• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Tiga Hari Keliling Pulau Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
7 July 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Travel
0
5

tulamben03

Mumpung masih musim liburan, mari kita jalan-jalan.

Tapi, kali ini bukan jalan-jalan biasa. Kalau cuma ke Kuta, Nusa Dua, Tanah Lot, dan semacamnya sih sudah biasa. Sudah terlalu mainstream. Maka, mari kita mencoba sesuatu yang berbeda, keliling Bali dalam tiga hari.

Kami melakukannya awal Juni lalu. Selama tiga hari, dari Jumat sampai Minggu, kami jalan-jalan dari Denpasar – Tulamben – Lovina – Pupuan – Denpasar.

Perjalanan kami mulai pada Jumat sore, sekitar pukul 14.30 Wita. Rute pertama kami, saya dan anak istri, adalah Denpasar – Tulamben. Kami memilih rute ini karena lebih santai dan cepat dibanding, misalnya Denpasar – Negara. Dari Denpasar ke Tulamben kami perlu sekitar 2,5 jam. Sepi dan lancar. Kalau Denpasar – Negara pasti lebih lama dengan lalu lintas pasti ramai karena jalur ini adalah jalur utama Jawa – Bali.

Rute Denpasar – Tulamben ini asyik karena melewati Jalan By Pass IB Mantra hingga daerah Kusamba, Klungkung. Jalan ini lebar dan kendaraan relatif sepi.

Sebagai titik istirahat, rute ini punya beberapa tempat, seperti Pantai Lebih di mana terdapat deretan warung makan dengan menu khas nasi sela (campuran dengan singkong) dan sate lilit ikan laut. Pantai ini ada di daerah Gianyar, sekitar 1 jam perjalanan dari Denpasar.

Tapi, kami melewatinya. Begitu pula dengan titik istirahat lain yang sebenarnya memang menarik yaitu Pesinggahan, perbatasan Karangasem – Klungkung, Candidasa, Taman Ujung, dan Tirta Gangga di Karangasem. Kami melewati titik-titik asyik itu biar tidak keburu malam ketika sampai di Tulamben.

 

penimbangan01

Kapal Tenggelam
Benar saja. Ketika kami tiba di Tulamben, langit sudah agak gelap. Petang sudah datang. Karena itu pula kami tak bisa menikmati banyak pantai ini.

Tulamben adalah kawasan pantai di sisi timur pulau Bali. Pantai berbatu hitam ini menghadap Selat Lombok. Karena itu dari sini bisa terlihat Gunung Rinjani di seberang sana. Anggun dalam temaram senja.

Namun, daya tarik utama Tulamben adalah dunia bawah lautnya. Di sini pernah ada kapal perang yang tenggelam pada saat Perang Dunia II. Bangkai kapal milik Amerika Serikat ini yang membuat Tulamben diserbu para penyelam dari banyak negara, terutama Eropa.

Di Tulamben banyak pilihan tempat menginap. Kami mencari paket hemat saja, Rp 200.000 per malam. Ada juga dengan tarif Rp 50.000 per malam tapi harus berbagi kamar dengan sekitar enam penghuni lain. Ada pula yang tarifnya jutaan. Banyak pilihan.

Karena posisinya menghadap ke timur, sebenarnya Tulamben pas banget untuk menikmati matahari terbit. Sayangnya kami tak bisa melakukan ritual ini karena mendung.

Tapi, pemandangan tetap asyik. Ombak bergulung-gulung tak berhenti datang ke pantai menerjang bebatuan dan menyisakan putih buih. Sementara itu di ujung sana Pulau Lombok dan Gunung Rinjani terlihat samar-samar. Di sisi barat, sang patok bumi Bali, Gunung Agung terlihat dekat dan bersahabat.

 

penuktukan01

Penasaran
Sekitar pukul 10, kami melanjutkan perjalanan dengan rute kedua, Tulamben – Lovina. Rute ini benar-benar baru bagi kami. Saya sendiri belum pernah lewat jalur ini sebelumnya. Karena itu pada awalnya agak ragu. Tapi, ternyata jalur ini bagus juga.

Secara umum jalur ini datar dan mulus. Hanya di dua atau tiga tempat di dekat perbatasan antara Karangasem – Buleleng yang agak rusak. Di salah satu titik malah sedang ada perbaikan jalan.

Jika perjalanan lancar dan tak berhenti sama sekali, jalur Tulamben – Singaraja bisa ditempuh sekitar dua jam. Tapi, karena kami santai dan berhenti beberapa kali, maka tiga jam kemudian kami baru tiba di Singaraja.

Di rute ini, ada dua lokasi yang membuat kami berhenti. Pertama, Penuktukan di Kecamatan Tejakula. Nama desa ini sudah saya baca beberapa kali dari tulisan Fadlik Al-Iman di BaleBengong. Karena itu, saya penasaran untuk mampir dan melihat desa nelayan ini.

Ternyata memang menarik. Ketika kami tiba di sana, ada sembilan orang sedang membuat rumah ikan (fish dome) sebagai bahan untuk merehabilitasi terumbu karang sekaligus rumah bagi ikan. Cerita khusus soal ini di tulisan lain saja.

Tempat kedua adalah Pura Ponjok Batu di kecamatan sama, Tejakula. Pura ini menarik karena menyediakan tempat istirahat berupa balebengong di pinggir pantai. Tentu saja bisa sembahyang pula di sini.

Setelah itu baru kami melanjutkan perjalanan langsung ke Singaraja meskipun ada beberapa tempat yang menggoda untuk disinggahi seperti pemandian air hangat, air terjun, maupun pantai.

Sekitar pukul 1, kami tiba di Singaraja. Niat awalnya makan menu khas kota tua ini. Apa daya seorang teman mengajak makan murah meriah di restorannya. Kami mau saja sebelum kemudian lanjut ke tempat lain, Pantai Penimbangan.

Asyiknya Pantai Penimbangan karena selain dia adalah pantai juga karena di sini banyak warung tenda dengan menu khas Buleleng. Ada jual pisang bakar, roti bakar, jagung bakar, dan… belayag! Nama terakhir adalah menu khas semacam ketupat dengan kuah sangat kental dan pedas. Rasanya mak jaaan!

pupuan02

Pegunungan
Dari pantai tempat anak muda Singaraja bergaul ini, kami melanjutkan keliling Bali lewat Lovina. Kami menginap di kawasan wisata ini. Tempatnya ramai dan banyak pilihan hotel. Kami pilih hotel murah meriah, Rp 150.000 per malam namun kamarnya ternyata lebih luas dibandingkan di Tulamben.

Atraksi wisata yang terkenal di Lovina adalah mengejar lumba-lumba. Tarifnya Rp 60.000 per orang. Tapi, karena kami sudah pernah jadi tidak usah melakukan lagi. Kami jalan-jalan di pantai saja.

Hal berbeda di Lovina saat ini adalah karena ada dermaga di pantainya. Dermaga ini jadi tempat warga nongkrong duduk minum kopi, ngobrol, atau hanya diam menikmati tenangnya ombak Lovina. Banyak pula warga yang berolahraga di pantai saat sore atau pagi hari.

Sekitar pukul 10 pagi, kami melanjutkan rute terakhir, Lovina – Denpasar lewat Pupuan. Kami memilih jalur ini biar ada variasi, tidak terus menerus lewat jalan datar dan relatif lurus. Jalur terakhir ini menanjak dan berkelok-kelok karena melewati pegunungan.

Maka, perjalanan pun jadi berbeda. Jika pada rute dua hari pertama kami lebih banyak menikmati pantai, maka pada jalur ini kami menikmati kebun, bukit, lembah, dan sawah. Sepanjang jalan, aroma cengkeh dijemur, kopi disangrai, dan aneka aroma lain menghiasi perjalanan.

Ada beberapa titik yang asyik untuk berhenti dan menghirup segarnya udara pegunungan sambil menikmati hijaunya pemandangan. Tapi kami kok pengen cepat-cepat sampai di Denpasar. Maka, kami pun melewati begitu saja titik-titik keren tersebut seperti di Kekeran, Pupuan, Blimbing, dan banyak lagi yang tak saya ingat satu per satu. Kami hanya berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh hasil bumi di sekitar Pujungan.

Sekitar pukul 2 kami tiba di Denpasar setelah sempat berhenti makan siang di Tabanan. Ternyata tiga hari keliling Bali pun selesai sudah. Masih banyak tempat yang belum kami kunjungi dan nikmati selama perjalanan tiga hari itu. Kapan-kapan kami pasti keliling lagi. Mau ikut? [b]

Tags: BaliTravel
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Next Post
Minimnya Pengolahan Pascapanen Rumput Laut

Minimnya Pengolahan Pascapanen Rumput Laut

Comments 5

  1. Agus Lenyot says:
    13 years ago

    Seharusnya kalau mau benar-benar ‘keliling Bali’, perjalanan pulang dilanjutkan dari Lovina ke Gilimanuk dan dari Gilimanuk ke Denpasar. Nah, itu baru pas mengelilingi seluruh jalan pantai di Bali 😀

    Reply
    • Anton Muhajir says:
      13 years ago

      hahaha. rencana awal begitu, nyot. sekalian mampir cari ayam betutu gilimanuk. tapi setelah pikir-pikir mending lewat jalur alternatif lovina – pupuan – denpasar. biar ada variasi jalan tidak lurus terus.

      Reply
  2. akriko says:
    13 years ago

    obyek wisata disekitar sini sudah biasa bagi kita yang ada disini, tetapi mungkin bagi orang di luar sana pasti sangat ingin datang dan melihat langsung obyek wisata tersebut.

    Reply
    • Anton Muhajir says:
      13 years ago

      bagi warga di sini pun mungkin biasa tapi belum tentu pernah mengunjungi semua. 😀

      Reply
      • akriko says:
        13 years ago

        :d itu perlu banyak waktu untuk bisa mengunjungi semua, dari paling dekat sampai yang paling jauh yang ada di Bali…

        Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia