Nusa Penida, Keindahan Bawah Laut yang Kian Rentan

Broken Beach Nusa Penida. Foto : CTC

Nusa Penida sedang naik daun bagi warga maupun pecinta jalan-jalan.

Bagi masyarakat Bali, nama Nusa Penida sudah sangat sering terdengar maupun dilafalkan dalam kehidupan sehari-harinya. Gugusan pulau di sisi tenggara Pulau Bali ini tengah ramai diperbincangkan. Apalagi setelah merebaknya konten-konten estetik di media sosial menampilkan keindahan alam Nusa Penida. 

Sekilas Nusa Penida

Nusa Penida di Kabupaten Klungkung dapat dijangkau dalam waktu 30 menit menggunakan speed boat dari Sanur, Denpasar. Dia merupakan gugusan tiga pula, termasuk Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Tiga pulau ini jadi satu kecamatan.

Seperti hampir semua tempat di Bali, Nusa Penida juga istimewa dan memiliki ciri khas. Nusa Penida pun menyimpan keindahan alam bawah laut yang memukau mata para penyelam dan snorkeler. Pada tahun 2017 terdapat kurang lebih 300,000 wisatawan yang berkunjung ke Nusa Penida.

Namun, di sisi lain, tingginya angka kunjungan sedemikian ini dapat memberikan dampak kurang menyenangkan bagi lautan termasuk terumbu karang.

Warna-Warni Kehidupan

Perairan Nusa Penida menyimpan kekayaan alam sangat beragam. Mulai dari terumbu karang hingga ikan-ikan. Ditemukan  296 jenis karang dan 576 jenis ikan di Perairan Nusa Penida. Ia juga dihuni hewan-hewan laut berukuran besar seperti Ikan Mola dan Pari Manta yang banyak menarik perhatian para penyelam.

Guna menjaga keanekaragaman hayati laut di wilayah ini, berbagai upaya konservasi dilakukan. Mulai dari pembentukan Kawasan Konservasi Perairan (KKP), patroli rutin, hingga dilakukan pemantauan terhadap kesehatan karang. Terumbu karang dan ikan di Nusa Penida dipantau kondisinya setiap tahunnya melalui kegiatan survei di bawah air yang disebut Reef Health Monitoring (RHM).

Mengumpulkan Data

Layaknya kegiatan survei lapangan pada umumnya, pemantauan kondisi alam bawah laut juga bagian dari sains dan seni.  Namun, kedua survei tersebut memiliki tantangannya masing-masing. Cuaca, arus, kondisi geografis, pengalaman dan dinamika tim membuat setiap kegiatan ini menjadi unik untuk dilakukan.

Tim penyelam sedang melakukan pendataan. Foto: CTC

Menyelam untuk mengumpulkan data memiliki beberapa kesamaan dengan aktivitas menyelam pada umumnya. Penyelam harus memantau aliran oksigen dan daya apungnya, serta menjauhkan peralatan dan tubuhnya dari terumbu karang dan tetap mengamati keadaan sekeliling.

Saat melakukan pemantauan kesehatan karang, beberapa alat-alat khusus juga digunakan seperti kertas tahan air, papan, pensil, pakaian dan perlengkapan selam, alat ukur gulung (roll meter), tali pengikat pensil, dive computer. Akibat pergolakan arus di bawah air, alat tulis berupa pensil yang digunakan bisa saja pecah, sehingga tidak ada salahnya jika penyelam membawa cadangan pensil di lengan bajunya.

Pemantauan Kesehatan Karang

RHM merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan Coral Triangle Center (CTC) bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali-UPTD KKP Bali serta para mitra lainnya.  Umumnya RHM memakan waktu sekitar 1 sampai 2 minggu dan telah dimulai sejak tahun 2010.

Dari hasil survei ini, diperoleh informasi tentang kondisi sumber daya alam di wilayah perairan Nusa Penida. Misalnya biomasa ikan dan tutupan karang. Pada lingkup Pulau Bali, CTC bersama DKP Provinsi Bali  dan mitra LSM The Nature Conservancy pernah melakukan pendataan pada tahun 2015.

Penyelam melakukan pendataan menggunakan kertas tahan air dan roll meter.
Foto : Brooke/CTC

Berdasarkan penuturan Wira Sanjaya, penyelam yang juga Nusa Penida Project Leader di Coral Triangle Center (CTC), salah satu tantangan dari kegiatan RHM adalah cuaca yang mempengaruhi arus dan gelombang serta tantangan dari segi kesiapan tim dan  pendanaan. Menurut Jaya, panggilan akrabnya, perkiraan cuaca dan kondisi di lapangan terkadang berbeda.

“Kita harus membuat perencanaan penyelaman dengan baik berdasarkan pasang surut serta membuat plan A, B, C untuk setiap lokasi apabila pada saat penyelaman kondisi A tidak memungkinkan maka dilanjutkan ke plan B,” ujarnya.

Melibatkan Berbagai Kalangan

Reva, salah satu penyelam perempuan dari CTC yang juga turut serta dalam kegiatan RHM, juga menyampaikan pengalamannya saat mengikuti RHM di Nusa Penida. Tantangan terberat selama menyelam, menurut Reva, adalah mengontrol ketenangan saat menghadapi situasi sulit,  seperti terbawa arus.

“Kunci dari penyelaman adalah tenang dan membuat perencanaan yang baik. , kalau kita tidak tenang, semuanya kacau dan dapat menyebabkan kecelakaan,” ujar Nusa Penida Field Officer ini.  

Reva juga menyampaikan pengalamannya sebagai salah satu penyelam perempuan yang turut serta dalam kegiatan RHM. Bagi Reva, menyelam di antara kebanyakan laki-laki untuk mengambil data ikan cukup mengesankan. Menyelam di bawah laut, lanjutnya, tidak ada perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Semua yang dirasakan sama oleh para penyelam laki-laki dan perempuan, seperti kedinginan, pusing saat di kapal terguncang dan terayun saat gelombang cukup besar. 

“Penting untuk selalu diingat adalah bekerja sama dan mengingatkan antar penyelam jika ada kesulitan dalam persiapan maupun pengambilan data,” ujarnya.

Pemantauan Kondisi Karang. Foto: CTC

Reva juga membagikan pengalamannya sebagai penyelam perempuan di Nusa Penida. Kegiatan menyelam bagi para perempuan belum menjadi suatu hal yang lazim dilakukan. Kegiatan penyelaman oleh perempuan masih dianggap jarang dan berbahaya seperti di Nusa Penida ini.

Warga di sekitar tempat tinggalnya di Nusa Penida ini masih terheran-heran setiap kali melihat Reva membawa peralatan selam (scuba gear) karena biasanya peralatan ini dibawa oleh para penyelam laki-laki. “Suatu kebanggaan untuk saya sebagai penyelam perempuan. Penyelaman menantang diri saya untuk terus mengasah keterampilan diri agar dapat terus menyelami keindahan bawah laut di Indonesia secara bertanggung-jawab,” ujarnya.

Kabar Terkini

Pada Juli silam,  kegiatan RHM di Nusa Penida melibatkan 11 orang yang dari berbagai organisasi yaitu Unit Pelaksana Teknis Kawasan Konservasi Perairan (UPT KKP) Bali, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana dan CTC serta dengan dukungan dari  para penyelam dari Nomads Diving. Saat itu, tim RHM berhasil melakukan pemantauan di 8 titik penyelaman selama 4 hari.

Karang dan ikan di Nusa Penida. Foto : CTC

Tidak berhenti sampai di sana, kegiatan Pemantauan Kesehatan Karang masih berlanjut pada 24-25 September 2019 di 4 titik yang terbilang cukup menantang. Tim dari UPT KKP, BPSPL Denpasar, Mambo Dive Resort, Siren Diving, Livingseas dan CTC melakukan pengumpulan data pada zona inti di Batu Abah yang memiliki kondisi gelombang yang cukup kuat.

Selain itu, dilakukan pula penyelaman di Suwehan, Sakenan dan Lembongan Bay sehingga lengkap pada Pemantauan kesehatan terumbu karang tahun ini dilakukan di 12 titik di Nusa Penida dan Nusa Lembongan

Menurut Jaya, hasil RHM 2019, secara rata-rata menunjukkan bahwa beberapa lokasi mengalami peningkatan tutupan terumbu karang apabila dibandingkan sebelumnya. Tahun 2017-2018 terjadi penurunan tutupan karang hidup di beberapa lokasi di Nusa Penida akibat gelombang besar atau badai pada Juni-Juli di tahun sebelumnya. “Juga karena terjadinya fenomena pemutihan karang atau coral bleaching pada tahun 2015,” lanjut Jaya.

Menulis di atas karang dapat merusak karang. Foto: CTC

Namun, beberapa karang juga menunjukan tanda-tanda kerusakan. Misalnya pemutihan karang akibat perubahan iklim. Praktik-praktik wisata kurang bertanggung jawab juga berdampak pada kerusakan karang. Misalnya sebuah karang lunak (soft coral) bertuliskan sebuah nama yang ditemukan di Gamat Bay, Nusa Penida.

Ancaman -ancaman inilah yang harus disadari oleh masyarakat luas sehingga praktik-praktik wisata yang kurang bertanggung jawab dapat dikendalikan demi masa depan laut dan terumbu karang. [b]