, Kabupaten Badung, banyak lahan pertanian sawah telah dialihkan fungsinya untuk pembangunan fasilitas pariwisata, seperti hotel, vila, bungalow, kafé, art shop dan lain-lain.

Dengan pembangunan sarana-sarana tersebut, maka sistem penyaluran atau distribusi air terhalangi beton-beton yang melintang dengan kokoh di wilayah tersebut. Akibatnya, air tidak bisa mengalir dengan baik ke seluruh areal persawahan.

Terhambatnya saluran air juga telah mengakibatkan masalah baru, banjir. Banjir ini terutama pada musim hujan. Air meluap ke permukaan saluran-saluran air kecil dan tidak lancar sehingga tumpah ke jalan. Sistem distribusi air yang dikenal sebagai “subak” dan sawah akan punah ditelan zaman. Derasnya laju pembangunan pariwisata akan menghilangkan sumber penghasilan utama masyarakat ini.

Melihat fakta ini, mungkinkah lingkungan, sawah dan subak bisa lestari? Dengan kerusakan ini pula, mungkinkah budaya luhur masyarakat Bali khususnya pertanian bisa ajeg?

Sisa Sampah
Pemanfaatan lahan pertanian untuk kepentingan pariwisata juga telah mengakibatkan kesenjangan antara industri pariwisata dengan pertanian. Permasalahan ini dilatarbelakangi oleh tidak seimbangnya pembagian hasil pemanfaatan pertanian untuk kepentingan pariwisata.

Kasus pemasangan seng agar nampak berkilau di persawahan warga di Ceking, Kabupaten Gianyar merupakan bukti nyata yang menggambarkan ketidakharmonisan hubungan antara petani dan industri pariwisata. Sawah warga yang elok dan indah dijadikan pemandangan bagi sejumlah restoran, kafé dan hotel. Namun, ironisnya, petani pemilik sawah indah tersebut tidak mendapatkan keuntungan sama sekali. Padahal sawah dan aktivitas pertanian mereka menjadi atraksi wisata.

Kekesalan petani pemilik sawah berujung pada pemasangan seng di sawahnya. Wisatawan pun mengeluh karena tidak bisa melihat pemandangan indah sebagaimana yang dijanjikan.

Contoh lain yang memiliki permasalahan hampir sama adalah di objek Desa Wisata Jatiluwih, Kabupaten Tabanan. Keindahan bentang alam persawahan di tempat ini bukan hanya diminati wisatawan domestik dan manca negara, tetapi juga anggota tim panitia pemilihan warisan alam dan budaya international. Karena keindahannya, Desa Wisata Jatiluwih pun menjadi salah satu Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage).

Fakta di lapangan, warga desa setempat dan pemilik sawah belum mendapatkan hasil dan keuntungan dari kegiatan wisata di daerahnya. Operator-operator wisata yang menjual paket wisata seperti sightseeing, cycling dan trekking di Desa Wisata Jatiluwih secara langsung membawa pemandu wisata (tour guide), keperluan makanan dan minuman dan peralatan kegiatan wisata dari kantornya masing-masing. Maka, masyarakat lokal sama sekali tidak mendapatkan keuntungan. Sebaliknya, masyarakat lokal hanya menerima sisa-sisa sampah dan jejak kaki para wisatawan.

Mungkin saja para operator wisata yang menjual paket wisata ke Jatiluwih tidak mengetahui bahwa kegiatan pertanian padi sawah yang mencakup pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan memerlukan biaya tinggi. Biaya yang dikeluarkan petani tersebut sama sekali tidak ditanggung para operator wisata. Semestinya, para operator tour yang menjual objek Desa Wisata Jatiluwih memberikan insentif kepada para petani. Dengan demikian petani tetap melakukan aktivitas pertanian dan membantu mengurangi beban biaya yang dikeluarkan petani.

Untuk menutupi kekurangan biaya kegiatan pertanian, beberapa petani sudah mulai mengembangkan sayapnya ke sektor peternakan ayam. Di sekitar kawasan Desa Wisata Jatiluwih telah tampak dibangun beberapa kandang ayam. Kandang ini mengurangi keindahan objek wisata. Tidak menutup kemungkinan bahwa di seluruh areal persawahan tersebut akan dibangun usaha peternakan ayam juga di masa datang. Usaha ini dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran udara oleh bau kotoran ayam tersebut.

Menakjubkan
Bagaimana menyinergikan pertanian dengan pariwisata? Pengembangan agrotourism merupakan model pengembangan tepat. Agrotourism juga bisa melengkapi model pengembangan pariwisata budaya yang dikembangkan Bali selama ini. Agrowisata merupakan pengembangan pariwisata berbasis pertanian, baik pemanfaatan aktivitas pertanian seperti membajak, menanam padi dan memanen sebagai objek wisata. Daya tarik lainnya adalah atraksi wisata maupun pemanfaatan hasil-hasil pertanian seperti beras, sayur dan buah untuk keperluan industri pariwisata seperti hotel dan restoran.

Bagus Agrowisata di Plaga, Kabupaten Badung, merupakan salah satu contoh objek agrowisata. Mereka memanfaatkan kegiatan pertanian organik sebagai daya tarik wisatanya. Wisatawan secara langsung bisa melihat beraneka ragam tanaman (sayuran dan buah) serta aktivitas pertanian masyarakat setempat. Selain itu, wisatawan juga bisa memetik buah-buahan secara langsung di sekitar areal Bagus Agrowisata sambil melihat pemandangan perbukitan indah dan menakjubkan. Adapun hasil pertaniannya digunakan untuk kepentingan hotel dan restoran yang khusus menjual makanan organik. Makanan organik merupakan makanan sehat dan menjadi tren bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Tidak semua pengembangan agrowisata bisa berjalan dengan baik. Agrotourism di Sibetan, Kabupaten Karangasem yang memanfaatkan kegiatan dan hasil pertanian salak, ikon buah Bali, sebagai objek dan daya tarik wisatanya tidak beroperasi sebagaimana yang direncanakan. Banyak faktor berkontribusi terhadap kegagalan pengelolaan agrowisata di tempat ini. Ketidakjelasan manajemen pengelolaan merupakan faktor utama. Objek agrowisata ini tidak dikelola dengan baik mulai dari penataan areal yang dijadikan objek, operasional kegiatan tour, dan sumber daya manusia.

Faktor lain adalah pemasaran. Objek Agrowisata Sibeten belum dipasarkan secara maksimal oleh manajeman pengelolanya. Akibatnya objek wisata ini belum banyak dikenal para operator tour yang menjual paket-paket wisata di Bali. Pemerintah khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem semestinya memetakan kembali objek-objek wisata di wilayahnya. Selanjutnya tinggal mempromosikan melalui media masa, televisi, internet dan media publikasi lain.

Selain manajemen dan pemasaran, kerjasama antar stakeholder pariwisata (pemerintah, LSM, masyarakat lokal, industri pariwisata, dan akademisi) belum berjalan dengan baik. Travel agent yang menjual paket wisata ke daerah Timur Bali berjalan sendiri-sendiri tanpa ada dukungan dari pemangku kepentingan pariwisata lain.

Kesimpulannya, pertanian sangat memungkinkan untuk disenergikan dengan pariwisata yang diwujudkan dalam pengembangan agrowisata. Perlu adanya komitmen dari seluruh pemangku kepentingan pariwisata untuk bersama-sama menerapkan kosep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Konsep yang di Bali sering disebut Ajeg Bali ini akan memadukan keberlanjutan sumber daya alam, sosial-budaya, dan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal. [b]

Tags: BaliOpiniPariwisataPertanian Berkelanjutan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dwicahya Sulistyawan

Dwicahya Sulistyawan

Related Posts

Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

15 June 2026
Next Post
I Wayan Beratha: Empu Seni Karawitan Bali

I Wayan Beratha: Empu Seni Karawitan Bali

Comments 1

  1. Ari Sudewa says:
    14 years ago

    situsnya bagus dan informasinya berguna sekali…
    Makasih 😀
    Mampir ya ke blogku Berbagi Ilmu

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Cerita Ironis dari Kehidupan Finansial Pekerja di Denpasar

Cerita Ironis dari Kehidupan Finansial Pekerja di Denpasar

13 July 2026
Dugaan Perdagangan Orang dan Penyekapan ABK di Benoa

Keliru Hukum dalam Persidangan Kasus TPPO KM Awindo 2A

13 July 2026
Ragam Praktik Mitigasi Bencana dan Krisis Air dari Yayasan IDEP

Ragam Praktik Mitigasi Bencana dan Krisis Air dari Yayasan IDEP

11 July 2026
Membaca Sudut Pandang Laki-Laki dalam Diskusi Bertema Perempuan

Membaca Sudut Pandang Laki-Laki dalam Diskusi Bertema Perempuan

10 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia