Kita sering membayangkan Bali sebagai pulau angin laut dan matahari ramah. Hangat, iya. Menyengat? Mungkin tidak separah gurun. Namun dunia sedang berubah lebih cepat dari yang kita kira. Penelitian dari tim ilmuwan Universitas Oxford menunjukkan bahwa tanpa pengurangan emisi yang signifikan, sebagian besar Asia Selatan dan Asia Tenggara berpotensi mengalami peningkatan tajam kejadian panas ekstrem hingga pertengahan abad ini, dengan indeks panas yang bisa melampaui batas aman fisiologis manusia pada 2050 (Pal & Eltahir, 2016; IPCC, 2022). Artinya, kombinasi suhu dan kelembapan dapat mencapai titik di mana tubuh manusia tidak lagi mampu mendinginkan diri secara efektif.

Gambar ilustrasi kekeringan dan panas ekstrem di Pulau Dewata Bali (Sumber Gemini AI)
Kita mungkin berpikir, itu jauh di daratan Asia Selatan. Tapi Bali berada dalam sistem iklim yang sama tropis lembap, suhu dasar sudah tinggi, dan kelembapan relatif stabil sepanjang tahun. Dalam konteks ini, kenaikan suhu rata-rata 1–2°C bukanlah angka kecil. Di wilayah lembap seperti Bali, tambahan satu derajat saja dapat membuat indeks panas melonjak drastis, menjadikan suhu 33°C terasa seperti lebih dari 40°C. Dalam kondisi tertentu, terutama saat El Niño kuat terjadi bersamaan dengan tren pemanasan global, pulau seperti Bali dapat mengalami episode panas ekstrem yang sebelumnya tidak pernah tercatat.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO, 2024) telah menyatakan bahwa 2023 dan 2024 adalah tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern. Jika lintasan pemanasan global ini berlanjut, maka 2026 bukan sekadar angka kalender, ia bisa menjadi titik ketika panas ekstrem mulai terasa lebih sering dan lebih lama di pulau-pulau tropis. Bali, dengan kepadatan penduduk di selatan dan pertumbuhan kawasan urban yang cepat, bukan pengecualian.

Gambar grafik anomali suhu udara rata-rata global dan Indonesia dibandingkan dengan periode pra-industri (1850-1900).
Grafik menunjukkan bahwa perubahan iklim terus menjadi ancaman serius bagi Indonesia, dengan peningkatan suhu yang berkelanjutan. Tren kenaikan ini semakin nyata pada periode setelah tahun 1970, seiring dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. (sumber : Catatan Iklim dan Kualitas Udara Indonesia yang dikeluarkan BMKG, 2024).
Dampaknya bukan sekadar rasa gerah. Secara fisiologis, panas ekstrem meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan panas (heat exhaustion), hingga sengatan panas (heat stroke) yang dapat berujung fatal (WHO, 2018). Kelompok rentan menjadi garis depan risiko: lansia, anak-anak, pekerja luar ruang seperti buruh bangunan dan petani, pedagang kaki lima, hingga wisatawan yang tidak terbiasa dengan iklim tropis lembap. Mereka yang memiliki penyakit jantung, ginjal, atau diabetes juga berisiko lebih tinggi.
Kita juga perlu jujur melihat konteks perkotaan Bali. Denpasar dan kawasan selatan mengalami peningkatan tutupan beton dan aspal. Fenomena urban heat island—di mana kota menyimpan panas lebih lama dibanding wilayah vegetasi—bisa membuat suhu malam hari tetap tinggi, menghambat tubuh untuk pulih dari paparan panas siang hari (IPCC, 2022). Jika suhu malam tak turun, risiko kesehatan meningkat drastis.
Ada dimensi ekonomi yang tak kalah penting. Bali adalah pulau pariwisata. Panas ekstrem dapat mengganggu kenyamanan wisatawan, menurunkan produktivitas kerja, hingga meningkatkan konsumsi listrik akibat pendingin ruangan. Ini berarti tekanan tambahan pada sistem energi dan potensi pemadaman, yang justru memperburuk kondisi saat panas ekstrem terjadi.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Pertama, kita perlu mengakui bahwa heatwave (gelombang panas) adalah risiko nyata di wilayah tropis. Pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan BMKG untuk mengembangkan sistem peringatan dini panas ekstrem—tidak hanya untuk banjir dan gempa. Banyak negara telah mengadopsi heat action plan, yaitu protokol terintegrasi yang menggabungkan prakiraan cuaca, peringatan publik, dan respons kesehatan (WHO & WMO, 2015).
Kedua, kota harus kembali belajar dari alam. Penambahan ruang hijau, perlindungan pohon eksisting, dan penggunaan material bangunan yang memantulkan panas adalah strategi sederhana namun efektif. Atap putih atau cool roof terbukti dapat menurunkan suhu permukaan bangunan secara signifikan (Santamouris, 2014). Di Bali, ini bisa diterjemahkan dalam kebijakan arsitektur tropis yang lebih adaptif, bukan sekadar estetika beton modern.

Gambar ilustrasi ruang terbuka hijau adaptif di kota (sumber Gemini AI)
Ketiga, edukasi publik penting. Masyarakat perlu memahami tanda-tanda kelelahan panas, pentingnya hidrasi, serta pengaturan aktivitas luar ruang saat suhu puncak. Sekolah dan desa dapat menjadi pusat literasi iklim—mengenalkan bahwa panas ekstrem bukan sekadar “cuaca Bali yang biasa”.
Keempat, perlindungan kelompok rentan harus menjadi prioritas. Pekerja luar ruang dapat diberikan penyesuaian jam kerja saat indeks panas tinggi. Fasilitas publik seperti balai banjar atau kantor desa bisa difungsikan sebagai cooling center sementara saat peringatan panas ekstrem dikeluarkan.
Heatwave di pulau seperti Bali mungkin terdengar tidak lazim. Tapi perubahan iklim tidak mengenal stereotip geografis. Ia bekerja perlahan, konsisten, dan sering kali tak terasa sampai dampaknya nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah Bali akan menghadapi panas ekstrem, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.
Kita sudah belajar menghadapi gempa, letusan, dan banjir. Kini saatnya memasukkan panas ekstrem dalam daftar risiko yang kita pahami bersama. Karena matahari yang sama yang menghidupi pulau ini, jika tak dikelola dengan bijak, bisa menjadi ancaman yang diam-diam menguras daya tahan kita.
Referensi
- BMKG. (2023). Laporan Anomali Suhu dan El Niño Indonesia.
- IPCC. (2022). AR6 Working Group II: Impacts, Adaptation and Vulnerability.
- Perkins-Kirkpatrick, S. & Lewis, S. (2020). Increasing trends in regional heatwaves. Nature Communications.
- Santamouris, M. (2014). Cooling the cities – A review of reflective and green roof mitigation technologies. Solar Energy.
- WHO. (2018). Heat and Health Fact Sheet.
- WHO & WMO. (2015). Heatwaves and Health: Guidance on Warning-System Development.
- WMO. (2024). State of the Global Climate Report.
- https://kumparan.com/kumparansains/indonesia-bakal-terdampak-risiko-suhu-panas-ekstrem-tahun-2050-riset-oxford-26kHiUYlbvh










