Menjelang ulang tahun, saya ingin self-reward atau menghadiahi diri sendiri sesuatu yang tidak terlalu impulsif. Bukan gadget baru atau tiket perjalanan, tapi cek kesehatan. Sebagai seseorang yang mulai merasa gampang pegal meski tidak banyak bergerak atau olahraga berat, saya merasa sudah waktunya berdamai dengan realitas; tubuh ini butuh perhatian lebih.
Kemudian saya teringat ada salah satu program kesehatan yaitu Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini diinisiasi Kementerian Kesehatan RI yang mulai diluncurkan sejak Februari 2025 lalu, dapat diakses di lebih dari 120 puskesmas di Bali, serta ditujukan untuk semua kelompok umur.
Pendaftaran dilakukan melalui aplikasi SATUSEHAT. Akan ada pilihan jadwal tersedia dan lokasi pemeriksaan. Saya memilih lokasi pemeriksaan di Puskesmas II Denpasar Timur, yang berlokasi di Jalan Nagasari No. 25A, Penatih, Denpasar. Dalam prosesnya, saya diminta mengisi skrining mandiri yang mencakup informasi demografis, kondisi kesehatan mental dan fisik, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, serta riwayat paparan terhadap penyakit tertentu seperti tuberkulosis.
Saya tiba di puskesmas sekitar pukul 10 pagi. Proses registrasi awal berlangsung sangat cepat, berbeda dari bayangan saya tentang antrian panjang di fasilitas kesehatan. Hanya dalam waktu sekitar lima menit, nama saya dipanggil.


Pemeriksaan pertama yang saya jalani adalah cek tekanan darah, yang dilakukan oleh seorang perawat bernama Suyasa. Sambil memasang tensimeter, saya mengobrol sekaligus menanyakan prosedur Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas ini. Ia menjelaskan bahwa sejauh ini jumlah masyarakat yang memanfaatkan program CKG di Puskesmas II Denpasar Timur masih belum konsisten. “Jumlah per harinya tidak bisa dipastikan. Usianya juga random, dari dewasa lansia juga ada. Nanti semua hasil pemeriksaan bisa dicek lewat aplikasi,” ungkapnya.
Selanjutnya, saya diarahkan ke meja skrining, tempat saya menjalani wawancara kesehatan yang lebih mendalam. Saya diminta menjawab sejumlah pertanyaan terkait riwayat penyakit pribadi dan keluarga, serta skrining dini tentang penyakit tidak menular seperti jantung, kanker, dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik).


Saya berbincang dengan Ni Wayan Uripayoni, tenaga kesehatan yang bertugas pagi itu. Menurutnya, program CKG ini memang sangat bermanfaat, namun belum banyak masyarakat yang mengaksesnya secara optimal. “Karena mungkin mereka terkendala dengan aplikasi ya. Tidak semuanya bisa mengakses. Paling kebanyakan pekerja usia produktif seperti saya lah,” jelasnya.
Masyarakat umum yang ingin mencoba CKG ini dengan datang langsung ke puskesmas akan tetap diarahkan untuk mendaftar lewat aplikasi SATUSEHAT sesuai prosedur. “Termasuk bagus juga sih memang buat screening awal ya. Dari bayi dari lahir sampai usia lanjut. Ya hitung-hitung kado ulang tahun dari pemerintah,” tambahnya.


Setelah proses skrining, saya melanjutkan ke ruangan dokter untuk pemeriksaan umum, meliputi cek penglihatan, pendengaran, serta rujukan ke laboratorium untuk pengambilan darah guna mengecek kadar glukosa dan HbA1c. Kemudian saya diarahkan ke ruang periksa gigi untuk mengetahui kondisi rongga mulut secara menyeluruh. Seluruh proses berlangsung cukup singkat dan terorganisir.
Setelah seluruh hasil pemeriksaan keluar, saya kembali menemui dokter untuk pembacaan hasil dan edukasi. Pemeriksaan gigi saya menunjukkan hasil normal, meskipun dokter tetap menyarankan agar lebih memperhatikan kebersihan di area geraham belakang yang posisinya agak miring. Dari hasil tersebut, saya bukan hanya tahu kondisi tubuh, tapi juga apa yang perlu dijaga. Tidak ada tanda risiko diabetes atau gangguan jantung, namun dokter tetap memberi catatan untuk tetap aktif bergerak dan menjaga pola makan.










![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

