Mari Hentikan Penyakit dengan Pola Hidup Sehat

Warga berlari pagi di Sanur, kawasan pariwisata yang relatif lebih terjaga lingkungannya dibandingkan daerah lain di Bali. Foto Anton Muhajir.

Indonesia sedang menghadapi masalah ancaman penyakit triple.

Pertama, penyakit menular yang masih menjadi masalah. Kedua, penyakit baru yang masih sering terjadi. Ketiga, kejadian penyakit tidak menular (PTM) cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Contoh PTM ini antara lain tekanan darah tinggi, stroke, jantung, kanker, dan diabetes mellitus.

Namun, laju peningkatan kasus PTM yang mendera masyarakat Indonesia, bisa dikurangi dengan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Selama periode 1990-2015, kematian akibat PTM, di Indonesia menunjukkan peningkatan dari 37 persen menjadi 57 persen. Di sisi lain, kematian akibat penyakit menular, seperti infeksi saluran pernapasan atas, tuberkulosis, diare menurun dari 56 persen menjadi 38 persen (Kemenkes, 2017).

HL Bloem (1908) mengidentifikasi bahwa derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi empat faktor, yakni: perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Faktor ‘perilaku’ dan ‘lingkungan’ memegang peran lebih dari 75 persen dari kondisi derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

PTM dikenal sebagai penyakit kronis. Tidak ditularkan dari orang ke orang. Menurut Badan PBB untuk kesehatan WHO, empat jenis PTM terbanyak adalah penyakit pernapasan kronis, penyakit kardiovaskuler, kanker, dan diabetes mellitus. PTM terbukti menjadi penyebab kematian manusia usia kurang dari 70 tahun, kematian terbanyak disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler (39 persen), diikuti kanker (27 persen).

Adapun penyakit pernapasan kronis, penyakit pencernaan dan PTM lain bersama-sama menyebabkan sekitar 30 persen kematian serta 4% disebabkan oleh diabetes mellitus.

PTM bisa muncul dan berkembang disebabkan oleh beberapa faktor perilaku manusia. Pertama, merokok yang bisa menyebabkan kanker, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit pernapasan kronis. Tiap tahun, konsumsi rokok menyebabkan sekitar 6 juta kematian (termasuk perokok pasif).

Kedua, konsumsi alkohol, salah satu jenis narkoba yang menimbulkan ketergantungan (adiktif). Pada tahun 2012, sekitar 3,3 juta kematian, atau sekitar 5,9 persen dari seluruh kematian global disebabkan oleh konsumsi alkohol.

Ketiga, pola makan yang buruk. Diperkirakan, terdapat 1,7 juta (2,8 persen) dari kematian di seluruh dunia disebabkan oleh kurangnya konsumsi buah dan sayur. Selain itu, budaya mengonsumsi makanan tinggi kalori seperti makanan olahan yang tinggi lemak dan gula cenderung menyebabkan obesitas, dan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan trans fatty acid terkait dengan penyakit jantung.

Keempat, aktivitas fisik yang kurang memicu risiko stroke, hipertensi, obesitas dan depresi. Orang yang kurang aktif secara fisik memiliki 20 persen- 30 persen peningkatan faktor risiko penyebab kematian (WHO/World Medical Association, Inc; 2015).

Secara umum, gejala PTM yang diderita masyarakat Indonesia berupa gangguan metabolis, yakni peningkatan tekanan darah, kelebihan berat badan (obesitas), tingginya kadar glukosa darah, dan peningkatan kadar kolesterol. PTM masih menjadi masalah dominan kesehatan pada saat ini karena sebagian besar masyarakat Indonesia hingga saat ini menganut paradigm sakit, yakni perilaku yang menonjolkan pengobatan (kuratif).

Masyarakat Indonesia baru mengunjungi dokter atau berobat ke RS ketika sakit melanda pada kondisi stadium yang sudah lanjut sehingga pembiayaan kesehatan masih relatif mahal.

Germas

PTM bisa diminimalisir melalui Germas. Gerakan yang diluncurkan sejak 2016 adalah suatu tindakan sistematis dan terencana secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Implementasi Germas telah dijabarkan menjadi beberapa kegiatan. Pertama, membudayakan perilaku masyarakat untuk tidak merokok dan tidak mengonsumsi alkohol. Rupanya gerakan ini lebih bersifat edukatif dan sebatas mengurangi permintaan saja dan belum dibarengi dengan menyetop penyediaan serta distribusi rokok dan alkohol itu sendiri. Buktinya, pabrik rokok tetap berproduksi dan minuman beralkohol masih beredar, kendati ada pembatasan.

Kedua, membudayakan perilaku masyarakat untuk mengonsumsi sayur dan buah. Selain untuk mereduksi konsumsi karbohidrat (termasuk nasi) berlebihan yang memicu naiknya gula darah (diabetes melitus), cukup konsumsi sayur dan buah juga dimaksudkan untuk meningkatkan metabolisme tubuh dan membangun “keseimbangan gizi”.

Ketiga, membudayakan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, termasuk melakukan cek tekanan darah, kadar gula, kolesterol. Membudayakan perilaku untuk cek kesehatan secara regular ini masih belum ditaati secara konsekuen, karena masih terbelenggu oleh paradigm sakit (baru cek kesehatan jika dilanda sakit). Cek kesehatan secara rutin perlu digalakkan dan bisa dilakukan di Puskesmas / RS setempat.

Keempat, membudayakan masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik atau olah raga secara teratur. Aktivitas fisik bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, baik ketika di rumah, di sekolah/kampus di kantor. Di samping bisa menjaga kebugaran tubuh, aktivitas fisik yang teratur dapat mengurangi risiko penyakit jantung iskemik, diabetes, kanker payudara, dan kanker kolon.

Selain itu, aktivitas fisik/olah raga secara teratur mampu mengurangi risiko stroke, hipertensi, dan depresi. Aktivitas fisik secara teratur amat penting untuk keseimbangan energi dan control berat badan (WHO, 2015).

Kelima, membudayakan masyarakat untuk untuk menjaga kebersihkan lingkungan hidup, termasuk menggunakan jamban saat membuang air besar, serta melancarkan arus genangan air di selokan untuk mengantisipasi demam berdarah. Kebisaaan kerja bhakti warga setempat untuk menjaga keersihan dan keasrian lingkungan kampung, lingkungan sekolah, lingkungan perkantoran yang sudah berjalan perlu terus dipertahankan.

Germas merupakan bagian dari implementasi paradigma sehat, yakni pola pikir kesehatan sebagai hal yang bersifat holistik dan lintas sektor dalam upaya mencegah, memelihara dan merlindungi kesehatan, bukan hanya untuk panyembuhan (kuratif) semata. Diharapkan masyarakat bersikap mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri. Selain itu, melalui Germas diharapkan tumbuh kesadaran bahwa upaya penacegahan penyakit (promotif dan preventif), jauh lebih penting dari pada pengobatan (kuratif).

Strategi Germas perlu ditunjang dengan pengembagan layanan kesehatan yang mudah diakses (accessable), layanan kesehatan yang menjamin semua warga negara, tak peduli miskin atau kaya. Dalam kaitan ini, pemerintah telah menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif (LKB) baik di Puskesmas, Rumah Sakit maupun pusat layanan kesehatan lainnya.

Selain itu, untuk mendukung Germas, pemerintah juga telah melembagakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk semua rakyat Indonesia. Diharapkan keadilan dan pemerataan layanan kesehatan bisa dinikmati oleh semua rakyat Indonesia, baik miskin atau kaya.

Namun, implementasi JKN yang ingin mewujudkan pemerataan dan keadilan layanan kesehatan, sejak 1 Maret 2019 tercederai oleh kebijakan Kemenkes yang mencabut penyediaan dua obat kanker (Bevacizumab dan Cetuximab). Kebijakan ini perlu dikaji ulang, karena secara langsung telah membatasi hak sebagian rakyat miskin yang memerlukan dukungan gratis kedua jenis obat ini.

Bagaimanapun, dengan alasan apapun negara harus menjamin kebutuhan kesehatan bagi semua rakyatnya. Siapa ikut peduli? [b]