
Penampahan Galungan disertai rintik hujan, kopi kedua di siang hari membawa gawai pada berita di medsos tentang ‘Pasar Beringkit akan menjadi Mall ‘
Sambil membersihkan sampah sisa penjor saya bergumam , apakah sepenting itu mall bagi masyarakat kita hari ini. Mall lagi, Mall lagi.
Ketika berbicara tentang ruang, kita sebenarnya sedang berbicara tentang manusia. Setiap tempat—baik itu pura, rumah tinggal, bale banjar, maupun pasar—selalu menyimpan cerita mengenai siapa yang hidup di dalamnya, bagaimana mereka berinteraksi, dan nilai apa yang mereka pegang. Maka, bagi saya pribadi, rencana mengubah Pasar Beringkit menjadi mall modern bukan sekadar urusan bangunan fisik, tetapi menyentuh hal yang jauh lebih mendasar: keberlanjutan hidup masyarakat di dalamnya.
Sebagai orang yang cukup sering berbelanja di Pasar Beringkit, terutama saat hari Minggu, saya menyaksikan sendiri bagaimana pasar ini menjadi ruang hidup bagi banyak keluarga. Para pedagang kecil, petani desa, tukang angkut barang, penjual makanan tradisional—semuanya saling bertemu dalam satu ritme yang sudah berlangsung puluhan tahun. Ada tawa, ada tawar-menawar, ada cerita yang mengalir begitu saja. Ruang seperti itu tidak bisa digantikan oleh mall yang serba rapi dan serba cepat.
Bahkan istri dan anak2 satu paket, beberapa kali saya boyong untuk menikmati , sapi yang baru turun dari truk, ayam warna warni, penjual tanaman hias, perabot rumah tangga sedetail2nya, alunan pedagang musik tradisional, serta. Tentu saja kulinernya. Ada jejeran tempat makan menarik pada sisi utara pasar. Ngangenin.
Ruang dan Ketimpangan yang tak Terlihat
Dua tokoh besar dalam teori sosial, Karl Marx dan Antonio Gramsci, sebenarnya pernah menjelaskan bagaimana ruang dan ekonomi saling berkaitan. Saya tidak bermaksud mengulang teori mereka secara rumit, tetapi ada satu hal penting yang relevan untuk kita renungkan. Marx mengingatkan bahwa ketimpangan sering terjadi karena segelintir orang menguasai sumber ekonomi, sementara kelompok kecil—seperti pedagang pasar—bergantung pada ruang yang mereka bisa akses. Ketika pasar rakyat diganti mall, ruang itu berpindah dari “ruang rakyat” menjadi “ruang modal besar.” Biaya sewa naik, aturan menjadi ketat, dan pedagang kecil perlahan terpinggirkan. Ini bukan sekadar pembangunan, tetapi “pergeseran kekuasaan”—dari mereka yang hidup pas-pasan kepada mereka yang punya modal besar.
Di sisi lain, Gramsci mengingatkan bahwa penyingkiran seperti ini sering terjadi secara halus melalui “narasi modernisasi.” Kita sering mendengar istilah seperti “menata supaya lebih modern,” “menaikkan kelas kawasan,” atau “menarik investor.” Kata-kata ini terdengar bagus, tetapi tanpa kita sadari, narasi itu menutupi kenyataan bahwa yang dikorbankan adalah kehidupan masyarakat kecil. Konsep Gramsci ini membantu kita memahami mengapa banyak orang menerima perubahan yang sebenarnya tidak menguntungkan mereka: karena bahasa modernisasi sering membuat kita lupa menanyakan satu hal sederhana—siapa yang benar-benar diuntungkan?
Pasar Beringkit sebagai Ruang Sosial Bukan Sekadar Tempat Dagang
Sebagai pengguna, dan penikmat tata ruang & arsitektur, saya selalu meyakini bahwa pasar tradisional adalah salah satu ruang paling penting dalam kota. Di sinilah terjadi interaksi paling egaliter: siapa saja bisa datang, berjual beli, berbagi cerita, bahkan sekadar bertemu tanpa merasa terasing. Ruang seperti ini organik—tumbuh dari kebiasaan dan kebutuhan warga, bukan dari konsep desain yang dipaksakan. Mall memang bersih dan ber-AC, tetapi mall tidak menyediakan ruang interaksi yang setara. Di mall, kita datang sebagai konsumen, bukan sebagai bagian dari komunitas. Ruang mall diatur oleh logika komersial, bukan kebutuhan sosial. Jika Pasar Beringkit berubah menjadi mall, bukan hanya pedagang kecil yang kehilangan tempat, tetapi kita semua kehilangan ruang sosial yang sudah menjadi bagian dari memori kolektif Badung.
Saya berkeyakinan Pemda Badung terus berupaya untuk memperbaiki kualitas lingkungan terbangunnya. butuh penataan. Tentu saya sepakat dan tidak menolak modernisasi. Upaya perbaikan tata ruang kota harus dilakukan yang terus menerus. Tetapi modernisasi tidak harus berarti menggusur pasar rakyat. Pemerintah bisa memilih jalan yang lebih bijak: merevitalisasi Pasar Beringkit, memperbaiki fasilitasnya, menata sistem pengelolaannya, membuat area lebih nyaman tanpa menghapus karakter kerakyatannya. Revitalisasi seperti ini pernah berhasil di banyak tempat: pasar diperbarui, tetapi pedagang kecil tetap diberikan ruang dan prioritas. Model seperti inilah yang menurut saya lebih manusiawi dan lebih sesuai dengan nilai-nilai kita di Bali—nilai yang selalu menempatkan manusia dan komunitas sebagai pusat.
Menjaga Ruang dan Kesetaraan
Pasar Beringkit bukan hanya sumber ekonomi bagi ratusan keluarga, tetapi juga ruang budaya, ruang interaksi, dan ruang identitas. Ia adalah tempat di mana masyarakat kecil bisa hidup, berkarya, dan berjejaring secara setara. Mengubahnya menjadi mall berarti menghilangkan ruang hidup yang selama ini menjadi fondasi ekonomi rakyat kecil. Sebagai penikmat pasar Beringkit, saya kira kita perlu menyampaikan bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tidak meninggalkan siapa pun. Ruang harus menjadi tempat semua warga bisa hidup berdampingan, bukan hanya mereka yang mampu membayar. Menjaga Pasar Beringkit berarti menjaga ruang hidup masyarakat kecil. Dan ketika kita menjaga ruang mereka, sesungguhnya kita sedang menjaga jati diri kota kita sendiri.
(Detra – I Dewa Gede Putra, Arsitek & Pengajar di Prodi Arsitektur, Universitas Udayana)










