• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, May 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Nyepi di Bali Terbukti Mengurangi Emisi

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
20 April 2013
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru, Lingkungan
0
0
nyepi-bali
Suasana Nyepi di Bali. Foto Google.com.

Riset BMKG menunjukkan, Nyepi di Bali memang mampu menurunkan CO2 dan NO2.

Karena itu, pengusaha pariwisata Bali dan pemerintah diharapkan membuat kegiatan-kegiatan tindak lanjut penurunan emisi gas rumah kaca. Sebagaimana hasil penelitian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada Hari Raya Nyepi terjadi penurunan emisi gas rumah kaca rata-rata 33 persen.

“Penelitian ini merupakan penelitian pertama kali yang menghitung dampak Nyepi dengan peralatan khusus,” kata I Wayan Suardana, Kepala BMKG Bali yang mengikuti presentasi hasil penelitian ini di Jakarta. Penelitian ini dibuat BMKG pusat dan mengambil sampel penghitungan emisi di lima daerah di Bali.

Menurut Suardana, hasil ini memberi dorongan pelestarian lingkungan dari Bali untuk lebih intensif lagi. Ia mengatakan perlu ada program lain terutama bekerja sama dengan industri pariwisata agar kampanye penyelamatan lingkungan lebih gencar lagi.

“Tak hanya melalui Nyepi yang satu-satunya dilakukan di seluruh Pulau Bali, tapi ada tindakan lain,” tambah Suardana. Jika Nyepi memang terbukti memberikan dampak pengurangan efek gas rumah kaca, menurutnya bisa menjadi brand Bali di dunia internasional.

Penelitian ini disebut bisa dilakukan karena Nyepi dilakukan di seluruh Bali. Di mana ada larangan aktivitas kendaraan di darat, laut, dan udara selama 24 jam. BMKG meneliti lima daerah di Pulau Bali, yaitu Denpasar, Bedugul (Tabanan), Karangasem, Singaraja, dan Negara (Jembrana).

Penelitian ini dilakukan di antaranya dnegan cara langsung menggunakan alat digital Wolf Pack Area Monitor dan Continous Analyzer IRIS 4600.
Alat ini mengukur konsentrasi gas rumah kaca per jam, dengan parameter untuk karbondioksida (CO2) dan nitrogendioksida (NO2).

Mistis
Walau saat Nyepi aktivitas luar ruang nyaris tidak ada, namun sejumlah aktivis lingkungan melihat perlu ada penelitian lanjutan mengenai kemungkinan emisi dari peningkatan konsumsi makanan dalam kemasan serta akses internet.

Jika Nyepi benar-benar dilaksanakan, pegiat spiritual Panji Tisna mengatakan warga bisa mendengar suara putaran bumi memutari matahari sebagai pengalaman mistis.

Hari raya Nyepi memang menjadi hari libur nasional tiap tahunnya. Namun, konsep Nyepi dengan empat pantangannya atau Catur Brata Penyepian hanya dilakukan di Bali.

Sebelumnya Menteri Lingkungan Hdup Balthasar Kambuaya mengatakan konsep Nyepi bagus jika bisa dilakukan secara nasional. Hal ini menurutnya berkontribusi pada komitmen penurunan emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen di Indonesia. Namun, menurutnya, hal ini tidak mudah karena tergantung kesadaran masyarakat dan kesanggupan pemerintah daerah.

Ketika Nyepi, warga akan mengurung diri di dalam rumah atau hotel selama 24 jam guna melaksanakan empat pantangan. Empat pantangan tersebut antara lain Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan dan Amati Lelaungan.

Amati Karya atau tidak bekerja dan tidak menjalankan aktivitas lainnya. Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerang, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang.

Selain Nyepi sebagai ritual adat dan agama Hindu di Bali, sejumlah LSM di Bali juga memiliki kampanye pengurangan emisi yang dilaksanakan tiap 21 Maret sejak tahun 2008. Kampanye World Silent Day (WSD) ini mengajak warga melakukan pengurangan aktivitas penggunaan energi selama empat jam.
Penggalangan tanda tangan dilakukan agar gerakan ini bisa diajukan ke sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change(UNFCCC) sebagai gerakan global yang berakar dari tradisi Nyepi masyarakat Hindu Bali.

WSD menargetkan bisa mengumpulkan 10 juta tanda tangan hingga beberapa tahun ke depan sebagai bentuk dukungan global. [b]

Tags: BaliLingkunganNyepi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Next Post
Hatta: Kelas Menengah Jangan Konsumtif!

Hatta: Kelas Menengah Jangan Konsumtif!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Bahasa yang Dibentuk Merek Dagang

Bahasa yang Dibentuk Merek Dagang

20 May 2026

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

19 May 2026

TPA Suwung Ditutup, Apakah Bali Siap?

19 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia