
Banjir melanda sejumlah kabupaten/kota di Bali pada 10 September 2025. Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali pada 11 September pukul 12.00 WITA menyebutkan telah diterima 210 laporan kejadian di sejumlah wilayah.
BPBD Provinsi Bali mencatat banjir terjadi di 144 titik, tak hanya di Kota Denpasar, tetapi juga di kabupaten lain, yaitu 81 titik di Kota Denpasar, 14 titik di Kabupaten Gianyar, 12 titik di Kabupaten Badung, 10 titik di Kabupaten Tabanan, 23 titik di Kabupaten Jembrana, dan 4 titik di Kabupaten Karangasem.
Di Kota Denpasar, banjir bandang terjadi di kawasan heritage Jalan Gajah Mada. Sebuah video di media sosial menunjukkan salah satu bangunan roboh akibat banjir. Sementara itu, kawasan Simpang Dewa Ruci lumpuh selama beberapa jam karena air tergenang di underpass. Berdasarkan pantauan, air di underpass mulai surut sekitar pukul 21.00 WITA.
Selain banjir, ada pula bencana tanah longsor di 27 titik, yaitu 12 titik di Kabupaten Karangasem, 7 titik di Kabupaten Tabanan, 5 titik di Kabupaten Gianyar, 2 titik di Kabupaten Klungkung, dan 1 titik di Kabupaten Badung.

Ada juga pohon tumbang di 19 titik, yaitu 5 titik di Kabupaten Karangasem, 5 titik di Kabupaten Klungkung, 5 titik di Kabupaten Tabanan, 2 titik di Kabupaten Gianyar, dan 2 titik di Kabupaten Badung. Jembatan putus juga terjadi di 2 titik, yaitu di Kabupaten Gianyar dan Karangasem.
BPBD Provinsi Bali juga mencatat penyengker atau bangunan jebol di 10 titik, yaitu 4 titik di Kabupaten Karangsem, 2 titik di Kabupaten Badung, 3 titik di Kabupaten Gianyat, dan 1 titik di Kota Denpasar. Selain itu, 7 titik di Kabupaten Karangasem mengalami senderan jebol.
Salah satu kontributor BaleBengong, Arya Yoga, memetakan bencana di Bali, terutama Denpasar selama 9-10 September. Pengumpulan data dilakukan melalui pemantauan media sosial Instagram. Beberapa bencana yang dipetakan, yaitu banjir bandang, banjir, longsor, jalan jebol, gelombang laut, dan pohon tumbang.

Dari pemetaan melalui Instagram, banjir sebagian besar terjadi di Kota Denpasar, terutama di wilayah aliran sungai, seperti di Pasar Badung, Lingkungan Bhuana Kubu dekat aliran Tukad Mati, dan kawasan Kampung Jawa.
Bencana ini mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang masih dalam pencarian. Sejumlah ruko yang rusak akibat banjir di Jalan Sulawesi dan Pasar Kumbasari menimbulkan kerugian lebih dari Rp25 miliar dengan total kerusakan 96 ruko.
Satu hari setelah diterjang banjir, para pedagang di sepanjang Jalan Sulawesi tampak membersihkan rukonya. Air berwarna merah gelap tergenang di beberapa toko, menunjukkan kain yang luntur karena air. Bangunan roboh yang berdiri di bantaran sungai mulai dihancurkan dengan ekskavator sejak pukul 10.00 WITA. Setidaknya 6 bangunan di bantaran Tukad Badung dirobohkan dengan ekskavator karena mengalami kerusakan parah.
Salah satu pekerja di Jalan Sulawesi memperkirakan tinggi banjir pagi hari itu (10/09) setinggi lututnya, sekitar 50 cm. Pekerja tersebut mengungkapkan beberapa barang dagangannya basah terendam air bercampur lumpur. Sebagian bisa dibersihkan dengan dicuci, tetapi sebagian lagi terpaksa dibuang. Namun, hingga sore hari pada 11 September, ia masih belum bisa membersihkan barang dagangannya karena air masih mati.
Pedagang sembako di Jalan Gunung Kawi, sebut saja namanya Rere, juga mengungkapkan hal yang sama. Barang dagangannya sebagian besar terendam banjir. Ketika ditemui, Rere dan sejumlah pegawainya tengah menata serta memilih barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
Bukan hanya tokonya yang terendam banjir, rumah di belakang toko Rere juga ikut terendam. Rumah tersebut ditinggali dua orang pegawainya. Menurut penuturan Rere, banjir tiba-tiba datang pada pukul 04.00 dini hari. “Mereka langsung naik ke lantai dua. Banjirnya datang tiba-tiba, jadi nggak bisa kita antisipasi,” ujar Rere.

Saat ini, pos pengungsian tercatat di sejumlah titik di Kota Denpasar dan Kabupaten Jembrana. Jumlah pengungsi di Kota Denpasar sebanyak 235 orang yang tersebar di SD 25 Pemecutan, Banjar Sedana Merta di Ubud, Banjar Dakdakan di Peguyanan, Banjar Kesambi di Kesiman, Pulau Misol, dan Banjar Tohpati.
Sementara itu, jumlah pengungsi di Kabupaten Jembrana sebanyak 327 orang yang tersebar di Banjar Samblong, Desa Yeh Kuning Loloan Barat, Tegal Badeng, dan Polres Jembrana.
Bencana di Bali terjadi sejak hujan selama dua hari terakhir disertai angin kencang dan petir. Pasca bencana, BNPB menetapkan Bali berstatus tanggap darurat bencana selama satu minggu, sejak Rabu, 10 September 2025.







