• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menyulap Batok Kelapa Menjadi Briket

Anton Muhajir by Anton Muhajir
19 November 2013
in Kabar Baru, Lingkungan, Teknologi
0
0

briket01

Di balik pesonanya, Tanah Lot punya ancaman masalah sampah.

Tiap hari, sekitar 1.000 butir batok kelapa menjadi sampah di kawasan wisata populer ini. Pada saat sepi turis, jumlah batok kelapa itu minimal 800 butir. Kalau ramai bisa sampai 2.000 butir.

Batok-batok kelapa itu berasal dari ratusan pedagang dan puluhan restoran di kawasan Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Kelapa muda memang salah satu minuman paling laris di tempat wisata ini. Tiap hari sekitar 5.000 hingga 6.000 turis domestik dan mancanegara mengunjungi Tanah Lot. Dengan cuaca Tanah Lot yang relatif panas, karena berada di pantai, maka es kelapa jadi salah satu minuman favorit turis di sini.

Maka, batok kelapa pun mejadi salah satu jenis sampah paling banyak di Tanah Lot. Apalagi petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan tidak mengangkutnya bersama sampah-sampah lain.

briket05

Pedagang di Tanag Lot pun membuang begitu saja batok kelapa tersebut. Di tepi jalan. Di lapangan. Tidak ada yang berinisiatif untuk mengolahnya.

Selain batok kelapa, sampah jenis lain di Tanah Lot pun tak kalah banyaknya. Tiap hari, jumlah sampah di kawasan ini mencapai sekitar 9-10 kwintal. Namun, sampah jenis lain ini diangkut petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan, sedangkan sampah batok kelapa dibiarkan di sana.

Namun, sampah tak cuma masalah Tanah Lot. Beberapa tempat wisata lain di Bali pun mengalami hal sama, serbuan sampah yang terkendali. Salah satunya adalah Kuta, ikon pariwisata Bali. Ketika musim hujan, sampah-sampah akan menyerbu pantai tempat berjemur, bersantai, berwisata, dan berselancar ini.

Dua tahun lalu, majalah TIME menulis masalah sampah di Bali tersebut di websitenya. Dengan judul agak sarkas, menyebut Bali sebagai neraka gara-gara sampahnya, maka artikel ini seperti menyodok banyak pihak terkait pengelolaan sampah.

Banyak pihak di Bali terkesan gerah dan gelagapan karena tulisan di TIME yang sebenarnya sudah sering ditulis media lokal tersebut. Salah satu alasannya klise, kalau Bali dicitrakan penuh sampah, maka kunjungan turis bisa berkurang, maka pariwisata bisa terganggu, maka ekonomi bisa kena dampak buruk.

Bisnis pariwisata adalah bisnis citra. Karena itu, citra bahwa Bali adalah pulau bebas sampah harus dijaga. Ini pula yang turut memengaruhi warga di Tanah Lot untuk mengolah sampah di tempat mereka.

“Kita harus berbuat sesuatu untuk menangani sampah di Bali. Biar tidak hanya saling menyalahkan,” kata Ketua Yayasan Korpri Universitas Warmadewa Anak Agung Gede Oka Wisnumurti.

“Tanah Lot biar tidak seperti di Kuta,” lanjutnya.

briket04

Sejak dua tahun silam, warga kemudian mencoba mengolah batok-batok kelapa itu menjadi bahan bakar briket. Warga membuat Gerakan Masyarakat Mandiri Mengelola Sampah (Gemaripah). Upaya ini didukung Yayasan Korpri Universitas Warmadewa, perusahaan air minum PT Aqua Investama Lestari, dan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Pengolahan batok kelapa menjadi briket sendiri hanya salah satu bagian dari semua tahap untuk menata pengelolaan sampah di Tanah Lot. Upaya lain adalah sosialisasi melalui dialog dan diskusi, kampanye pengelolaan sampah, serta pembentukan kelompok kebersihan.

Karena itu, menurut Ketua Gemaripah Made Sulindra, saat ini para pedagang dan warga di Tanah Lot pun mulai rajin melakukan gotong royong membersihkan sampah.

Warga melalui Gemaripah juga mulai mengolah sampah-sampah batok kelapa itu menjadi briket. Tempat pengolahan briket ini berada di bagian utara kawasan Tanah Lot, menempati satu bangunan berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi.

Sabtu lalu, dua warga menunjukkan cara pengolahan briket dari batok kelapa tersebut kepada beberapa blogger yang diundang melihat proses pengelolaan sampah di Tanah Lot.

Pengolahan batok kelapa itu termasuk cepat. Tak kurang dari 10 menit. Tiap batok kelapa, masih basah sekalipun, bisa langsung dipakai. Batok kelapa itu dimasukkan ke mesin pencacah sehingga menjadi seperti sabut-sabut kasar. Perlu dua atau tiga kali pencacahan agar sabut-sabut itu lebih halus. “Makin halus sabutnya, makin bagus kualitas briketnya,” kata Sulindra.

Sabut yang halus itu kemudian dicampur dengan serbuk kayu dengan perekat dari tepung kanji. Ada takaran tertentu dari masing-masing bahan yaitu sabut kelapa dengan serbuk kayu agar briket tersebut lebih bagus.

briket02

Adonan sabut kelapa dan serbuk kayu kemudian dipres dengan alat cetak agar bentuknya bulat serupa mangkuk terbalik. Bentuk briket mulai terlihat meski masih basah.

Briket basah ini kemudian dijemur antara 3-4 hari agar kering dan bisa dibakar.

Dalam sehari, warga bisa memproduksi 500 biji briket ini.

Namun, saat ini briket-briket tersebut masih menumpuk di tempat pembuatan. Menurut Sulindra, briket-briket yang sudah diuji coba pemanfaatannya itu bagus sebagai pengganti arang bahan bakar. Beberapa hotel di sekitar sana pun sudah pernah mencobanya.

Karena itu, menurut Sulindra, briket dari sampah batok kelapa itu potensial untuk dikembangkan dan dijual. “Kami masih menghitung kira-kira berapa harga jualnya,” kata Sulindra. [b]

Tags: LingkunganTabananTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

Salah Kaprah Mitologi Dewi Danu dalam Pemuliaan Air

27 February 2026
Next Post
Gema Gamelan Bali ke Masa Depan

Gema Gamelan Bali ke Masa Depan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia