• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Ngadonang Lawar Sampai Ngadonang Rasa untuk Anak Muda Tegallalang

Satya Bhuana by Satya Bhuana
6 October 2022
in Budaya, Kabar Baru
1
0
Nang Roda (kiri) dan anaknya Nang Bedul (kanan) bercerita tentang Lawar khas Tegallang di halaman puri.

Melali memang sepatutnya lebih banyak bergembiranya dan menggantikan perasaan ruwet di kepala. Bersafari dengan cara menikmati panorama dan juga cerita-cerita baru yang mungkin baru kita dengar menjadi penyegaran dalam diri.

Bersama beberapa anak muda yang gemar mendengarkan cerita datang ke Desa Tegallalang dengan menyusuri tempat-tempat menarik di dalamnya. Ada lima lokasi yang kita singgahi yaitu Ceking Rice Terrace, lalu makan siang dengan Kakek atau Nang Roda, dilanjutkan dengan mendengar cerita dari keluarga Puri Tegallalang, kemudian melihat koleksi lukisan khas Pak Pande Ketut Bawa, dan ditutup dengan sharing pertanian di kebun milik Pak Arsana.

Masing-masing tempat yang disambangi oleh anak muda ini sangat memberikan pengalaman yang berbeda-beda pula. Antusias mereka meningkat ketika jam makan siang telah tiba, perut penasaran dengan masakan khas yang akan disajikan.

Kakek Roda merupakan pengayah banjar yang asalnya dari banjar Tegal Desa Tegallalang, kesehariannya menjadi juru sapuh atau penjaga kebersihan Bale Banjar Tegal. Kami sambangi untuk mencicipi adonan Lawar, yang konon warga banjar Tegal tidak mau makan kalau bukan Kakek Roda yang meraciknya.

Di bawah pohon jati di tengah halaman Puri Tegallalang kami makan siang ditemani dengan tutur dari Kakek Roda. Ia ditemani anaknya yaitu Nang Bedul. Beliau menceritakan apa saja bumbu yang digunakan untuk membuat Lawar beserta filosofi Lawar sebagai sarana upacara di Bali.

Sepenuturan Nang Bedul jika digunakan sebagai sarana upacara keagamaan Lawar memberikan simbol dewata berdasarkan warna yang diciptakan dari bahan-bahan lawar. Pada umumnya Lawar Bali memiliki beberapa jenis Lawar sesuai dengan bahan dasarnya, seperti daun paku/pakis, kacang panjang, pepaya mentah yang dimasak, darah dari hewan yang menciptakan warna merah, dan kelapa parut. Dagingnya dari babi atau ayam, dan kreasi dari bahan lainnya.

Diskusi di Puri Tegallang

Kakek Roda juga menyelipkan beberapa kegunaan dari bahan bumbu Lawar yang juga disebut Basa Genep atau bumbu lengkap. Kurang lebih terdapat sepuluh bahan untuk menciptakan bumbu Bali yang terus diwariskan. Masing-masing dapat memiliki kegunaan jika dikolaborasikan. Seperti kencur dengan beras sebagai obat batuk, kunyit sebagai obat luka, jahe dapat menghangatkan badan, serta banyak lagi kegunaannya selain menjadi olahan bahan makanan. Hal unik tersebut dicatat melalui sastra kuno dengan media daun lontar yang diberi judul Lontar Dharma Caruban.

Seusai perut masing-masing sudah mulai terisi dan senyum mulai kembali, kami melanjutkan berdiskusi dengan anggota keluarga Puri Tegallalang. Kami berdiskusi tentang adanya Desa Tegallalang bersama tokoh Puri yaitu Cokorda Krisena dengan format diskusi santai.

Cok Krisena memulai dengan bercerita tentang sejarah desa Tegallalang kemudian ada sangkut pautnya dengan leluhur beliau. Selayaknya masyarakat yang menyambut kedatangan tamu dengan permakluman terlebih dahulu, bahwa orang-orang akan mengira jika kata Puri selayaknya seperti kerajaan megah dihiasi ornamen yang glamour. Namun di balik kesederhanaan Puri Tegallalang, beliau memiliki cita-cita yang sangat besar dengan memikirkan Desa Tegallalang ke depan.

Harapan kepada anak muda, harus bercermin dengan keadaan Puri Tegallalang khususnya dan Desa Tegallalang pada umumnya. Sejatinya Desa Tegallalang belum menemukan kekhasannya seperti yang dimiliki oleh desa tetangga lainnya. Berangkat dari sejarahnya, Tegallalang dulunya hanyalah ladang rumput ilalang, kemudian konon dijadikan tempat pertempuran kekuatan gaib oleh penekunnya. Hanya satu yang diakui kekhasannya yaitu adanya tradisi Ngerebeg di Pura Duurbingin, itupun tahun 2022 baru diakui secara resmi.

Bagi puri kesadaran anak muda terhadap potensi yang dimilikinya harus mampu berkolaborasi dan saling melengkapi. Layaknya sistem Kasta maupun Warna yang diyakini oleh Cok Krisena sebagai sistem penggerak kehidupan desa, yang di dalamnya terdapat pemerintah, pedagang, pekerja, dan pemuka agama.

Keterkaitan antara profesi satu dengan yang lainnya perlu diperhatikan dan perlu dimanajemen dengan baik. Maka, keahlian dan potensi dalam diri anak muda jadi bahasan penting untuk memperkuat sistem berkehidupan di lingkungan desa. Puri seringkali melakukan pendekatan secara non formal dengan anak muda, harapannya ada ide yang terserap untuk kemajuan Tegallalang. Tak heran Puri Tegallalang sering menjadi titik kumpul untuk melakukan diskusi santai selayaknya tempat nongkrong.

Cok Krisena berharap pemikiran anak muda dijadikan landasan untuk membangun desa. Karena anak muda yang akan mendapatkan warisan dari desanya sendiri.

kampungbet
Tags: Melali BalebengongPuri TegallalangWisata Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Satya Bhuana

Satya Bhuana

Related Posts

5 Waterfall Trip Bali Cocok untuk Liburan Akhir Tahun

5 Waterfall Trip Bali Cocok untuk Liburan Akhir Tahun

31 December 2025
“Bapak, wait for me…wait for me..!”

Ekonomi Regeneratif: Solusi Kelelahan Ekologis dan Peta Jalan Baru Bali

5 December 2025
Mungkinkah Kawasan Rendah Emisi di Bali?

Menata Ulang Ruang dan Mobilitas Bali di Era Digital

28 July 2025
Mendorong Tata Krama Berwisata di Bali

Mendorong Tata Krama Berwisata di Bali

22 May 2025
Melali ke Kota Bangli: Jejak Toleransi, Tata Ruang, sampai Skena Anak Muda

Melali ke Kota Bangli: Jejak Toleransi, Tata Ruang, sampai Skena Anak Muda

25 March 2025
Rekomendasi Day Trip Eksplor Nusa Lembongan

Rekomendasi Day Trip Eksplor Nusa Lembongan

14 March 2025
Next Post
Melali ke Desa Ngis: Dari Tuak Segar sampai Magenjekan

Melali ke Desa Ngis: Dari Tuak Segar sampai Magenjekan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia