• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, August 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Merayakan dan Mengkritisi Keunikan Bali

Rofiqi Hasan by Rofiqi Hasan
11 January 2010
in Agenda, Budaya, Kabar Baru, Sosial
0
0

Teks dan Foto AJI Denpasar

Keberadaan Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional sudah mendapat pengakuan dunia. Menariknya, eksistensi itu disertai klaim bahwa pariwisata Bali dipilari oleh kekayaan budaya yang turun temurun dijaga di daerah ini. Nilai-nilai dan tradisi budaya secara normatif terus- menerus dinyatakan sebagai yang terbaik dan digunakan untuk menilai dan menakar produk kebudayaan yang lain.

Dalam kenyataan, menurut Lukman Siswo Bintoro, budaya sebagai hasil interaksi manusia sejatinya bergerak dalam ruang yang lebih lentur. Dialog dan konvergensi memunculkan nilai-nilai dan tradisi baru seringkali dalam arah yang berlawanan dengan norma-norma yang diunggulkan. “Fungsionalitas serta kepentingan pragmatis cenderung lebih dominan mewarnai arah perkembangan budaya,” ujarnya yang menjadi koordinator Pameran Foto “ Bali Jani”.

Pergulatan itulah menjadi sangat menarik untuk diamati. Ruang-ruang sosial budaya di daerah ini begitu transparan dan terbuka untuk semua jenis pergaulan. Semua orang dari seluruh penjuru dunia dimungkinkan melakukan pertemuan dan interaksi untuk saling menyerap dan mencari inspirasi. Diam-diam, budaya lokal pun harus berinteraksi dengan kecenderungan global mulai dari hal yang sederhana seperti dalam cara berpakaian, kuliner, arsitektur sampai pada masalah yang rumit dalam hal religi dan spiritualitas.

Alih-alih sekedar hanya menjadi tempat pertemuan, Bali telah menjadi tempat perayaan atas keberagaman. Jejak-jejak masa lampau mungkin masih tergurat jelas dalam berbagai upacara dan gaya hidup masyarakatnya. Tetapi nuansa modernitas dan bahkan langkah ke masa depan nan futuristik juga mendapat tempat yang nyaris sepadan.

Enam fotografer anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar- Johanes P Christo, Nyoman Budhiana, Zul T Eduardo, Made Nagi , Yuda Ariyanto dan Miftahuddin Halim – kini berusaha menghadirkan fakta mengenai pergulatan itu dalam bingkai pameran fotografi. Mereka membidik obyek-obyek sosial budaya yang menunjukkan persilangan budaya maupun manusia dalam berbagai aktivitas seperti aneka upacara upacara, festival, anak band hingga kehidupan rumah tangga.

Sebelum pameran berlangsung, keenam fotografer mendapat pelatihan dan workshop untuk membuat sebuah photo story yang merangkai satu tema tertentu. Walhasil foto yang dipamerkan bukanlah sekedar foto-foto lepas yang dipotret sambil lalu. Foto-foto itu sudah dilatari “kesadaran ideologis” terhadap obyek yang ingin ditampilkan. Namun dengan kesadaran penuh untuk menghadirkan fakta dan bukan memolesnya untuk tujuan tertentu seperti misalnya sekadar menghadirkan sisi keindahan Bali.

Menurut fotografer senior Edy Purnomo yang menjadi pembimbing dalam workshop, foto-foto itu adalah sebuah opini para fotografer terhadap Bali. “Ada yang sangat kritis, ada pula yang terkesan bangga dengan keunikan Bali,” ujar Freelance Fotografer untuk sejumlah kantor berita internasional itu. Kesan kritis misalnya dalam karya Zul T Eduardo yang memotret fenomena masuknya villa-vila yang menrobos daerah pertanian. Foto-foto itu menunjukkan ketidakberdayaan Bali dalam mengekang industri turisme.

Sementara keunikan Bali antara lain terlihat dari karya Nyoman Budhiana yang menampilkan ritual Tumpek Landep dalam konteks kekinian. Tumpek Landep bukan lagi dirayakan hanya bagi benda-benda tajam tetapi juga untuk aneka peralatan termasuk ruwatan kendaraan.

Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan menyatakan, kesempatan untuk melakukan sebuah pameran adalah medium bagi para fotografer untuk berinteraksi dengan publik. “Disini publik bisa menilai sejauhmana kualitas karya mereka sebagai profesional,” ujarnya. Seorang profesional mempunyai kewajiban untuk terus menerus meningkatkan kualitas karyanya.

Pameran itu menjadi lebih penting lagi di tengah kecenderungan dimana wartawan, baik tulis maupun foto, hanya bekerja sebagai buruh yang terjebak rutinitas dengan keluhan soal gaji serta kesejahteraan yang rendah. AJI sendiri terus mendorong agar wartawan terus mempertahankan sikap profesional seraya terus mendesak agar perusahaan media memberikan kesejahteraan yang cukup kepada para wartawannya. Dua hal itu menjadi tuntutan mendasar dalam peningkatan kualitas jurnalisme. [b]

Tags: AgendaBaliBudayaDenpasarJaringanJurnalistik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Rofiqi Hasan

Rofiqi Hasan

Rofiqi Hasan. Bapak dua anak tinggal di Jalan Narakusuma, Tanjungbungkak, Denpasar. Pernah bekerja di koran Nusa dan majalah Elit, sebelum bekerja untuk majalah dan koran TEMPO. Selain menulis di media mainstream, dia kini asik masyuk menulis di blognya sendiri dan Bale Bengong.

Related Posts

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Next Post

Menggunakan Seniman untuk Nama Jalan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pengorbanan Atas Nama Pariwisata di Kintamani

In the Name of Tourism in Kintamani

16 August 2026
Kebun Melon di Kaki Gunung Agung

Kebun Melon di Kaki Gunung Agung

16 August 2026
The Sweet and The Sour of Being TMD Bus Users

The Sweet and The Sour of Being TMD Bus Users

15 August 2026
Harmoni Alam dan Budaya di Kastala Trekking Karangasem

Harmoni Alam dan Budaya di Kastala Trekking Karangasem

15 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia