• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Dive Tag, Sambil Menyelam Mendukung Lingkungan

Anton Muhajir by Anton Muhajir
14 February 2016
in Berita Utama, Lingkungan
0
0
foto Nyoman Suastika
Foto Nyoman Suastika

Wisata menyelam (diving) masih menjadi salah satu wisata mahal di Bali.

Sekali menyelam, biayanya antara Rp 500.000 hingga Rp 600.000. Namun, meskipun mahal, nyaris tidak ada biaya yang dikeluarkan turis untuk konservasi lingkungan bawah laut.

Padahal, wisata menyelam sangat tergantung terhadap kondisi alam.

Hal serupa terjadi di Pantai Tulamben, salah satu titik menyelam favorit di Bali bagian timur. Pantai di sisi timur laut Bali ini memiliki daya tarik wisata menyelam dengan bangkai kapal sisa Perang Dunia II, USAT Liberty.

Tiap hari, lebih dari 100 penyelam, hampir semua dari mancegara terutama Eropa, menikmati bangkai kapal kargo berbendera Amerika Serikat tersebut. Namun, belum ada biaya yang diambil dari wisata menyelam untuk kegiatan konservasi.

Tulamben berjarak sekitar 120 km dari Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Desa yang menghadap Selat Lombok ini menjadi daya tarik utama wisata selam di Bali. Tulamben dengan USAT Liberty Wreck menjadi magnet bagi penyelam selain tempat menyelam lain, seperti Pulau Menjangan di Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Nusa Lembongan dan Nusa Penida di Klungkung, maupun Candi Dasa di Karangasem.

Bagi warga lokal seperti Nyoman Suastika, ratusan penyelam di Tulamben adalah berkah. Namun, di sisi lain juga bisa menjadi musibah bagi pelestarian ekosistem bawah laut jika tidak dikendalikan. “Apalagi karena hingga saat ini belum ada pendanaan berkelanjutan untuk pengelolaan lingkungan,” katanya.

Bersama teman-temannya sesama pemandu selam (dive guide) di Tulamben, sejak awal tahun 2016 Suastika menggagas sumber pendanaan berkelanjutan (crowd funding) untuk pengelolaan lingkungan. Bentuknya sederhana yaitu melalui pembelian pin untuk menyelam (dive tag).

“Ide membuat dive tag sudah muncul sejak tahun lalu setelah saya melihat sendiri di beberapa tempat lain ada yang menjual pin semacam itu,” katanya. Sejak awal pertengahan Januari lalu mereka pun menjual pin tersebut.

Dia menambahkan, tujuan pembuatan dive tag ini untuk penggalian dana dalam kegiatan konservasi, pembersihan, dan pembuatan terumbu karang buatan. “Karena selama ini memang belum ada dana untuk konservasi sama sekali,” katanya.

Pin berisi pesan Save Liberty Shipwreck. Sebagai permulaan, Organisasi Pemandu Selam Tulamben (OPST) yang mengorganisir penjualan tersebut menjual 250 biji pin. Hingga saat ini terjual sekitar 100 pin.

Tiap pin mereka jual seharga Rp 50.000. Suastika memberikan alasan kenapa harus dijual seharga tersebut: Rp 10.000 untuk biaya produksi, Rp 20.000 untuk kegiatan konservasi, Rp 10.000 untuk komisi penjual, Rp 5.000 untuk kas organisasi, dan Rp 5.000 untuk pengembalian modal.

Selain untuk konservasi lingkungan bawah laut, Suastika menambahkan, hasil penjualan tersebut memang juga untuk penambahan kas organisasi.

Organisasi pemandu selam di Tulamben sendiri baru berdiri pada Agustus 2015 lalu. Meskipun sudah diinisiasi sejak awal 2015, mereka baru disahkan oleh Kepala Desa Tulamben tepat pada perayaan 17 Agustus tahun lalu.

Menurut Suastika yang juga penggagas lahirnya organisasi pemandu selam di Tulamben, organisasi ini sebagai wadah untuk menghimpun pemandu lokal biar bersatu, terutama untuk setiap melakukan kegiatan seperti pembersihan di bawah laut. “Tujuannya untuk menjaga agar pariwsata di Tulamben bisa berkelanjutan dan bisa dinikmati oleh anak cucu kita ke depan,” tambahnya.

Secara rutin, organisasi ini mengadakan kegiatan bersih-bersih pantai.

Penyelam Tulamben 1
Foto Nyoman Suastika

Kemauan Membayar
Pengumpulan pendanaan dari kegiatan menyelam di Tulamben bisa menjadi salah satu upaya menarik melibatkan turis dalam konservasi lingkungan. Sebab, selama ini memang belum ada upaya khusus melibatkan turis dalam konservasi tersebut.

Menurut Koordinator Program lembaga swadaya masyarakat (LSM) Coral Reef Alliance di Bali I Made Jaya Ratha dana konservasi lingkungan pesisir termasuk besar. Antara lain untuk pemantauan ataupun rehabilitasi. Namun, menurut Jaya, pemerintah lokal maupun tingkat provinsi belum mengalokasikan dana cukup untuk konservasi tersebut.

“Karena itu pelu upaya mencari dana dari publik dengan cara-cara kreatif termasuk pembuatan dive tag,” ujar Jaya. Selama ini, dia melanjutkan, biaya konservasi atau pengelolaan lingkungan lebih banyak diperoleh secara suka rela. Selain dari warga juga dari LSM ataupun hotel-hotel di sekitar tempat penyelaman.

Coral Reef Alliance sendiri termasuk salah satu LSM yang mendukung ide pembuatan dive tag tersebut. Mereka juga membantu memesan dan menjualnya kepada apra turis.

Jaya mengatakan, pada dasarnya, turis-turis di Bali sangat mungkin untuk diajak terlibat dalam konservasi lingkungan. Dengan jumlah turis mencapai sekitar 6 juta per tahun, Bali bisa mendapatkan pendanaan berkelanjutan untuk pengelolaan lingkungan.

Pendapat Jaya senada dengan hasil riset Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud) Bali dan LSM Conservation International (CI) Indonesia pada Mei 2015. Dalam riset yang dilakukan di Candi Dasa dan Padangbai, dua lokasi wisata selam lain di Kabupaten Karangasem tersebut, sebagian besar turis mengaku bersedia jika dimintai tambahan biaya konservasi lingkungan.

Menurut hasil riset tersebut, ada dua faktor yang mempengaruhi kesediaan turis membayar dana insentif konservasi. Pertama, faktor produk pariwisata yang terdiri dari kualitas kebersihan, kualitas akomodasi, landscape daerah tujuan wisata (DTW) hingga fasilitas wisata. Kedua, faktor komunitas lokal terdiri dari informasi mengenai pencemaran dan tingkat intimitas wisatawan dengan masyarakat lokal.

Kesediaan untuk membayar tersebut seiring dengan besarnya keprihatinan turis-turis itu terhadap pencemaran lingkungan di pesisir Bali. Menurut riset tersebut, hampir 50 persen turis asing menyatakan tidak menyukai persoalan lingkungan, terutama sampah, di Bali.

Karena itulah perlu manajemen kawasan pariwisata termasuk perairan yang melibatkan berbagau komunitas, seperti organisasi pemandu selam.

Tulamben sendiri termasuk yang diusulkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Kabupaten Karangasem. Wilayah lain adalah Amed-Seraya Timur, dan Padangbai-Candidasa. Tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Tulamben memiliki situs kapal tenggelam dengan nilai sejarahnya. KKP Amed-Seraya memiliki keragaman jenis dan tingkat kelentingan karang yang tinggi dibanding kawasan lain di Bali.

Adapun KKP Padangbai-Candidasa memiliki karakteristik perairan yang berarus dengan upwelling tinggi. Karena itu, kawasan ini menjadi habitat yang sesuai untuk jenis tertentu, seperti hiu dan mola-mola. Selain itu di kawasan ini juga ditemukan spesies karang baru Euphylliabaliensis yang ditengarai sebagai spesies endemik dan hanya ditemukan di daerah ini.

Dengan pengeluaran turis di wilayah tersebut mencapai Rp 1,7 juta hingga Rp 2,2 juta per hari, dana Rp 50.000 untuk membeli dive tag seharusnya bukan apa-apa bagi mereka. Apalagi mereka bisa mendapatkan kenang-kenangan dive tag sebagai bukti dan suvenir bahwa mereka tak hanya menyelam tapi juga sudah membantu konservasi lingkungan. [b]

Tags: KarangasemKomunitasLingkungan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Next Post
Musik dan Amal di Bali Reggae Star Festival 2016

Musik dan Amal di Bali Reggae Star Festival 2016

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia