• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, August 10, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Ngiring, antara Pemberontakan Kultural dan Pelarian

Angga Wijaya by Angga Wijaya
17 September 2017
in Budaya, Opini
0
0

Semoga maraknya orang beragama bukanlah pelarian belaka.

Makin sering kita lihat orang Bali berpakaian putih-putih dengan senteng atau kain yang dililitkan di pinggang berwarna poleng (belang) putih-hitam. Ada juga yang berpakaian mencolok dan berbeda dengan penampilan masyarakat pada umumnya. Mereka dengan atribut seperti itu sering dikatakan sebagai orang yang Ngiring.

Banyaknya orang Bali yang Ngiring kemudian ditanggapi dengan pendapat beragam dari berbagai kalangan. Ada yang mengatakan itu sebagai krisis identitas manusia Bali kekinian hingga dianggap sebagai gejala gangguan kejiwaan. Alasannya, mereka yang Ngiring biasanya mengalami waham, keyakinan salah yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini orang lain dan bertentangan dengan realita normal.

Dulunya para pelaku Ngiring umumnya bekerja sebagai balian atau dasaran. Keberadaan mereka diakui dalam tradisi Hindu di Bali sebagai salah satu golongan pemangku yaitu Pemangku Balian.

Namun, kini nampaknya hal tersebut mengalami pergeseran. Mereka yang Ngiring kini tidak mesti menjadi balian atau dasaran melainkan hanya sebagai penanda bahwa ia sedang mendalami ajaran agama dan spritualitas. Bahkan, bisa jadi hanya semacam gaya hidup baru pencarian jati diri.

Hal itu mengingat kini makin banyak kelompok spiritual di mana anggotanya memiliki kebutuhan sama mencari kedamaian diri dengan melakukan berbagai laku spiritual. Meditasi, yoga, melukat, dan tirta yatra ke berbagai pura yang ada di Bali maupun luar Bali.

Saya melihat fenomena ini sebagai sebuah pemberontakan kultural. Jika zaman dahulu ajaran agama hanya dimonopoli oleh golongan tertentu, kini tidak lagi.

Perkembangan zaman yang ditandai pesatnya kemajuan teknologi membuat orang Bali kini bisa mengakses berbagai informasi termasuk ajaran Hindu yang banyak dijumpai di internet. Ini termasuk hadirnya kelompok-kelompok spiritual yang mempunyai jaringan global seperti Hare Krishna, Sai Study Group, Brahma Kumaris dan lainnya.

Orang dengan mudah bisa berguru, mendalami spiritualitas dan menemukan komunitas yang mampu mengisi kekosongan batin dan kurangnya pengetahuan agama. Ini berlaku juga dalam kelompok-kelompok spiritual lokal di Bali. Orang yang tertarik meditasi, yoga atau menjadi penyembuh mendapat tempat cocok saat bergabung pada pergurauan dan kelompok spiritual yang ada.

Sesuatu yang jarang kita jumpai 20 atau 30 tahun lalu.

Fenomena ini hampir sama dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat pada pertengahan 1960-an. Saat itu kaum Hippies yang didominasi anak muda merasa muak dan menyuarakan protes atas terjadinya Perang Vietnam. Mereka mencari jati diri dengan belajar meditasi. Salah satunya dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi, guru spiritual asal India yang juga merupakan panutan kelompok musik The Beatles.

Jika kaum Hippies mendalami spiritualitas untuk mencari jati diri dan menyuarakan protes terhadap perang, di Bali orang-orang yang “Ngiring” mungkin saja mengalami hal sama, pencarian jati diri dan sebuah pemberontakan kultural.

Ini menandakan runtuhnya sebuah hegemoni.

Orang Bali kini mempunyai hak yang sama untuk belajar agama dan mengekspresikan minat mereka akan spiritualitas. Hal yang bagus asalkan tidak merupakan sebuah eskapisme, pelarian. Lari dari masalah dan kenyataan hidup yang dihadapi lalu mendapat pembenar dan larut dalam kelompok yang diikuti.

Di sisi lain, masalah tetap ada dan bahkan semakin pelik. Tentunya semoga bukan ini yang terjadi.

Fenomena “Ngiring” hendaknya disikapi dengan arif dan bijaksana. Semakin banyak orang Bali mencintai dan mendalami ajaran agama tentu makin bagus. Kesadaran akan keseimbangan hidup dimaknai dengan laku spiritual yang diterjemahkan dengan sikap hidup yang penuh kedamaian, cinta kasih dan empati. [b]

Tags: AgamaBaliBudayaOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Angga Wijaya

Angga Wijaya

Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Menyukai dunia literasi sejak SMA. Pernah kuliah Prodi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

Related Posts

Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Next Post
Dex Allon Tetap Ingin Mengabdi di Dusun Muntig

Dek Alon Kembali Terpilih Memimpin Muntig

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026

Pertanian Kakao Jembrana jadi Percontohan Pertanian Kakao Nasional

10 August 2026
Hak Anak atas Ruang Publik: Mengelola Hobi Anak Balap Sepeda

Hak Anak atas Ruang Publik: Mengelola Hobi Anak Balap Sepeda

9 August 2026
KJW Menumbuhkan Rasa Kepemilikan Wilayah Sendiri

KJW Menumbuhkan Rasa Kepemilikan Wilayah Sendiri

8 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia