Selama ini, pertunjukan tari yang sering saya tonton biasanya hadir sebagai bagian dari seremoni adat atau pementasan di sekolah, kampus, maupun tempat pertunjukan umum lainnya, dengan gerakan yang ketat mengikuti pakem. Keindahan itu tak terbantahkan, tapi sering kali mengabaikan fleksibilitas dan keterbukaan terhadap tren kekinian. Di tengah pola tersebut, pertunjukan “Tariakan: Irama dari Dewata” muncul dengan koreografi yang unik.
Pertunjukan ini diinisiasi oleh Cerita Beda Hak Sama (CBHS), komunitas kolektif anak muda pelaku seni yang juga aktif dalam gerakan sosial untuk membuka kesempatan setara di bidang pendidikan dan seni pertunjukan, tanpa memandang latar belakang. Penampilan Tariakan di Bali pada Minggu, 27 Juli 2025 di Nusa Dua Theatre menjadi pertunjukan terakhir mereka setelah sebelumnya tampil di Jakarta.


Atmosfer panggung terasa istimewa sejak awal. Setelah menukarkan e-tiket via WhatsApp, saya diarahkan ke kursi di tengah, posisi yang memberi pandangan sempurna ke panggung. Tata panggungnya ciamik, mengingatkan pada pertunjukan kabaret dengan pencahayaan penuh warna dan detail dekorasi yang rapi. Nusa Dua Theatre yang biasanya menjadi rumah bagi Devdan Show malam itu sepenuhnya menjadi panggung Tariakan.

Acara dibuka dengan penampilan lima anak mengenakan kostum daerah, menyanyikan lagu tradisional dan nasional Indonesia. Suara mereka merdu, gerakannya sederhana namun memikat. Narator sekaligus dalang lalu membacakan sinopsis singkat yang membawa penonton ke dunia fiksi Nusantari, negeri di mana tari adalah bahasa pemersatu sekaligus alat perubahan sosial. Warga Nusantari terbagi menjadi lima faksi: petani, buruh, kubu orang liar, konglomerat, dan massa.





Dilansir dari Instagram CBHS, pertunjukan ini menjadi ruang ekspresi seni lintas pelajar dan mahasiswa di Bali. Kelompok buruh diperankan oleh Vampyra Dance dari SMA Negeri 1 Sukawati, memadukan hip-hop dengan musikalisasi. Kelompok petani dibawakan oleh UKM Satyam Siwam Sundaram dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dengan koreografi garapan Reska Primadita yang memadukan gerakan kontemporer, unsur tengklung (silat), dan properti capil atau topi petani.
Kubu orang liar dan kelompok massa diperankan oleh Barachii Dance Crew. Koreografi kubu orang liar menggabungkan dasar hip-hop dengan sentuhan komedi kontemporer, bahkan mengambil inspirasi dari tren TikTok yang membuatnya terasa dekat dengan penonton. Sebagai kelompok massa, mereka tampil dalam formasi baru bernama NewGen dengan koreografi Kael, menggabungkan gaya urban contemporary dan hip-hop. Selanjutnya, kelompok konglomerat diperankan oleh penari Devdan sebagai tuan rumah panggung.

Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam berjalan tanpa kehilangan energi. Sebagai pegiat modern dance, teman menonton saya beberapa kali memuji gerakan dan hentakan yang menjadi favoritnya, termasuk bagian kelompok massa yang menari diiringi “Earth Song” karya Michael Jackson. Bagi saya, yang lebih menikmati pertunjukan sebagai hiburan, bagian kubu orang liar menjadi sorotan. Gerakan mereka yang kitsch memadukan humor dengan tren kekinian, berhasil menghibur penonton tanpa kehilangan kualitas artistiknya.
rtp live palembangpafi sangkarbet sangkarbet bandungpafi




