• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, September 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Kumpulan Kekhawatiran Bali di Masa Depan

Adi Sudewa by Adi Sudewa
3 September 2012
in Berita Utama, Buku, Kabar Baru, Opini
0
3

Kotak Pandora. Istilah itulah yang digunakan oleh Nyoman Sukma Arida untuk menggambarkan kondisi Bali di dekade pertama abad 21. Kotak Pandora, kotak yang begitu dibuka akan melepaskan begitu banyak malapetaka di dunia: masa tua, rasa sakit, kegilaan, keserakahan, dan lain-lainnya.

Sukma memang menggambarkan berbagai “malapetaka” gumi Bali dalam buku ini. Mulai dari mahalnya biaya untuk upacara agama, ludesnya tanah-tanah Bali dilahap investor, menjamurnya mal di sudut-sudut kota, hingga kerusuhan berkedok kasus adat. Masing-masing dikemas dalam bentuk esai. Total ada 25 esai yang dirangkum dalam buku setebal 133 halaman ini.

Pembahasannya komprehensif, tidak ada yang lepas dari pengamatan penulis. Kalimat-kalimatnya mengalir jernih. Maklum, penulisnya selain akademisi, dosen di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali juga pernah menjadi wartawan majalah budaya Sarad (majalahnya sekarang sudah almarhum) pada tahun 2002-2005.

Latar belakang penulis sebagai akademisi dan pernah menjadi wartawan membuat esai-esai di buku ini bisa ditulis secara sederhana tapi menarik, bebas jargon akademis. Kelebihan lainnya, sebagian esai dilengkapi dengan data dan analisis menarik, misalnya biaya dan waktu yang dihabiskan untuk kewajiban adat.

Rata-rata esai ditulis dengan menampilkan tokoh-tokoh orang-orang biasa, yang mengalami masalah yang juga dihadapi oleh orang Bali pada umumnya. Ada I Lugra yang kesulitan waktu dan uang karena punya kewajiban ngayah di 13 pura. Ada I Gede, yang harus menjual tanah untuk menyelesaikan bangunan bale dan sanggah karena mengikuti saran seorang balian. Ada pula ilustrasi keluarga Bali modern yang setiap minggu jalan-jalan ke mall mengikuti keinginan anak-anaknya.

Tak luput diceritakan pengalaman pribadi penulis yang mengalami kesulitan mengatur waktu untuk menulis karena disela kewajiban-kewajiban adat. Hal-hal seperti ini yang jarang muncul di permukaan, tenggelam oleh riuh-rendah pariwisata, kampanye pemilu, dan pilkada.

Buku Pandora Bali ini masuk dalam genre buku observasi tentang Bali yang ditulis oleh orang Bali sendiri. Genre ini dipelopori oleh Putu Setia dengan buku “Menggugat Bali” di tahun 1986, dan kemudian dilanjutkan Aryantha Soetama yang produktif dengan buku-buku kumpulan tulisannya, antara lain “Jangan Mati di Bali”, “Bali Tikam Bali”, dan “Basa Basi Bali”.

Jika Anda menggemari gaya penulisan Putu Setia dan Aryantha Soetama, Pandora Bali merupakan sequel yang layak serta enak dibaca.

Tapi, jika anda mengharapkan pembahasan lebih mendalam dari isu-isu adat dan agama di Bali, mungkin masih harus menunggu karya berikutnya dari penulis buku ini. Esai-esai Pandora Bali hanya membahas kulit-kulit dari permasalahan-permasalahan Bali. Tidak ada pembahasan rinci mengenai konflik adat. Tidak ada penjelasan memadai tentang mengapa I Lugra sampai harus menanggung kewajiban ngayah di 13 pura, dan mengapa ia sampai tunduk membabi buta kepada pengurus desanya.

Kurang mendalamnya pembahasan ini menambah kekurangan lain buku ini: proses penyuntingan yang kurang baik (daftar isi dan nomor halaman yang tidak tepat, halaman yang tidak tercetak, salah eja istilah asing “funitive reason” dan “silence majority”).

Setelah membaca buku ini, kita tidak merasa telah belajar sesuatu yang baru. Mungkin tujuan penulis buku ini memang bukan memberikan pembahasan yang mendalam. Tidak ada hal yang benar-benar baru yang dibahas oleh buku ini. Sebagian besar ditulis sebelum tahun 2005 (tidak ada keterangan tanggal dan tahun penulisan dari setiap esai, hingga menyulitkan untuk memahami konteks penulisan esai).

Tapi sudah saatnya isu-isu adat, yang telah sering dilempar oleh penulis-penulis senior seperti Putu Setia dan Aryantha Soetama, dikupas oleh penulis dan akademisi muda dengan pembahasan lebih menarik dan mendalam, hingga ditemukan akar permasalahan dan solusinya.

Beberapa solusi menarik untuk mengatasi masalah beban adat sempat disinggung oleh penulis, antara lain menghilangkan sistem pesuan-pesuan (semacam iuran wajib) dan diganti dengan iuran sukarela di Desa Pakraman Penatih (hal. 24). Atau inisiatif di Desa Pakraman Kerambitan yang menata kembali sistem upacara yadnya menjadi lebih sederhana (hal. 25).

Pembahasan yang lebih terperinci mengenai reformasi di desa pakraman ini akan sangat menarik untuk menjadi topik pembahasan berikutnya. [b]

Judul        : Pandora Bali, Refleksi di Balik Gemerlap Turisme
Penulis        : Nyoman Sukma Arida
Penerbit    : Pustaka Larasan (www.pustaka-larasan.com)
Tebal        : 166 halaman
Cetakan Pertama, Agustus 2012

Tags: BaliBudayaBukuSosialUlasan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Adi Sudewa

Adi Sudewa

Related Posts

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

12 September 2026
Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Next Post
Rezza Membagi Bahagia Lewat Desain

Rezza Membagi Bahagia Lewat Desain

Comments 3

  1. lodegen says:
    14 years ago

    ikutan baca ah. berarti isi kotak pandoranya rasa duka smua ya? ndak ada yg suka-suka?

    Reply
  2. I Wayan Subagia Arimbawa,A.Md.Kom says:
    14 years ago

    Jadi ingim membaca dan mendapat lebih banyak wawasan seputar Bali yang aku cintai serta bisa terus ikut serta menjaga dan membangun Bali kembali agar lebih baik.

    Reply
  3. I Ngurah Suryawan says:
    14 years ago

    Pokokne jeg selamet untuk Bli Sukma…

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan Kusamba Bisa Jadi Tinggal Kenangan

Nelayan Kusamba Bisa Jadi Tinggal Kenangan

13 September 2026
IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

12 September 2026
Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

Proyek Gas dalam Mimpi Bali Mandiri Energi

11 September 2026
Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

11 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia