• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, March 7, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Pejabat Rasa Raja

Renaldi Bayu by Renaldi Bayu
15 July 2025
in Kabar Baru, Opini, Pelayanan Publik
0
0
Gubernur Bali dan pejabat lainnya saat peluncuran lokasi PKB. Foto: Luh De

Negara dengan sistem demokrasi, jabatan publik adalah amanah. Namun, muncul fenomena yang menghadapi ancaman kultural yang kian mangakar, dimana feodalisme gaya baru yang tumbuh subur di tubuh birokrasi dan ruang sosial masyarakat.

Di tengah narasi demokrasi prosedural yang terus dikumandangkan, kita justru menyaksikan paradoks: pejabat publik yang tampil layaknya raja, dan masyarakat yang kembali memposisikan diri sebagai “kawula” alih-alih warga negara yang berdaulat. Praktik ini tak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga tampak nyata di daerah-daerah, termasuk di Bali.

Praktik penyambutan pejabat yang berlebihan seorang pejabat menjadi pemandangan yang tak asing. Sambutan mulai dari tabuh baleganjur lengkap dengan pengalungan bunga oleh anak-anak sekolah, hingga kepala daerah yang hadir dalam seremoni desa disambut oleh barisan penari rejang, hanuman, penduduk berpakaian adat dengan warna seragam, dan pengawalan aparat secara massif.

Di beberapa tempat, baliho besar bertuliskan “Selamat Datang Bupati” menghiasi jalan utama, menggambarkan suasana seolah-olah kepala daerah adalah figur aristokratis yang sedang melakukan kunjungan kerajaan. Sebagian camat dan perangkat desa pun terjebak dalam ritualisasi ini, menjadikan agenda pembangunan sebagai panggung seremoni kekuasaan (yang datang adalah penguasa, bukan pelayan masyarakat).

“Demokrasi yang semestinya menciptakan relasi setara justru direduksi menjadi panggung glorifikasi. Yang lebih mengkhawatirkan, praktik ini tak jarang mendapat dukungan, bahkan dirayakan oleh sebagian masyarakat.”

Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada perilaku pejabat, melainkan juga pada pola pikir masyarakat. Dalam konteks lokal, warisan budaya patronase dan penghormatan hierarkis acapkali membuat masyarakat enggan, bahkan tabu, untuk mengkritik pejabat. Kepala desa yang terlalu kritis bisa dipinggirkan dalam alokasi anggaran, aktivis lokal bisa dilabeli sebagai “pengganggu harmoni”, dan media lokal pun sering memilih diam demi menjaga relasi ekonomi dan politik.

Akibatnya, sebagian warga masih menganggap kehadiran pejabat sebagai anugerah, bukan sebagai konsekuensi dari sistem pemerintahan yang demokratis. Jika dibiarkan, situasi ini berisiko menumpulkan fungsi kontrol publik. Media enggan bersuara kritis, lembaga masyarakat sipil terjebak dalam hubungan formalistik, dan ruang partisipasi warga menyempit. Pada akhirnya, jika dibiarkan: Akuntabilitas publik menjadi lemah.

Demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi juga tentang relasi kuasa yang terbuka dan egaliter. Untuk itu, kita memerlukan koreksi total. Pertama, pendidikan politik di tingkat lokal harus menekankan prinsip bahwa pejabat adalah pelayan publik, bukan pemilik wilayah. Kedua, masyarakat sipil harus berani mengambil peran sebagai pengawas, bukan pendukung seremonial.

Ketiga, media lokal dan nasional harus mengedepankan jurnalisme kritis yang membongkar simbol (semiotis) kekuasaan kosong dan menyuarakan kepentingan rakyat secara objektif, independen, dan berpihak kepada kepentingan publik. Tak kalah penting, pejabat publik harus menyadari bahwa kehormatan jabatan bukan ditentukan oleh seremoni, melainkan oleh kinerja dan integritas. Jika demokrasi kita ingin bertahan, maka harus kita pastikan bahwa jabatan publik bukanlah tahta!

sangkarbet kampungbet
Tags: DemokrasiOpinipejabat publik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Renaldi Bayu

Renaldi Bayu

Renaldi Bayu is a student at Udayana University specializing in critical social sciences, with a focus on sustainability and contemporary social phenomena. In his work, he combines empirical analysis with philosophical inquiry. Bayu actively produces writings that integrate methodology, critical reflection, and social sensitivity, aiming to analyze the complexities of modern society.

Related Posts

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Mesin Tap Trans Metro Dewata Sering Galat

Perang dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

3 March 2026
Kepsek Arogan, Siswa Kehujanan

Ironi Mewahnya Vila-vila dan Kondisi Sekolah Negeri di Bali

17 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Next Post
Lumpuhnya Jalur Denpasar-Gilimanuk: Darurat Konektivitas dan Perlunya Jaringan Transportasi Tanggap Bencana

Lumpuhnya Jalur Denpasar-Gilimanuk: Darurat Konektivitas dan Perlunya Jaringan Transportasi Tanggap Bencana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

4 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia