• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Jalan Kaki di Bali: Panas Tanpa Pohon Peneduh, Diserempet Pula

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
16 October 2024
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Cuitan di X yang direpost oleh akun X BaleBengong. Foto: tangkapan layar X

Beberapa waktu lalu saya melihat perdebatan di X mengenai aktivitas pengguna trotoar di Bali. Pemantiknya adalah suatu foto yang memperlihatkan sebuah motor diparkir di trotoar, sehingga menghalangi pejalan kaki yang hendak melintas. Pengguna X merespons bahwa sebenarnya warga Bali tidak malas jalan kaki, hanya saja fasilitas pejalan kaki di Bali sangat minim. Sekali pun fasilitas pejalan kaki tersedia, fasilitas tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Sebagai masyarakat Bali, saya sendiri jarang jalan kaki, bahkan untuk sekadar ke toko di dekat rumah. Ada dua alasan yang membuat saya tidak memilih untuk jalan kaki, fasilitas yang tidak memadai dan kebiasaan mengendarai motor dalam jarak dekat. Sebelum pemerintah gencar membangun trotoar, fasilitas pejalan kaki di sepanjang jalan rumah saya sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali.

Setelah trotoar selesai dibangun, saya mencoba untuk berjalan beberapa kali ke tempat-tempat di sekitar saya. Rasanya sangat nyaman dan aman, berbeda dengan berjalan kaki tanpa trotoar. Sebelumnya, saya merasa sangat was-was, apalagi jalanan di sekitar rumah saya tergolong cukup ramai, tentunya takut diserempet oleh pengendara motor. “Ibu besok mau jalan-jalan, mumpung trotoarnya udah jadi,” begitu ucapan ibu saya yang bersemangat untuk berjalan-jalan.

Pejalan kaki di daerah Ubud. Foto oleh: Dewa Kresnanta

Namun, berjalan kaki hanya cocok dilakukan ketika sore hari. Pasalnya, matahari terasa sangat terik seakan membakar kulit. Bagaimana tidak, pembangunan trotoar di daerah rumah saya dibarengi oleh penebangan pohon di sepanjang jalan. Tidak ada lagi pohon rindang yang melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Jangankan berjalan kaki, naik motor tanpa mengenakan jaket saja rasanya kulit terbakar. Bahkan, hal ini juga dikeluhkan oleh tetangga saya. “Aduh panas ne jani Yu, to gara-gara jani sing ade punyan (Aduh sekarang panas sekali, itu gara-gara nggak ada pohon,” keluh tetangga saya ketika saya berkunjung ke rumahnya.

Trotoar jelas merupakan fasilitas pejalan kaki, tetapi masyarakat menggunakan sesukanya, sering kali untuk parkir kendaraan. Hal ini menyebabkan pejalan kaki yang ingin melintasi trotoar harus turun ke bahu jalan. Selain untuk parkir kendaraan, di daerah yang sangat padat kendaraan bermotor, trotoar tentu digunakan untuk menghindari kemacetan. Hal ini diungkapkan oleh teman saya, Mahar, yang bekerja di Canggu dan merasakan kepadatan daerah tersebut. “Bahaya banget ngadepin bule yang meresahkan kalau naik motor,” ucap Mahar yang siang itu hendak keluar untuk membeli makanan, tetapi terpaksa harus berjalan kaki karena jalan di depan kantornya masih proses perbaikan trotoar. 

Dia mengeluhkan panasnya jalanan saat itu dan perjuangannya menghadapi tindakan pengendara motor yang meresahkan karena menggunakan ruang pejalan kaki untuk berkendara. Daerah di sekitar tempat kerjanya memang belum memiliki trotoar yang memadai, tetapi terdapat ruas jalan yang bisa digunakan oleh pejalan kaki. Namun, ruas jalan tersebut juga cukup membahayakan karena banyak pengendara motor yang melewati ruas jalan tersebut.

Itak, seorang pekerja di daerah Gatot Subroto Timur juga mengeluhkan hal yang sama. Ia memilih jalan kaki untuk menghindari macetnya kawasan Denpasar. Sialnya, saking macetnya ruas jalan, kendaraan roda dua malah mengambil akses trotoar. “Kita yang jalan jadi kayak mau ditabrak gitu,” keluh Itak.

Selain kurangnya fasilitas pejalan kaki, kebanyakan masyarakat Bali memiliki kebiasaan mengendarai motor, bahkan untuk menempuh tempat berjarak dekat. “Tentu tidak Gek, aku jalan di rumah aja karena rumah sama dapurku jauh,” ujar Melani yang saat ini tengah bekerja di salah satu sekolah menengah di Badung. Melani sama sekali jarang berjalan kaki, kecuali ketika ada upacara keagamaan atau berjalan kaki di pekarangan rumahnya. Ia lebih memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor karena menurutnya lebih cepat sampai dan tidak aman untuk berjalan kaki. Tidak aman dalam artian tidak ada fasilitas atau trotoar yang aman dan nyaman untuk pejalan kaki.

Dari berbagai pengalaman tersebut, salah satu faktor terbesar minimnya aktivitas jalan kaki di Bali adalah fasilitas yang tidak mendukung. Pada satu tempat memang terdapat trotoar, tetapi sayangnya pembangunan trotoar tersebut dibarengi oleh penebangan pohon peneduh. Di sisi lain, ketika ada trotoar dan pohon peneduh yang layak, akses trotoar malah direbut oleh pengendara motor. 

kampungbet
Tags: akses pejalan kakiemisi balitrotoar bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

Potensi Panas Ekstrem di Bali: Apakah Pulau ini Sudah Bersiasat Meredamnya?

18 February 2026
Sanur Bercerita: Menyusuri Jejak dan Harapan

Sanur Bercerita: Menyusuri Jejak dan Harapan

20 September 2025
Bali dan Sumbar Menekankan Peran Desa Adat untuk Krisis Iklim

Bali dan Sumbar Menekankan Peran Desa Adat untuk Krisis Iklim

26 August 2025
Pertemuan Dua Pemimpin Daerah dalam Inovasi Iklim

Pertemuan Dua Pemimpin Daerah dalam Inovasi Iklim

20 August 2025
Jalan Terjal Target Energi Bersih Bali

Pekan Iklim Bali: Titik Temu Ambisi dan Aksi Iklim

19 August 2025
Sanur Berbenah, dari Shuttle Hingga Perluasan Trotoar

Sanur Berbenah, dari Shuttle Hingga Perluasan Trotoar

14 August 2025
Next Post
Menyimak Uji Publik Calon Pemimpin Bali: Made Muliawan Arya – Putu Agus Suradnyana

Menyimak Uji Publik Calon Pemimpin Bali: Made Muliawan Arya – Putu Agus Suradnyana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia