• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, April 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Perlunya Jalan Alternatif Selain By Pass Jimbaran

Arief Budiman by Arief Budiman
26 February 2009
in Opini
0
2

Oleh Arief Budiman

Banjir By Pass

Kajian mengenai jalan alternatif menuju Nusa Dua dan Benoa secara serius nampaknya harus diintensifkan lagi. Sebab jalan tunggal by pass Nusa Dua mulai dari pertigaan Airport Ngurah Rai Tuban hingga menuju Nusa Dua rawan dengan risiko terhentinya aktifitas warga dan wisatawan dari dan menuju kawasan bergengsi tourism di Bali Jimbaran, Nusa Dua, Benoa dan seputarnya.

Kejadian kerusushan tahun 1999 telah menunjukkan hal itu. Pada saat itu ribuan tamu dan pekerja di Industri pariwisata tidak dapat kembali ke Nusa Dua karena satu-satunya jalan menuju Nusa Dua itu penuh dengan pohon ditumbangkan, ban dibakar dan tiang listrik yang dirobohkan.

Bulan ini kejadian itu hampir terulang namun bukan sabotase atau perusakan massa tapi debit air yang tinggi. Banjir itu terjadi akibat hujan di daerah bukit sehingga aliran air menuju laut harus melewati jalan raya by pass tepatnya di Jimbaran dekat SLB setelah simpang empat menuju Kampus UNUD jika kita hendak menuju Nusa Dua dari Denpasar.

Bahkan setidaknya telah dua kali kejadian dalam sebulan ini di mana kemacetan memakan waktu berjam-jam baik dari arah Nusa Dua maupun Denpasar. Kejadian pertama adalah malam hari sekitar pukul 9.00 wita hingga pukul 12 tengah malam pada hari Minggu 15 Februari. Saat itu arus jalan menjadi kacau dari segala arah disebabkan tidak memadainya petugas yang mengatur arus lalu lintas. Sementara kejadian kedua adalah pagi ini, Kamis 26 Februari 2009 mulai pukul 7 wita.

Walaupun hujan hanya sebentar namun curahnya demikian tinggi sehingga genangan air tak terelakan lagi. Hujan dan banjir kali ini sebenarnya lebih sedikit dibanding sebelumnya. Tapi karena kejadiannya pagi hari, di mana banyak aktivitas dimulai, maka dampaknya demikian besar. Antrian mobil dan motor mulai tidak teratur ketika masing-masing tidak dapat menahan diri ingin segera keluar dari banjir. Bahkan secara nekat ada wisatawan asing yang sempat mencari minum karena lamanya menunggu.

Kejadian ini jelas menghambat upaya lain di sisi promosi pariwisata Bali. Karena wisatawan yang mengalami sendiri kejadian ini merasa kesal dan dirugikan secara waktu. Masyarakat yang belum siap mengalami kejadian inipun mengakibatkan bertambahnya kesemerawutan lalu lintas pada saat kejadian sehingga menjadi bertambah lama dalam penanganan.

Jika hal ini tidak dijadikan pelajaran berharga bagi para pemangku kepentingan tentu akan menjadi penghambat berlangsungnya pembangunan ekonomi dan pariwisata Bali. Pelajaran lain yang perlu kita renungkan adalah soal pemanasan global yang membuat musim tak lagi dapat diprediksi serta curah hujan yang lebih besar dari biasanya. Soal pemanasan global ini berhubungan dengan kebiasaan manusia yang kurang kontrol dalam kebiasaan sehari-harinya termasuk pencemaran udara, buang sampah yang seenaknya serta pembangunan tanpa mengintegrasi saluran pembuangan yang terpusat.

Jika tiga tahun lalu pemerintah telah membuat saluran bawah tanah di lokasi banjir tersebut dan tahun ini terjadi hal yang tidak diduga dengan tetap banjir, bukankah ini sebuah pertanda? Jalan alternatif yang dipertanyakan barangkali juga bukan sebuah jawaban namun tetap harus diagendakan. Dalam sebuah ruang publik, emergency exit bukankah merupakan keharusan? [b]

Tags: BadungBaliOpiniPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Arief Budiman

Arief Budiman

Bekerja di Matamera Communication Denpasar. Punya perhatian khusus di bidang desain, jazz, iklan, dan VW. Kini sedang gandrung dengan blog. Menulis di portal ini adalah bagian dari perjuangannya untuk mendorong warga Denpasar rajin ngeblog. Juga mengelola Warta Jazz.

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Next Post

Pewarnaan Alam di “Base Genep”

Comments 2

  1. bukan winardi says:
    17 years ago

    Tiang penasaran apakah hal ini memang sudah terjadi sejak lama tapi baru sekarang – sekarang ini muncul ke permukaan? Ato apakah hal ini baru – baru ini saja terjadi karena dirubahnya struktur lautan disekitar daerah sana (bakau berkurang, pengurukan laut dll)?

    Mohon pencerahan …

    Reply
  2. rofiqi says:
    17 years ago

    salam, mas jalan alternatif itu wacana lama. Mungkin sudah 10 tahunan. Alternatifnya, ada jalan layang atau jalan tol. Problemnya, klasik banget soal pendanaan. Ditawarkan ke investor enggak ada yang mau karena penguasaan jalannya terlalu pendek. gak untung katanya. Kalau kelamaan, kata Pemda Bali bakal diprotes. Ada juga investor Malaysia yang mau bikin, tapi mereka pingin kuasai radius di sekitar jalan agar perawatnnnya terjamin. Repotnya, di radius itu khan hutan bakau.
    Problem besarnya, setiap kali terjadi pro dan kontra, pemimpin bali tidak ada yang berani mengambil keputusan. Atau paling tidak memberi alternatif dan lalu jalan terus. Sebab, apapun keputusannya, pasti ada pro kontra. Kita butuh pemimpin yang kuat mas, biar bisa maju terus hehehehhe…. jadi kena SARS (Sindrome Aku Rindu Soeharto) nih.

    Reply

Leave a Reply to rofiqi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia