Yang Tersisa Usai Banjir Melanda

[nggallery id=12]

Garu mesin ekskavasi atau bego itu masih bekerja di sisi barat jalan Tukad Baru, Pemogan.

Rabu sore itu, ia menimbuni lobang di tembok bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Badung, Pemogan, Denpasar Selatan. Di sana, ada tiga jebolan di titik berbeda. Kesemuanya, kata Nyoman Sudarita, kepala operasional trash racks Sungai Badung di Pemogan, akibat derasnya aliran air hujan pada Selasa (8/10). Malam itu hujan lebat datang. Ia beserta beberapa kru telah siaga sejak sore.

“Standar Operasi Prosedur banjir di sini, jika ketinggian air melebihi 3 meter, sebanyak 2 atau 3 modul jaring mesin trash racks akan dilepaskan,” ujarnya.

Tujuannya, untuk membiarkan arus air lewat dengan lancar. Dalam keadaan normal modul-modul ini tetap dipasang untuk menjerat sampah dan disirkulasikan ke dalam bak penampung. Untuk melepasnya mesti ditarik dari bawah. “Selasa sore sebelum hujan kami sudah melepaskan 6 modul,” tambahnya.

Sedangkan bila ketinggian air melebihi batas fiskal; 4,45 meter, maka mesin trash racks akan dimatikan. Ini untuk menghindari konslet karena radiasi listriknya yang dekat dengan pemukiman. Karena itu, ia memiliki gardu tersendiri.

Nyatanya, air Selasa malam itu melebihi batas fiskal. Ketinggian debit air yang mengalir di DAS itu mencapai 5,35 meter. Angka tertinggi sejak tahun 2008 yang menyentuh ketinggian 4,4 meter. Jejak terjangan air itu membekas di tembok bantaran yang compang comping digerus air, Nyoman menghitung kasar, ada sedikitnya 6 titik jebol dari DAS Pemogan hingga Jalan Pulau Roon, Denpasar Barat.

Menurut Nyoman, tinggi­ tembok bantaran sungai sekitar 8 meter; 5 meter bagian bawah dan 3 meter bagian atas. Kedalaman sungai di bagian pinggir mencapai 5 meter dan di bagian tengah mencapai 6 meter. “Rabu subuh itu, kami masih kerja. Temboknya itu rubuh sekitar jam 2 pagi. Kami lihat temboknya jebol, kena dorongan air yang masuk dari atas dan dari samping,” urainya. Reruntuhannya masih mengumpul. “Curah hujannya tinggi,” kata Nyoman.

Hujan di minggu kedua November itu adalah hujan yang terlambat. “Biasanya banjir-banjir besar itu datang di bulan Oktober. Tapi sekarang datang di bulan November. Banyak yang bilang ini mundur ada juga yang  bilang ini maju,” jelas Nyoman.

Rabu sore itu mendung. Hujan gerimis. Nyoman dengan seragam dinasnya masih siaga ditemani waker dan tukang sapunya.

“Ada janji dengan orang, teknisi yang mau memperbaiki mesih trash racksnya,” ungkapnya. Hari itu, mesin tak bisa jalan akibat korslet semalam. Ia tak bisa beroperasi menggaru sampah di DAS itu. Mesin ini buatan Jerman. “SK operasional kerja mesin ini keluar di bulan Mei 2008,” ujarnya. Ialah yang berfungsi menjaring sampah yang masih  mengalir di sungai.

“Kita juga mesti menjaga, selain Bali ini terkenal sebagai daerah pariwisata juga sebagai pencegahan saat musim hujan seperti sekarang,” terangnya.

Korban
Kerugian akibat banjir itu telrihat pula di bantaran. Bayi-bayi ikan nila itu barangkali tak akan sampai di muara sungai. Atau akan mati percuma seperti kawanannya yang telah jadi bangkai. Mereka terjebak di selokan di bangunan atas DAS. Baunya amis. Sebagian dari mereka menggelepar kekurangan air. Jelas selokan itu bukan habitatnya. Itu jaraknya sekitar 5 meter tingginya dari batas bawah bibir sungai. Mereka terhanyutkan dengan jarak yang cukup jauh.

Tembok jebol dan kisah ikan-ikan nila itu adalah dua jejak sisa hujan Selasa malam di sana. Selain lumpur-lumpur yang masih membelepoti beberapa jalan di pinggiran Sungai Badung dekat Pasar Badung. Seorang korban, Alvin yang terhanyut selasa malam, saat jembatan di Jalan Pulau Biak amblas, jasadnya masih dicari hingga Rabu Sore di aliran DAS di Jalan Tukad Pemancingan. Putu Supriana, Humas Tim Sar Denpasar, mengatakan pencarian akan dilakukan selama seminggu.

“Puncak-puncak banjir, biasanya dari Januari – April ,” ujar Nyoman. Sejak 2003 ia telah menjaga bendungan di Umadui. Dan tahun 2008 ia baru dipindahkan ke Pemogan. Ia tampak seperti orang yang empiris. Kamis pagi, ia dan beberapa kru, menyelam di sungai. Mencari modul yang ikut hanyut. “Satu belum ketemu posisinya, takutnya datang banjir susulan akan ikut tertimbun,” jelasnya.

Tanah di Denpasar, lanjutnya, agak labil. Sehingga rawan banjir dan rawan gempa. “Mirip jakarta,” ujarnya. Selasa sore saat berjaga, kira-kira pukul tiga ia mengaku merasakan gempa.

Denpasar tentu tak mesti mirip dengan Jakarta. Yang saat hujan kerap terjadi banjir. “Sering banjir, dikarenakan air got tidak mau mengalir lancar ke sungai. Coba kalau lancar, tidak akan tersendat,” sahutnya.

Got tersumbat. Lahap resapan air menciut. Sampah menumpuk. Mungkin sudah banyak kali kita temui di surat kabar. Juga orangorang yang bicara ini itu. Sekarang, tinggal ambil langkah. Mau bergerak atau cuek. Gimana? [b]