• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, July 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pejabat Rasa Raja

Renaldi Bayu by Renaldi Bayu
15 July 2025
in Kabar Baru, Opini, Pelayanan Publik
0
0
Gubernur Bali dan pejabat lainnya saat peluncuran lokasi PKB. Foto: Luh De

Negara dengan sistem demokrasi, jabatan publik adalah amanah. Namun, muncul fenomena yang menghadapi ancaman kultural yang kian mangakar, dimana feodalisme gaya baru yang tumbuh subur di tubuh birokrasi dan ruang sosial masyarakat.

Di tengah narasi demokrasi prosedural yang terus dikumandangkan, kita justru menyaksikan paradoks: pejabat publik yang tampil layaknya raja, dan masyarakat yang kembali memposisikan diri sebagai “kawula” alih-alih warga negara yang berdaulat. Praktik ini tak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga tampak nyata di daerah-daerah, termasuk di Bali.

Praktik penyambutan pejabat yang berlebihan seorang pejabat menjadi pemandangan yang tak asing. Sambutan mulai dari tabuh baleganjur lengkap dengan pengalungan bunga oleh anak-anak sekolah, hingga kepala daerah yang hadir dalam seremoni desa disambut oleh barisan penari rejang, hanuman, penduduk berpakaian adat dengan warna seragam, dan pengawalan aparat secara massif.

Di beberapa tempat, baliho besar bertuliskan “Selamat Datang Bupati” menghiasi jalan utama, menggambarkan suasana seolah-olah kepala daerah adalah figur aristokratis yang sedang melakukan kunjungan kerajaan. Sebagian camat dan perangkat desa pun terjebak dalam ritualisasi ini, menjadikan agenda pembangunan sebagai panggung seremoni kekuasaan (yang datang adalah penguasa, bukan pelayan masyarakat).

“Demokrasi yang semestinya menciptakan relasi setara justru direduksi menjadi panggung glorifikasi. Yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini tak jarang mendapat dukungan, bahkan dirayakan oleh sebagian masyarakat.”

Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada perilaku pejabat, melainkan juga pada pola pikir masyarakat. Dalam konteks lokal, warisan budaya patronase dan penghormatan hierarkis acapkali membuat masyarakat enggan, bahkan tabu, untuk mengkritik pejabat. Kepala desa yang terlalu kritis bisa dipinggirkan dalam alokasi anggaran, aktivis lokal bisa dilabeli sebagai “pengganggu harmoni”, dan media lokal pun sering memilih diam demi menjaga relasi ekonomi dan politik.

Akibatnya, sebagian warga masih menganggap kehadiran pejabat sebagai anugerah, bukan sebagai konsekuensi dari sistem pemerintahan yang demokratis. Jika dibiarkan, situasi ini berisiko menumpulkan fungsi kontrol publik. Media enggan bersuara kritis, lembaga masyarakat sipil terjebak dalam hubungan formalistik, dan ruang partisipasi warga menyempit. Pada akhirnya, jika dibiarkan: Akuntabilitas publik menjadi lemah.

Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga tentang relasi kuasa yang terbuka dan egaliter. Untuk itu, kita memerlukan koreksi total. Pertama, pendidikan politik di tingkat lokal harus menekankan prinsip bahwa pejabat adalah pelayan publik, bukan pemilik wilayah. Kedua, masyarakat sipil harus berani mengambil peran sebagai pengawas, bukan pendukung seremonial.

Ketiga, media lokal dan nasional harus mengedepankan jurnalisme kritis yang membongkar simbol (semiotis) kekuasaan kosong dan menyuarakan kepentingan rakyat secara objektif, independen, dan berpihak kepada kepentingan publik. Tak kalah penting, pejabat publik harus menyadari bahwa kehormatan jabatan bukan ditentukan oleh seremoni, melainkan oleh kinerja dan integritas. Jika demokrasi kita ingin bertahan, maka harus kita pastikan bahwa jabatan publik bukanlah tahta!

sangkarbet kampungbet
Tags: DemokrasiOpinipejabat publik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Renaldi Bayu

Renaldi Bayu

Renaldi Bayu is a student at Udayana University specializing in critical social sciences, with a focus on sustainability and contemporary social phenomena, combining empirical analysis and philosophical reflection in the study of modern society.

Related Posts

Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Next Post
Lumpuhnya Jalur Denpasar-Gilimanuk: Darurat Konektivitas dan Perlunya Jaringan Transportasi Tanggap Bencana

Lumpuhnya Jalur Denpasar-Gilimanuk: Darurat Konektivitas dan Perlunya Jaringan Transportasi Tanggap Bencana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia