• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Nyepi di Bali Terbukti Mengurangi Emisi

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
20 April 2013
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru, Lingkungan
0
0
nyepi-bali
Suasana Nyepi di Bali. Foto Google.com.

Riset BMKG menunjukkan, Nyepi di Bali memang mampu menurunkan CO2 dan NO2.

Karena itu, pengusaha pariwisata Bali dan pemerintah diharapkan membuat kegiatan-kegiatan tindak lanjut penurunan emisi gas rumah kaca. Sebagaimana hasil penelitian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada Hari Raya Nyepi terjadi penurunan emisi gas rumah kaca rata-rata 33 persen.

“Penelitian ini merupakan penelitian pertama kali yang menghitung dampak Nyepi dengan peralatan khusus,” kata I Wayan Suardana, Kepala BMKG Bali yang mengikuti presentasi hasil penelitian ini di Jakarta. Penelitian ini dibuat BMKG pusat dan mengambil sampel penghitungan emisi di lima daerah di Bali.

Menurut Suardana, hasil ini memberi dorongan pelestarian lingkungan dari Bali untuk lebih intensif lagi. Ia mengatakan perlu ada program lain terutama bekerja sama dengan industri pariwisata agar kampanye penyelamatan lingkungan lebih gencar lagi.

“Tak hanya melalui Nyepi yang satu-satunya dilakukan di seluruh Pulau Bali, tapi ada tindakan lain,” tambah Suardana. Jika Nyepi memang terbukti memberikan dampak pengurangan efek gas rumah kaca, menurutnya bisa menjadi brand Bali di dunia internasional.

Penelitian ini disebut bisa dilakukan karena Nyepi dilakukan di seluruh Bali. Di mana ada larangan aktivitas kendaraan di darat, laut, dan udara selama 24 jam. BMKG meneliti lima daerah di Pulau Bali, yaitu Denpasar, Bedugul (Tabanan), Karangasem, Singaraja, dan Negara (Jembrana).

Penelitian ini dilakukan di antaranya dnegan cara langsung menggunakan alat digital Wolf Pack Area Monitor dan Continous Analyzer IRIS 4600.
Alat ini mengukur konsentrasi gas rumah kaca per jam, dengan parameter untuk karbondioksida (CO2) dan nitrogendioksida (NO2).

Mistis
Walau saat Nyepi aktivitas luar ruang nyaris tidak ada, namun sejumlah aktivis lingkungan melihat perlu ada penelitian lanjutan mengenai kemungkinan emisi dari peningkatan konsumsi makanan dalam kemasan serta akses internet.

Jika Nyepi benar-benar dilaksanakan, pegiat spiritual Panji Tisna mengatakan warga bisa mendengar suara putaran bumi memutari matahari sebagai pengalaman mistis.

Hari raya Nyepi memang menjadi hari libur nasional tiap tahunnya. Namun, konsep Nyepi dengan empat pantangannya atau Catur Brata Penyepian hanya dilakukan di Bali.

Sebelumnya Menteri Lingkungan Hdup Balthasar Kambuaya mengatakan konsep Nyepi bagus jika bisa dilakukan secara nasional. Hal ini menurutnya berkontribusi pada komitmen penurunan emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen di Indonesia. Namun, menurutnya, hal ini tidak mudah karena tergantung kesadaran masyarakat dan kesanggupan pemerintah daerah.

Ketika Nyepi, warga akan mengurung diri di dalam rumah atau hotel selama 24 jam guna melaksanakan empat pantangan. Empat pantangan tersebut antara lain Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan dan Amati Lelaungan.

Amati Karya atau tidak bekerja dan tidak menjalankan aktivitas lainnya. Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerang, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang.

Selain Nyepi sebagai ritual adat dan agama Hindu di Bali, sejumlah LSM di Bali juga memiliki kampanye pengurangan emisi yang dilaksanakan tiap 21 Maret sejak tahun 2008. Kampanye World Silent Day (WSD) ini mengajak warga melakukan pengurangan aktivitas penggunaan energi selama empat jam.
Penggalangan tanda tangan dilakukan agar gerakan ini bisa diajukan ke sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change(UNFCCC) sebagai gerakan global yang berakar dari tradisi Nyepi masyarakat Hindu Bali.

WSD menargetkan bisa mengumpulkan 10 juta tanda tangan hingga beberapa tahun ke depan sebagai bentuk dukungan global. [b]

Tags: BaliLingkunganNyepi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Next Post
Hatta: Kelas Menengah Jangan Konsumtif!

Hatta: Kelas Menengah Jangan Konsumtif!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia