• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, December 8, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Perikanan Berkelanjutan ala Nelayan Nusa Penida

Wayan Sukadana by Wayan Sukadana
28 June 2016
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan
0 0
0
Nelayan Nusa Penida membuat bubu untuk menangkap ikan. Foto Wayan Sukadana.
Nelayan Nusa Penida membuat bubu untuk menangkap ikan. Foto Wayan Sukadana.

Menangkap ikan secukupnya dengan alat dan cara sederhana. 

Sebagai daerah kepulauan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali termasuk daerah kaya ikan di tiga pulaunya yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Namun, nelayan di sini sadar diri.

Mereka tak mau mengeksploitasi sumber daya perikananannya dengan tidak menangkap secara besar-besaran. Nelayan di Nusa Penida memilih menggunakan alat dan metode penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

Tradisi menangkap ikan di pesisir Nusa Penida banyak jenisnya. Mulai metet, ngecesin, mohboh, pasang bubu, dan memasang geguan nyundih adalah beberapa cara tradisional sederhana menangkap ikan di Nusa Penida.

Contoh pertama seperti yang dilakukan Ketut Desa di Desa Sental Kauh. Dia membuat alat bernama bubu yang digunakan untuk menangkap ikan.

”Dulu semasih muda saya sampai memasang 9 buah bubu. Satu buah bubu bisa mendapatkan ikan 6 Kg dengan berbagai jenis,” I Ketut Desa.

“Biasanya kami jual. Kini hanya satu dua bubu yang bisa kami pasang,” tuturnya.

Itu Ketut Desa ceritakan ketika ditemui di pinggir jalan sedang membuat bubu. Bubu adalah anyaman bambu yang dibuat sedemikian rupa untuk memerangkap ikan.

Ukuran bubu 1,5 x 0,5 meter. Ditenggelamkan di laut, sehari kemudian baru dicek apakah ada ikan yang terperangkap atau tidak.

Lebih lanjut Ketut Desa menceritakan di usia yang sudah lanjut dirinya sudah tidak mampu lagi memasang bubu lagi di laut.

“Karena sudah tua saya tidak bisa memasang bubu lagi. Karena saat memasang bubu kita harus menyelam,” tambahnya. Kini dia membuat bubu untuk anaknya yang melanjutkan tradisi memasang bubu.

Contoh kedua adalah Made Tambun di Desa Majuh Batumulapan. Ia medapat ikan dengan ngeter. Cara ini digunakan untuk mendapatkan ikan segar yang kemudian dijual di rumah makannya di warung Batan Bekul.

Sate gurita dan ikan yang dijadikan menu utama warung tepi pantai ini adalah hasil dari ngeter yaitu berburu ikan dan gurita sambil menyelam. Hampir 70 persen lauk pauk ikan dan gurita di warungnya dia dapatkan dari ngeter. Sisanya baru beli itupun kalau sedang ramai dan stoknya habis.

Tambun bercerita bahwa cara ngeter itu justru dia pelajari dari bule. Ketika menyelam, dia harus menahan napas sampai 2,5 menit. Untuk itu, dia belajar cara menahan napas. “Saya belajar yoga dari bule sehingga bisa menahan napas saat menyelam sampai 2,5 menit,” katanya.

Saat ngeter, Tambun menyelam di sisi timur Pulau Nusa Penida. ”Kalau saya menyelam dari Suana ke arah barat munculnya di Batu Majuh, sekitar empat kilometer saya menyelam. Saya menembak ikan ataupun gurita secukupnya kira-kira 20 kg”, ujarnya.

Cara penangkapan ikan pemilik seperti Tambun ini termasuk ramah lingkungan karena mengambil seperlunya. Laut dianggap kolam ikannya sendiri sehingga muncul rasa memiliki terhadap laut dan menjaganya dengan bagus.

Menangkap ikan di Nusa Penida secara ramah lingkungan. Foto Wayan Sukadana.
Menangkap ikan di Nusa Penida secara ramah lingkungan. Foto Wayan Sukadana.

Contoh ketiga adalah cara ngecesin, memancing secara tradisional di Nusa Penida.

Masyarakat Nusa Penida khususnya di pesisir hidupnya tergantung dari laut. Baik sebagai petani rumput laut, nelayan ataupun pemandu wisata laut.

Ada tradisi yang terbangun di Nusa Penida memancing dengan menggunakan kayu yang dibuat seperti ikan. Biasanya disebut dengan ces.

Cara menggunakannya, ces ditautkan dengan tali yang telah diikatkan senar. Senar terbuat dari serabut kain warna warni. Tujuannya agar ikan melihatnya seperti makanan.

Gigi ikan bergerigi akan tersangkut pada senar dan ikan bisa ditarik untuk ditangkap. Salah satu nelayan yang masih menggunakan metode ini adalah I Wayan Putra. Pada Minggu kemarin, dengan cesannya ia menangkap 3 ekor ikan dengan ukuran sedang.

“Tadi ada 3 ekor ikan yang didapat dengan cara ces. Musim-musim ini lumayan hasil tangkapan ikannya. Karena ikan muncul ke permukaan mencari makan yang terbawa air hujan,”, cerita I Wayan Putra.

Dengan metode dan alat sederhana, nelayan di Nusa Penida seperti Desa, Tambun, dan Putra bisa memenuhi kebutuhan ikan sehari-hari tanpa harus mengambil secara berlebihan. [b]

Tags: LingkunganNelayanNusa Penida
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Wayan Sukadana

Wayan Sukadana

Penggerak komunitas. Penikmat dan peminat musik. Sedang belajar jadi pengusaha pariwisata di tanah kelahirannya, Nusa Penida.

Related Posts

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

3 November 2025
Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

18 October 2025
Next Post
Alami Kekerasan, Aktivis ForBALI Lapor Komnas HAM

Alami Kekerasan, Aktivis ForBALI Lapor Komnas HAM

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Beternak Babi untuk Menyelamatkan Puluhan Anjing Telantar dan Sakit

Beternak Babi untuk Menyelamatkan Puluhan Anjing Telantar dan Sakit

7 December 2025
Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

6 December 2025
“Bapak, wait for me…wait for me..!”

Ekonomi Regeneratif: Solusi Kelelahan Ekologis dan Peta Jalan Baru Bali

5 December 2025
Pernak Piknik: Cara Anak Muda Bali Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Pernak Piknik: Cara Anak Muda Bali Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

4 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia