• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, March 7, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Rayuan Pulau Kelapa Nusa Penida

Eve Tedja by Eve Tedja
12 June 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Travel
0
2
nusa penida goa 2
Pura Goa Giri Putri salah satu kekayaan spiritual di Nusa Penida. Foto Anton Muhajir.

Hari Minggu kemarin, saya menemukan fakta bahwa saya salah.

Saya pikir pengetahuan saya tentang Bali sudah cukup banyak karena saya mendapat kehormatan lahir dan besar di pulau ini. Ternyata saya salah.

Saya tidak tahu apapun tentang Nusa Penida, pulau yang hanya setengah jam jauhnya dengan fast boat. Jadilah selama dua hari, saya menjadi turis di pulau sendiri.

Nusa Penida mengingatkan saya dengan Ungasan di Kuta Selatan. Matahari terik membakar, tanah kering serta garis pantai yang muncul dan hilang di sepanjang perjalanan.

Bedanya, Nusa Penida tidak penuh dengan surfer setengah telanjang yang mengemudikan motornya dengan ugal-ugalan di jalan. Bedanya lagi, garis pantai yang membentang tidak habis dibangun untuk menjadi resort bintang lima ataupun beach club eksklusif yang hanya bisa diakses dengan uang.

Sungguh menyenangkan melihat bagian dari Bali yang masih apa adanya.

Wangi rumput laut baru dipanen dan dijemur mewarnai perjalanan mobil penuh goncangan. Tidak ada petunjuk jalan, apalagi penerangan. Kami mempercayakan nasib kami ke supir bertato full sleeve asal Desa Ped yang menyetir dengan tangkas dan dalam diam. Jelas ia menguasai betul medannya.

Pura Goa Giri Putri, menawan hati saya dengan misterinya. Bagaimana leluhur pada zaman entah kapan, bisa menemukan dan membangun tempat suci di dalam gua benar-benar di luar pemahaman saya. Pintu masuk goa ini begitu kecil namun melebar di dalam, hingga cukup untuk menampung 5.000 orang.

Perjalanan saya kali ini bagian dari Nusa Penida Festival.

Nusa Penida Festival, perayaan pesta kesenian untuk merayakan identitas Penida, Lembongan dan Ceningan; tengah berjalan dengan riuh saat saya kembali ke Sampalan. Beragam tarian, musik, kesenian tradisional, karya seni serta sajian kuliner khas diperkenalkan ke pengunjung festival.

tiga tari baris
Tari Baris Jangkang salah satu tari sakral yang dibawakan di Nusa Penida Festival. Foto Anton Muhajir.

“Turis” ini terperangah saat mencicipi nikmatnya pepesan rumput laut, memegang kain tenun agal yang diwarisi turun temurun dan tidak lagi diproduksi karena tidak ada yang tahu cara pembuatannya serta terharu saat melihat antusiasme warga dari tiga pulau untuk menyaksikan pesta kesenian yang menampilkan persembahan dari 16 desa mereka.

Acara berlanjut hingga tengah malam, lengkap dengan dangdut dan reggae. Riuh terdengar dari homestay tempat saya menginap. Tidak ada yang bisa saya perbuat malam itu. Tidak ada convenience store 24 jam untuk membeli bir dingin. Tidak ada akses internet dari provider apapun. Yang ada hanya suara tetesan air ke bak mandi yang harus terus dibuka agar ada cukup air untuk mandi besok pagi.

Sulit saya percaya bahwa setengah jam dari sini, ada akses shower dengan air panas dan WiFi. Sulit saya percaya, bahwa ini masih Bali. Sulit tapi menyenangkan karena untuk satu malam, yang bisa saya lakukan hanyalah bercakap dengan teman seperjalanan.

Suara kokok ayam dan sapu di halaman membangunkan saya dengan ajaib sebelum alarm di handphone berbunyi. Bersama teman seperjalanan dan iming-iming sate ikan, saya melangkah pergi ke Pasar Mentigi.

Jalanan sudah ramai pagi itu. Antrean panjang di depan yang sepertinya satu-satunya bank di Sampalan sudah mengular naga panjangnya. Pasar ramai dengan penjual tipat cantok, es campur, sate lilit dan nasi campur.

Ah seandainya ada ledok, keluh saya ke salah satu teman.

Keluhan saya didengar oleh salah satu ibu penjual tipat yang ternyata menyembunyikan satu panci ledok di mejanya. Bubur jagung, kacang dan bayam yang gurih khas Nusa Penida itu menjadi sarapan bergizi yang mengenyangkan hingga siang.

Sore itu, saya kembali ke “Bali”, daratan penuh lampu di seberang. Fast boat kecil yang membawa rombongan kami diempas berkali-kali oleh ombak hingga akhirnya mendarat di pantai Semawang.

Masih banyak yang ingin saya jelajahi di Nusa Penida dan saya bertekad harus kembali ke sana. Banyak pertanyaan muncul dari perjalanan saya ke sana. Apakah egois kalau saya berharap Nusa Penida untuk tidak berubah? Apakah adil kalau saya tidak ingin ada lagi hotel atau vila di sana? Apakah hanya saya yang merasa Nusa Penida itu harus dijaga? Adakah cara agar Nusa Penida bisa sejahtera tapi tidak semata lewat pariwisata? [b]

Tags: Nusa PenidatravelWisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Eve Tedja

Eve Tedja

Related Posts

Melestarikan Tapel Ngandong, Kesenian Unik dari Desa Les Lewat Akses Digital

Kesenian yang Terancam Hilang di Desa Wisata Les

3 January 2025
Menilik Hotel Ramah Lingkungan Mana Earthly Paradise

Menilik Hotel Ramah Lingkungan Mana Earthly Paradise

1 July 2021
Bali Yang Binal 2021 di Nusa Penida

Bali Yang Binal 2021 di Nusa Penida

9 May 2021
Ledok, Gizi Bubur di Pulau Kapur

Ledok, Gizi Bubur di Pulau Kapur

15 April 2021
Jargon Kontroversial soal Bali Wisata Halal

Jargon Kontroversial soal Bali Wisata Halal

25 January 2021
Berwisata Energi Terabaikan dan Terbarukan ke Nusa Penida

Berwisata Energi Terabaikan dan Terbarukan ke Nusa Penida

8 December 2020
Next Post
ForBALI Protes Perubahan Perpres Sarbagita

ForBALI Protes Perubahan Perpres Sarbagita

Comments 2

  1. kadoel says:
    12 years ago

    Selamat datang di pulau Nusa Penida bli 🙂
    Tiyang anak Nusa Penida, tiyang sependapat dengan apa yang sudah bli paparkan dalam artikel ini. Kalau suatu saat bli ada waktu untuk main ke sini lagi dan ingin mencicipi ledok, mungkin bli bisa meyusuri sepanjang jalan pasar mentigi, saat siang hari biasanya ada dagang ledok yang jualan… Untuk akses internet juga sudah bisa dengan menggunakan beberapa provider seperti ind**at 😀

    Reply
  2. Novan says:
    11 years ago

    wah terimakasih telah berbagi, saya kira tidak ada lagi lahan yang benar-alami yang bisa dinikmati tanpa harus merogoh kocek yang cukup menguras kantong, oh ya saya juga ada penulisan yang sama yang bisa anda kunjungi Informasi Seputar Indonesia

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

4 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia