• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, November 7, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Nyepi di Bali Terbukti Mengurangi Emisi

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
20 April 2013
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru, Lingkungan
0
0
nyepi-bali
Suasana Nyepi di Bali. Foto Google.com.

Riset BMKG menunjukkan, Nyepi di Bali memang mampu menurunkan CO2 dan NO2.

Karena itu, pengusaha pariwisata Bali dan pemerintah diharapkan membuat kegiatan-kegiatan tindak lanjut penurunan emisi gas rumah kaca. Sebagaimana hasil penelitian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada Hari Raya Nyepi terjadi penurunan emisi gas rumah kaca rata-rata 33 persen.

“Penelitian ini merupakan penelitian pertama kali yang menghitung dampak Nyepi dengan peralatan khusus,” kata I Wayan Suardana, Kepala BMKG Bali yang mengikuti presentasi hasil penelitian ini di Jakarta. Penelitian ini dibuat BMKG pusat dan mengambil sampel penghitungan emisi di lima daerah di Bali.

Menurut Suardana, hasil ini memberi dorongan pelestarian lingkungan dari Bali untuk lebih intensif lagi. Ia mengatakan perlu ada program lain terutama bekerja sama dengan industri pariwisata agar kampanye penyelamatan lingkungan lebih gencar lagi.

“Tak hanya melalui Nyepi yang satu-satunya dilakukan di seluruh Pulau Bali, tapi ada tindakan lain,” tambah Suardana. Jika Nyepi memang terbukti memberikan dampak pengurangan efek gas rumah kaca, menurutnya bisa menjadi brand Bali di dunia internasional.

Penelitian ini disebut bisa dilakukan karena Nyepi dilakukan di seluruh Bali. Di mana ada larangan aktivitas kendaraan di darat, laut, dan udara selama 24 jam. BMKG meneliti lima daerah di Pulau Bali, yaitu Denpasar, Bedugul (Tabanan), Karangasem, Singaraja, dan Negara (Jembrana).

Penelitian ini dilakukan di antaranya dnegan cara langsung menggunakan alat digital Wolf Pack Area Monitor dan Continous Analyzer IRIS 4600.
Alat ini mengukur konsentrasi gas rumah kaca per jam, dengan parameter untuk karbondioksida (CO2) dan nitrogendioksida (NO2).

Mistis
Walau saat Nyepi aktivitas luar ruang nyaris tidak ada, namun sejumlah aktivis lingkungan melihat perlu ada penelitian lanjutan mengenai kemungkinan emisi dari peningkatan konsumsi makanan dalam kemasan serta akses internet.

Jika Nyepi benar-benar dilaksanakan, pegiat spiritual Panji Tisna mengatakan warga bisa mendengar suara putaran bumi memutari matahari sebagai pengalaman mistis.

Hari raya Nyepi memang menjadi hari libur nasional tiap tahunnya. Namun, konsep Nyepi dengan empat pantangannya atau Catur Brata Penyepian hanya dilakukan di Bali.

Sebelumnya Menteri Lingkungan Hdup Balthasar Kambuaya mengatakan konsep Nyepi bagus jika bisa dilakukan secara nasional. Hal ini menurutnya berkontribusi pada komitmen penurunan emisi gas rumah kaca sebanyak 26 persen di Indonesia. Namun, menurutnya, hal ini tidak mudah karena tergantung kesadaran masyarakat dan kesanggupan pemerintah daerah.

Ketika Nyepi, warga akan mengurung diri di dalam rumah atau hotel selama 24 jam guna melaksanakan empat pantangan. Empat pantangan tersebut antara lain Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan dan Amati Lelaungan.

Amati Karya atau tidak bekerja dan tidak menjalankan aktivitas lainnya. Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerang, Amati Lelungan tidak bepergian dan Amati Lelanguan tidak mengumbar hawa nafsu atau bersenang-senang.

Selain Nyepi sebagai ritual adat dan agama Hindu di Bali, sejumlah LSM di Bali juga memiliki kampanye pengurangan emisi yang dilaksanakan tiap 21 Maret sejak tahun 2008. Kampanye World Silent Day (WSD) ini mengajak warga melakukan pengurangan aktivitas penggunaan energi selama empat jam.
Penggalangan tanda tangan dilakukan agar gerakan ini bisa diajukan ke sekretariat United Nations Framework Convention on Climate Change(UNFCCC) sebagai gerakan global yang berakar dari tradisi Nyepi masyarakat Hindu Bali.

WSD menargetkan bisa mengumpulkan 10 juta tanda tangan hingga beberapa tahun ke depan sebagai bentuk dukungan global. [b]

Tags: BaliLingkunganNyepi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

4 November 2026
Transisi ke Kendaraan Listrik di tengah Kelangkaan BBM adalah Wacana Kapitalistik?

Transisi ke Kendaraan Listrik di tengah Kelangkaan BBM adalah Wacana Kapitalistik?

23 October 2026
Kelangkaan BBM di Bali: Contoh Kegagalan Mitigasi dan Komunikasi Risiko

Kelangkaan BBM di Bali: Contoh Kegagalan Mitigasi dan Komunikasi Risiko

20 October 2026
Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

Infrastruktur Komputasi vs. Neraca Air: Mengukur Jejak Ekologis Data Center di Bali

12 October 2026
Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

28 September 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Ada Dapur Raksasa di Bawah Danau-danau di Bedugul

27 September 2026
Next Post
Hatta: Kelas Menengah Jangan Konsumtif!

Hatta: Kelas Menengah Jangan Konsumtif!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Menyesapi Akulturasi Hindu – Budha di Baturiti

Benarkah Orang Bali Skizoid?

6 November 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

6 November 2026
Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia 2025: Oligarki Kian Vulgar

Korupsi Dana Tunjangan Pensiunan Veteran di Bali

5 November 2026
Jelajah Desa Awan, Desa Penyuplai Air Perkotaan

Jelajah Desa Awan, Desa Penyuplai Air Perkotaan

4 November 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia