• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, September 4, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Segi Tiga Emas Sebuah Harapan Anak Pulau

Santana Ja Dewa by Santana Ja Dewa
17 October 2017
in Opini, Sosial
0
1
Penari lintas generasi menarikan tari jangkang di Nusa Penida.

Ibarat seorang gadis desa yang memikat para lelaki.

Begitulah kemolekan sebuah pulau di sebelah tenggara Bali yang menyimpan “kemegahan” potensi. Memang pulau ini terlihat tandus tatkala musim kemarau. Sepanjang mata memandang dari laut, warna kecoklatan yang mencolok mata.

Namun, jika kita menelisik ke dalam, kemegahan alamnya tak bisa diragukan. Lukisan semesta sedemikian rupa membentang dari ujung barat dan timur. Salah satunya adalah tempat yang sekarang menjadi incaran para Instragammer untuk berswafoto dengan atar belakang kalaborasi laut, bukit dan karang.

Tempat tersebut adalah Angel Billabong, Pasih Uug, Crystalbay, Atuh serta tempat lainnya yang masih menunggu untuk dilirik. Penorama alam bawah laut lebih dulu dikenal, ikan mola-mola ikonnya di samping terumbu karang yang siap diajak bercengkrama.

Warga ramah menyambut siap saja yang datang menikmati sebuah keagungan lukisan alam. Rasa penasaran akan sebuah pulau kecil berkecamuk dan penasaran bagi penikmatnya silih berganti datang.

Metamorfosis pulau yang cadas dan keras ini mengubah tatanan hidup warganya. Alam membentuk manusia yang berdiam melakukan perubahan sesuai dengan kondisi saat ini, di mana pariwisata sekarang menggeliat ditanah Dukuh Jumpungan.

Guratan alam adalah pasarnya. Tatanan hidup sedikit ada kemajuan dalam hal ekonomi walaupun yang belum bisa menangkap peluang kue pariwisata tetap saja masih setia dengan profesinya baik petani ladang, buruh dan lainnya.

Kesiapan mental menjadi masalah prinsip di tengah pergolakan pariwisata yang sedang hangat. Kepribadian masalah pokok dalam hal memberikan yang terbaik dan melayani sepenuh hati untuk mereka yang datang.

Begitu banyak yang datang tidak merta mereka dengan hati yang lembut. Dinamika inilah bumbu kita menyikapi sebuah perkembangan pariwisata.

Setiap perkembangan selau berdampingan dengan dampak yang ditimbulkan. Tinggal sejauh mana kita menyimaknya. Perubahan mungkin saat masih belum terjadi dalam hal kepribadian anak pulau. Larut boleh, tetap sesuai tatanan sosial anak pulau yang penuh senyum.

Dampak lainya mungkin lebih jelas terlihat tatanan bukit atau lokal menyebutnya bataran mulai merasakan kecewa. Bataran yang rapi membentuk barisan benteng berundak diratakan disambut sebuah hunian. Warisan tersebut tetap berdiri dengan gagah di tengah kepungan hutan rumah. Itupun kalau bisa dikalaborasikan.

Segi Tiga Emas

Ketiga pulau yakni Nusa Lembongan, Ceningan dan Nusa Penida secara administrarif masuk wilayah Kabupaten Klungkung. Satunya kabupaten di Bali yang mempunyai daerah kepulauan dan satu kecamatan mewilayahi tiga pulau.

Pintu masuk menuju Nusa Penida tersebar di beberap titik. Inilah sumber permasalahannya nanti. Lambat laun, pergolakan pasti timbul baik dari segi kriminalisasi, kerusakan alam serta lainnya.

Pemerintah Kabupaten Klungkung sendiri sudah menyadari hal itu. Perencanaan pelabuhan segi tiga emas sebuah jawaban. Sesuai progres dua titik berada di Nusa Penida: satu untuk Nusa Gede, satu di Lembongan dan Ceningan, serta satu titik Klungkung daratan berpusat di Pesinggahan.

Konektivitas Klungkung dan Bali akan melancarakan pemerataan pembangunan, memecah “telur emas Bali” sebutan lama yang dilontarkan oleh mantan Gubernur Bali Dewa Beratha. Sebutan tersebut sudah lama menggema, sekarang perlahan tapi pasti telus emas Bali pecah.

Membahas segi tiga sangat seksi baik ranah spiritual, mistologi kehidupan sosial masyarakat serta lainya. Seperti hal segi tiga emas yang bisa dibilang segara hadir. Begitu juga mitologi segi tiga yang sering menjadi panduan hidup manusia Bali yaitu Tri Hita Karana.

Keharmonisasi alam “palemahan” adalah tatanan alam yang sudah terbentuk sedemikian rupa. Jangan diusik. Tatkala perkembangan terjadi, maka alamlah yang menopang sendi kehidupan.

Kita diajarkan dibentuk hapalan saja tentang konsep itu, tetapi implementasi masih di bibir. Berseteru saling menyalahkan dan posisi paling benar atas konsep-konsep kehidupan. Dampaknya, kita sibuk berdebat kusir tanpa melerai.

Apa korelasinya segi tiga emas dengan konsep Tri Hita Karana?

Berhubungan sangat dekat sedekat semesta dan isinya. Pembangunan sebuah daerah bertujuan untuk kesejukan masyarakat. Keberpihakan kepada masyarakat adalah ujung tombak. Penting sekali masalah ini. [b]

Tags: KlungkungNusa PenidaOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Santana Ja Dewa

Santana Ja Dewa

Pewarta warga. Lahir dan besar di Nusa Penida, Bali bagian tenggara. Senang menulis dan bercerita. Juga sering berkelana ke mana-mana.

Related Posts

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Next Post
Saat Bunga Bermekaran di Jalan Pulau Bali

Saat Bunga Bermekaran di Jalan Pulau Bali

Comments 1

  1. El siregar says:
    9 years ago

    Ini tempat indah permai dan sejuta orang yang datang bisa merubah segalanya.
    Kalau tidak di jaga baik, tanpa sadar bisa jadi ‘just another Kuta’.
    Orang kota datang meninggalkan kota dengan segala keributan dan deru campur debu.
    Diam-diam pulau-pulau indah ini juga jadi ribut.
    Mudah-mudahan tidak!
    Kalau no limit is the limit, sukar dibayangkan bagaimana nanti!

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

3 September 2026
Menjaga Hulu, Menata Wisata di Desa Pedawa

Menjaga Hulu, Menata Wisata di Desa Pedawa

3 September 2026
Nasib Cagar Budaya di Kota Denpasar: Revitalisasi Bak Pisau Bermata Dua

Nasib Cagar Budaya di Kota Denpasar: Revitalisasi Bak Pisau Bermata Dua

2 September 2026
Sidang Pembelaan Tomy: Kesaksian Ahli dan Bukti Menguatkan Bebas dari Tuntutan

Sidang Pembelaan Tomy: Kesaksian Ahli dan Bukti Menguatkan Bebas dari Tuntutan

2 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia