• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Penolakan Reklamasi Teluk Benoa Makin Meluas

Anton Muhajir by Anton Muhajir
4 August 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Kedonganan Tolak Reklamasi 01

Serupa cendawan di musim hujan, suara perlawanan terus bermunculan.

Minggu kemarin, tiga baliho menolak reklamasi Teluk Benoa baru muncul di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Baliho-baliho itu dipasang di tiga titik yaitu Jalan Raya By Pass Ngurah Rai, di pertigaan Jalan Toyaning, dan di depan pertokoan Benoa Square.

Baliho ketiga dipasang dengan iringan demonstran. Sekitar 100 warga, laki-laki dan perempuan, berpakaian adat madya mengiringi pemasangan baliho tersebut.

Mereka berkaos putih seragam dengan tulisan bernada sama, Kedonganan Tolak Reklamasi. Bendera dan spanduk yang dibawa juga menyuarakan penolakan sama, mereka menolak reklamasi Teluk Benoa yang berjarak hanya sekitar 1 km dari tempat tinggal mereka.

Kedonganan Tolak Reklamasi 05

Berjalan sekitar 200 meter dari pertigaan Jalan Toyaning ke Benoa Square, para warga bernyanyi dan berorasi. Musik tradisional bleganjur dan lagu-lagu Tolak Reklamasi mengiringi perjalanan tersebut.

“Reklamasi….” teriak koordinator lapangan I Dewa Ketut Subamia yang berdiri di mobil terbuka melalui pengeras suara.

“Tolaaaaak,” sahut warga menjawab berbarengan. Mereka mengepalkan tangan kiri ke udara.

Kedonganan merupakan salah satu desa yang mengelilingi Teluk Benoa. Selain desa ini, ada pula desa-desa lain seperti Desa Serangan, Tuban, Kelan, Bualu, dan lain-lain. Desa-desa ini mengelilingi kawasan teluk seluas sekitar 1.373 hektar ini.

Karena lokasinya yang strategis tersebut, Teluk Benoa menjadi incaran banyak investor. Salah satunya PT Tirta Wahana Bali International (PT TWBI) yang akan membangun pusat kegiatan pariwisata sekelas Walt Disney. Untuk mewujudkan niat tersebut, perusahaan milik taipan Tomy Winata ini akan mereklamasi teluk seluas sekitar 800 hektar.

Namun, niat PT TWBI untuk mereklamasi ini menimbulkan ketakutan pada warga desa-desa sekitar Teluk Benoa, termasuk warga Desa Kedonganan.

“Kami tidak mau daerah kami akan kebanjiran jika reklamasi Teluk Benoa jadi dilaksanakan,” kata I Gede Sudiana, Ketua Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FPPB) Desa Kedonganan.

Karena itulah, warga Desa Kedonganan menolak rencana reklamasi tersebut.

Kedonganan Tolak Reklamasi 04

Mematikan
Sudiana yang ikut dalam aksi menolak reklamasi Teluk Benoa memberikan dua alasan lain. Pertama karena reklamasi akan mematikan nelayan setempat. Saat ini, kata Sudiana, ada sekitar 200 warga Kedonganan yang jadi nelayan di Teluk Benoa. Sehari-hari, para nelayan mencari ikan di wilayah teluk yang nantinya akan direklamasi.

“Jika tempat kami mencari ikan nanti direklamasi, ke mana kami harus mencari sumber penghidupan,” tanya Sudiana.

Alasan lain, Sudiana melanjutkan, warga khawatir pembangunan pusat pariwisata baru di Teluk Benoa justru akan mematikan sumber pendapatan warga yang lain.

Kedonganan selama ini menjadi pusat restoran khas ikan laut. Restoran-restoran milik warga berderet di sisi barat pantai yang menghadap ke arah Bandara Ngurah Rai Bali tersebut.

“Kalau ada pusat pariwisata baru, apalagi didukung kapital lebih besar, kami yakin tempat wisata di daerah kami akan mati karena kalah bersaing,” tambah Sudiana.

Karena itulah, menurut Sudiana, Pemerintah Kabupaten Badung dan Provinsi Bali harus menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “Kami tidak menolak pariwisata. Kami hanya berharap agar pembangunan pariwisata dikembangkan ke daerah lain di Bali seperti di bagian timur atau utara. Bali selatan sudah penuh dengan fasilitas pariwisata,” katanya.

Penolakan warga Kedonganan tersebut diwujudkan dalam bentuk aksi termasuk pemasangan spanduk dan pengibaran layang-layang bertuliskan Kedonganan Tolak Reklamasi hari ini.

Kedonganan Tolak Reklamasi 02

Takut Abrasi
Suara-suara penolakan warga tersebut tak hanya dari Kedonganan. Sebelumnya, penolakan juga muncul dari desa lain seperti Desa Tanjung Benoa, Kelan, Sanur, Suwung, dan Sukawati. Penolakan itu pada umumnya dikoordinir para pemuda.

Di Desa Kelan, yang berlokasi di sebelah Bandara Ngurah Rai, misalnya muncul baliho di pinggir jalan. Tulisannya Desa Kelan Menolak Reklamasi. Melawan atau Tenggelam.

Di Suwung, baliho serupa juga dipasang di pinggir Jalan By Pass Ngurah Rai. Isi tulisannya Jangan Tenggelamkan Kami Bapak Presiden SBY. Bali Tolak Reklamasi Batalkan Perpres No. 51/2014.

Baliho serupa juga muncul di Sukawati, Gianyar yang berjarak sekitar 20 km dari Teluk Benoa. Kelompok pemuda desa ini memasang baliho penolakan reklamasi pekan ini.

Kadek Tila, salah satu pemuda yang memasang baliho tersebut menuturkan, mereka menolak reklamasi Teluk Benoa karena khawatir desa mereka akan kena dampak abrasi. “Sekarang saja sudah kena abrasi, apalagi kalau nanti reklamasi Teluk Benoa jadi dilakukan,” kata Tila yang juga pemilik agen perjalanan.

Menurut Tila, desa-desa di sisi selatan Kabupaten Gianyar merupakan daerah yang rentan kena dampak reklamasi Teluk Benoa. Pantai-pantai selatan di kecamatan ini antara lain Pantai Ketewel, Purnama, dan Lebih akan terkena abrasi parah.

Hingga awal 1990-an, pantai di daerah ini masih menjorok ke lautan. Namun, begitu ada reklamasi di Pulau Serangan milik PT Bali Turtle Island Development (BTID) milik Bambang Trihatmodjo pada 1994, daerah ini makin terkena abrasi. Bangunan-bangunan seperti kafe, wantilan, dan rumah warga kini hancur akibat kerasnya abrasi.

“Jika nantinya reklamasi Teluk Benoa jadi dilakukan, habislah pantai di desa kami,” ujar Tila. Karena itu, menurut Tila, reklamasi Teluk Benoa tak hanya mengancam desa-desa di sekitarnya tapi juga pantai-pantai lain di Bali.

Maka, penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa pun terus muncul di berbagai tempat. Tak hanya di desa sekitar Teluk Benoa tapi juga hingga ke Sukawati di Gianyar dan bahkan pegunungan Bali seperti Penebel, Tabanan.

Penolakan-penolakan tersebut ada yang dilakukan secara spontan, misalnya di Kedonganan, namun ada pula yang melalui koordinasi dengan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali).

Menurut Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana, hingga saat terdapat 13 komunitas di Bali yang sudah melakukan suara penolakan tersebut. Ada yang dilakukan Seka Teruna Teruna, kelompok pemuda banjar, ataupun komunitas warga yang peduli.

Komunitas-komunitas tersebut tersebar di 9 desa di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.

“Suara-suara perlawanan itu menunjukkan bahwa reklamasi Teluk Benoa memang menjadi masalah bagi seluruh warga Bali,” kata Gendo. [b]

Tags: BadungLingkunganReklamasi Teluk Benoa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba

Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia