• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, January 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Tariakan: Irama dari Dewata, Panggung Tari Kekinian

Kresnanta by Kresnanta
12 August 2025
in Agenda, Kabar Baru, Musik
0
0

Selama ini, pertunjukan tari yang sering saya tonton biasanya hadir sebagai bagian dari seremoni adat atau pementasan di sekolah, kampus, maupun tempat pertunjukan umum lainnya, dengan gerakan yang ketat mengikuti pakem. Keindahan itu tak terbantahkan, tapi sering kali mengabaikan fleksibilitas dan keterbukaan terhadap tren kekinian. Di tengah pola tersebut, pertunjukan “Tariakan: Irama dari Dewata” muncul dengan koreografi yang unik.

Pertunjukan ini diinisiasi oleh Cerita Beda Hak Sama (CBHS), komunitas kolektif anak muda pelaku seni yang juga aktif dalam gerakan sosial untuk membuka kesempatan setara di bidang pendidikan dan seni pertunjukan, tanpa memandang latar belakang. Penampilan Tariakan di Bali pada Minggu, 27 Juli 2025 di Nusa Dua Theatre menjadi pertunjukan terakhir mereka setelah sebelumnya tampil di Jakarta. 

Atmosfer panggung terasa istimewa sejak awal. Setelah menukarkan e-tiket via WhatsApp, saya diarahkan ke kursi di tengah, posisi yang memberi pandangan sempurna ke panggung. Tata panggungnya ciamik, mengingatkan pada pertunjukan kabaret dengan pencahayaan penuh warna dan detail dekorasi yang rapi. Nusa Dua Theatre yang biasanya menjadi rumah bagi Devdan Show malam itu sepenuhnya menjadi panggung Tariakan.

Acara dibuka dengan penampilan lima anak mengenakan kostum daerah, menyanyikan lagu tradisional dan nasional Indonesia. Suara mereka merdu, gerakannya sederhana namun memikat. Narator sekaligus dalang lalu membacakan sinopsis singkat yang membawa penonton ke dunia fiksi Nusantari, negeri di mana tari adalah bahasa pemersatu sekaligus alat perubahan sosial. Warga Nusantari terbagi menjadi lima faksi: petani, buruh, kubu orang liar, konglomerat, dan massa.

Kelompok petani
Kelompok buruh
Kelompok konglomerat
Kubu orang liar (KOL)
Kelompok massa dan dalang Tariakan

Dilansir dari Instagram CBHS, pertunjukan ini menjadi ruang ekspresi seni lintas pelajar dan mahasiswa di Bali. Kelompok buruh diperankan oleh Vampyra Dance dari SMA Negeri 1 Sukawati, memadukan hip-hop dengan musikalisasi. Kelompok petani dibawakan oleh UKM Satyam Siwam Sundaram dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dengan koreografi garapan Reska Primadita yang memadukan gerakan kontemporer, unsur tengklung (silat), dan properti capil atau topi petani. 

Kubu orang liar dan kelompok massa diperankan oleh Barachii Dance Crew. Koreografi kubu orang liar menggabungkan dasar hip-hop dengan sentuhan komedi kontemporer, bahkan mengambil inspirasi dari tren TikTok yang membuatnya terasa dekat dengan penonton. Sebagai kelompok massa, mereka tampil dalam formasi baru bernama NewGen dengan koreografi Kael, menggabungkan gaya urban contemporary dan hip-hop. Selanjutnya, kelompok konglomerat diperankan oleh penari Devdan sebagai tuan rumah panggung.

Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam berjalan tanpa kehilangan energi. Sebagai pegiat modern dance, teman menonton saya beberapa kali memuji gerakan dan hentakan yang menjadi favoritnya, termasuk bagian kelompok massa yang menari diiringi “Earth Song” karya Michael Jackson. Bagi saya, yang lebih menikmati pertunjukan sebagai hiburan, bagian kubu orang liar menjadi sorotan. Gerakan mereka yang kitsch memadukan humor dengan tren kekinian, berhasil menghibur penonton tanpa kehilangan kualitas artistiknya.

rtp live palembangpafi sangkarbet sangkarbet bandungpafi
Tags: cerita beda hak samaseni pertunjukantari kekiniantari kontemporertariakantariakan irama dari dewata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Kresnanta

Kresnanta

capture. eat. travel.

Related Posts

No Content Available
Next Post
Lebih Optimal dengan Bank Sampah Digital

Pemerintah Tak Buang Sampah, Jadi Tak Perlu Tanggung Jawab?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia