• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Persahabatan Rumah di Seribu Ombak

Lina PW by Lina PW
2 September 2012
in Budaya, Kabar Baru
0
0

“Laut itu rumahku, cuma di sana aku bisa mengadu dan berkeluh kesah,” ujar Wayan Manik.

Pemuda Hindu asli Bali yang biasa diapanggil Yanik itu bercerita kepada Samihi, temannya yang Muslim. Persahabatan beda latar belakang memang menjadi bumbu utama cerita ini. Namun, perbedaan itu tidak menyurutkan niat keduanya untuk tetap bersama.

Bermula dari pertolongan Wayan Manik kepada Samihi saat sekelompok anak nakal berniat mengambil sepeda Samihi, mereka kemudian berteman. Hangat dan akrabnya pertemanan mereka terasa dari hal-hal kecil yang mereka lakukan. Misalnya seperti canda gurau Yanik tentang ketakutan Samihi terhadap air, bagaimana Yanik mengarahkan Samihi untuk belajar kidung Bali agar menang di lomba baca Al-Quran hingga mengajari Samihi berenang.

Namun ternyata hal indah memang tak bertahan terlalu lama.

Yanik menyimpan masa lalu kelam yang ia berusaha sembunyikan. Ia akhirnya bercerita pada Samihi: Yanik pernah menjadi korban pedofilia seorang pria asing bernama Andrew. Suatu hari ia mencuri alat perekam Andrew dan ditangkap karenanya. Samihi, yang khawatir terhadap Yanik memanggil orang dewasa untuk menolong Yanik dan terbongkarlah rahasia kelam Yanik.

Sejak itu Yanik kerap menghilang hingga berita Bom Bali tiba mengatakan ayah Yanik menjadi salah satu korban. Yanik berubah menjadi pemurung dan pelamun. Ia kerap memiliki pikiran sendiri. Hingga akhirnya suatu hari Samihi mendapati rumah Yanik kosong melompong.

Beberapa tahun berlalu dan Samihi, yang kini menjadi surfer profesional, sudah hidup di Australia meninggalkan ayah dan adik perempuannya. Yanik muncul kembali dan membantu ayah Samihi yang makin tua. Dia pun menjalin hubungan asmara dengan adik Samihi.

Namun seperti biasa, Yanik tetap mempunyai pikiran sendiri. Saat terdengar desas-desus tentang kepindahan adik Samihi untuk mengikuti kakaknya ke Australia, Yanik berasumsi ia akan ditinggalkan. Dia merasa hidupnya sudah tak lagi ada artinya. Apakah yang akan ia lakukan? Mengejar Samihi atau kembali ke kehidupannya yang hilang timbul seperti sebelumnya? Silakan nikmati akhir cerita film ini.

Film garapan sutradara Erwin Arnada ini cukup apik membungkus tema persahabatan beda latar belakang. Kehidupan mereka yang harmonis dan layaknya sahabat biasa jelas membuat miris jika kita melihat kenyataan sekarang di mana banyak orang justru menjadikan perbedaan sebagai pertentangan.

Film yang resmi ditayangkan di seluruh Indonesia pada 30 Agustus lalu ini salah satu gambaran nyata yang terjadi tentang toleransi yang bisa dan seharusnya dibangun. Berlokasi di Buleleng, Bali membuat kita bisa puas melihat adegan demi adegan pantai yang menjadi sebagian besar latar cerita. Pengambilan gambarnya sendiri cukup unik dengan permainan siluet yang memberi perspektif baru dan jauh dari kesan datar. [b]

Tags: BaliBulelengFilmToleransiUlasan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Lina PW

Lina PW

hanya seorang anak yang ingin mencobai segala hal positif

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Next Post
Kumpulan Kekhawatiran Bali di Masa Depan

Kumpulan Kekhawatiran Bali di Masa Depan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia