
Sekarang hidup pun memiliki dua kategori—hidup untuk bertahan dan hidup sejahtera. Hidup sejahtera mahal, karena makan dan tempat tinggal layak mahal.
Perantau bingung untuk mengatur biaya transportasi. Ojek online mahal, sewa motor mahal, beli motor pun tak mampu. Pertamax naik, antrean pertalite panjang. Langit terik, panas. Sedetik pun berharga.
Orang bilang “harus nabung,” nabung pun sulit karena tanggungan banyak—menanggung orang tua dan keluarga. Makanan saat ini mahal.
Transportasi umum tidak mencakup banyak daerah. Trotoar cuma di beberapa tempat, bahkan dijadikan tempat parkir.
Dikutip dari Dinas Ketenagakerjaan dan ESDM Provinsi Bali, upah minimum Provinsi Bali 2026 ditetapkan sebesar Rp3.207.459. Di tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Badung menetapkan standar tertinggi sebesar Rp3.791.002, disusul Kota Denpasar sebesar Rp3.499.879, sementara lima kabupaten lainnya mengikuti ketetapan UMP. Namun, bagi beberapa pekerja yang mengikuti forum diskusi pada tanggal 2 Juli 2026 ini membagi cerita keresahan terhadap kisah finansial mereka sehari-hari.
Hidup untuk bertahan dan hidup sejahtera
Seberapa jauh kehidupan sudah berjalan? Sampai-sampai kata “menjalani hidup” mengalami perluasan makna.
“Kalau hidup untuk bertahan hidup, seminggu makannya ayam geprek aja. Tapi hidup untuk sejahtera itu makanannya sehat kaya makan daging, protein banyak, dan lain-lain,” tutur Ganesa.
“Beda banget sih, ada banget—kalau bertahan hidup ya cukup untuk makan, tapi kalau sejahtera bisa jalan-jalan,” tutur Habibullah. Malam itu, empat anak muda tengah berbincang. Di sela-sela perbincangan, mereka menyelipkan keresahan mereka terhadap kehidupan finansial mereka sehari-hari.
Ketika ditemui secara bersamaan pada Kamis, 2 Juli 2026, Habibbullah dan Ganesa memperluas pemaknaan arti dari kata “hidup”. Cerita mereka menyimpulkan bahwa kata hidup saat ini memiliki dua makna—hidup untuk bertahan dan hidup sejahtera. Habibullah dan Ganesa secara tak langsung menjelaskan kedua konsep hidup tersebut memiliki parameter yang cukup signifikan yang terletak pada kualitas kesehatan.
Makan untuk bertahan hidup memiliki jumlah protein yang cukup sedikit. Ayam geprek yang umumnya dijual memiliki daging yang sedikit—kebanyakan berisi tepung, dengan rentang harga kurang lebih Rp15.000 – Rp20.000.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Sekar, pekerja di Denpasar. Ia menilai, makanan sehat umumnya dijual lebih mahal.
Hillary, pekerja lainnya membagikan cerita perihal makanan sehat yang umumnya dijual. “Sumpah, orang yang beli salad itu kaya banget. Harganya mahal,” tuturnya.
Masak pun sulit. Pekerja tidak memiliki waktu karena bekerja. Jahe bercerita perihal ini. “Aku biasanya beli makan sih. Soalnya, nggak sempet karena kerja,” ujarnya.
Memang nabung itu wajib?
Diskusi forum yang dilakukan pada tanggal 2 Juli 2026, yang dihadiri oleh lima orang, yakni Ganesa, Nicko, Mahesa, Habibullah dan Jahe (nama profesi), memberi informasi yang ironis perihal manajemen keuangan para pekerja yang ada di Bali. Informasi yang didapatkan menjelaskan bahwa pendapatan mereka selalu habis atau cukup selama sebulan.
Mahesa, seorang pekerja formal di bidang Informasi dan Teknologi di Denpasar, juga merupakan perantau yang berasal dari Tabanan, menyebut pendapatannya sangat cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya selama sebulan.
“Tidak memetakan, karena kondisi gaji itu benar-benar cukup, dan bahkan pengeluaran itu tidak menentu atau fluktuatif. Meskipun sisa, ya serpihan-serpihan saja, paling banyak itu Rp500 ribu. Pendapatan dari awal itu dipotong 20% buat ibu, baru makan sisanya,” tuturnya.
Habibullah, Jahe, dan Ganesa menjelaskan bahwa kebutuhan rumah tangga—peralatan mandi dan kebersihan rumah—bersama cicilan, biaya sewa, dan listrik menghabiskan hampir setengah, dari pendapatan mereka.
“Uang gaji habis untuk sewa kos, motor, cicilan, pinjaman atau paylater, dan ini hampir setengah dari gaji. Setengahnya lagi dipakai buat kebutuhan rumah tangga (sabun cuci, deodoran atau parfum, gosok gigi) yang menghabiskan kira-kira 500 ribu. Belum lagi dikurangi sama listrik, pulsa kuota, dan lain-lain,” ujar Habibullah.
Jahe disini menyebut seberapa besar persentase cicilan yang ia miliki dari pendapatannya. “Cicilanku 70% (cicilan motor dan lainnya) dari gaji, 30% itu pas makan doang,” tuturnya.
Sama halnya dengan Ganesa. “Pas-pasan banget. Sebulan tuh bener-bener habis. Itu kebanyakan paling besar di uang makan, dan cicilan (ada beberapa),” tutur Ganesa.
Mereka juga bercerita bahwa dengan kondisi pengeluaran mereka yang seperti ini, menabung bagi mereka sangat mustahil. Bahkan, mereka menyebutkan mengalami defisit pendapatan. Demi menyelamatkan diri dari defisit, mereka menggunakan fitur paylater atau dengan meminjam uang.
Informasi ini didukung oleh survei yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh BaleBengong untuk menilai upah layak di Bali. Survei ini disebarkan melalui aplikasi pesan singkat untuk mendapatkan responden yang sesuai dengan kriteria, yaitu warga yang tinggal maupun bekerja di Bali. Per 7 Juli 2026, survei ini telah diisi oleh 49 responden.
Dari hasil survei tersebut, 42.9% responden menyatakan tidak bisa menabung setiap bulan dengan penghasilan mereka per bulannya. Hanya 24.5% responden yang menyatakan dirinya bisa menabung, sedangkan 32.7% responden lainnya menjawab mungkin bisa menabung setiap bulan.
Hasil survei ini mewakili pernyataan Jahe, Ganesh, dan Habibullah yang mengaku tidak bisa menabung. Setiap bulan, mereka menghabiskan penghasilannya untuk bertahan hidup.

Transportasi dan adat merupakan aspek banal yang boros
Trans Metro Dewata (TMD) merupakan satu-satunya transportasi umum di Bali. Trayeknya melintasi wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita). Namun, tidak semua area dilintasi.
Selain TMD, tidak ada lagi pilihan transportasi umum yang tersedia, terutama transportasi pada titik penjemputan pertama (first mile). Pada akhirnya, masyarakat Bali dihadapkan pada dua pilihan, mengendarai kendaraan pribadi atau menggunakan layanan transportasi online.
Mahesa, yang sehari-hari menggunakan kendaraan pribadi, menghabiskan pengeluaran untuk transportasi sebesar Rp500.000 per bulan. Angka ini cukup besar dari jumlah pendapatannya per bulan.
Sementara itu, Habibullah mengalami dilema dalam mengakali pengeluaran untuk transportasi. “Karena disini kan transportasi umum tidak mencakup seluruh kota. Jadi, kesannya orang-orang sekarang tuh harus punya motor. Kalau beli motor kan ga worth it. Gojek juga mahal, sewa juga mahal,” sebutnya.
Kenaikan Pertamax pun membuat Ganesa kebingungan. Pasalnya, kantornya tidak bisa mengganti uang bensin karena harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik. “Waktu itu aku beli bensin Rp70.000 full pertamax. Tapi, kantornya cuma ganti sebesar Rp20.000. Pas aku request naikin Rp25.000, karena alasan pertamax naik, ditolak,” tuturnya.
Untuk merespons hal ini, Ganesa berencana untuk menyewakan motornya dan memilih untuk menggunakan sepeda sebagai transportasi sehari-hari.
Adat atau tradisi pula memberikan beban finansial terhadap Mahesa dan Jahe. Adat bukan lagi dianggap sebagai jaring pengaman sosial. Mahesa membagikan keresahan finansialnya dalam menjalani adat.
“Untuk adat, aku ngasih orang tua, maksimal banget harus Rp500.000 Kalau selebih itu, nggak bisa. Sekarang kan konteksnya sudah beda,” tuturnya.
Hal serupa juga dialami oleh Jahe. Ia menjelaskan sumbangan gereja sebesar 10% dari pendapatan terasa berat baginya.
Bagaimana definisi layak bagi mereka
Ketika para informan ditanyai mengenai definisi layak bagi mereka, jawaban mereka tidak hanya menyebutkan seberapa besar pendapatan yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka menjelaskan bagaimana infrastruktur kota seharusnya membantu kehidupan mereka sehari-hari.
Ganesa berharap bahwa pendapatan yang layak adalah pendapatan yang memungkinkan masyarakat bisa menabung. Seperti cerita finansial yang ia ceritakan sebelumnya, pendapatan yang ia dapatkan sangat cukup, bahkan defisit, untuk memenuhi kebutuhan esensial.
Habibullah memberi aspirasi yang sama. Juga, Habibullah menjelaskan bahwa harga hunian saat ini tidak wajar. “ Harga kos sekarang ga wajar. Harga kos sekarang tuh minimal Rp3.000.000,” ujarnya.
Mahesa, Jahe, Ganesa, Habibullah, dan juga Nicko menyampaikan aspirasi tentang infrastruktur kota—seperti air bersih, trotoar yang baik agar masyarakat bisa berjalan kaki, fasilitas kesehatan, dan transportasi umum yang merata. Selain itu, mereka menyoroti bagaimana tempat kerja seharusnya memberikan fasilitas yang layak kepada pekerjanya, seperti tunjangan uang makan dan transportasi.




