• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menghadapi Bencana dari Pengalaman

Juniantari by Juniantari
29 May 2022
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Pemberian bantuan sembako di Desa Ban ketika bencana gempa bumi

Bencana mengumpulkan pengalaman-pengalaman untuk adaptasi. Baik bencana alam atau non alam. Ada 3 tahap yang perlu dipahami terkait kejadian bencana adalah pra-bencana, bencana dan pasca bencana. Yang sering terjadi, kita baru merasakan krisisnya ketika bencana sudah terjadi.

Wisnurangga, bagian manajemen risiko bencana Yayasan IDEP memaparkan menghadapi bencana bisa kita persiapkan dengan perencanaan pra bencana dan mempelajari apa yang bisa dilakukan pasca bencana.

Bali memiliki bahaya risiko bencana dari pengaruh sisi hidrologinya. Memiliki 2 musim, panas dan hujan. Dari 2 jenis musim itu dapat diperkirakan bencana yang akan terjadi. Ketika hujan ada kemungkinan banjir. Ketika panas bisa terjadi kekeringan dan kekurangan air yang memicu gangguan sanitasi.

Respon masyarakat atas bencana di Bali sebelumnya seperti Gunung Agung di Karangasem meletus menjadi pengalaman bagaimana cara menghadapi bencana. Dalam diskusi Respon Lokal dan Rehabilitasi Pascabencana, Muchamad Awal, 24 Mei 2022, Direktur Eksekutif IDEP menyebutkan yang juga perlu dipertimbangkan ketika bencana di Bali adalah bagaimana tentang penyelamatan ternak. Bencana alam Gunung Agung meletus menunjukkan bagaimana respon masyarakat terdampak di Karangasem dan sekitarnya.

“Masyarakat lebih mementingkan ternaknya daripada melindungi diri,” jelas Awal. Merespon bencana di Bali tidak hanya urusan manusia. Tapi juga bagaimana melakukan evakuasi pada hewan ternak. Salah satu harta kekayaan masyarakat Bali diinvestasikan pada hewan ternak. Sehingga ketika bencana kehilangan ternak menjadi rasa kehilangan yang kompleks untuk masyarakat. Kehilangan mata pencaharian dan investasinya.

Dari respon itu, Wisnurangga menyebutkan muncul daya adaptasi prabencana oleh masyarakat terdampak. Muncul pemanfaatan cubang ketika menghadapi kekurangan air. Sumber makanan dari hasil lahan kebun ketika musim hujan. Ternak menjadi sumber penghasilan ketika musim panas.
“Di sawah masyarakat akan menyimpan padi di lumbung untuk memenuhi kebutuhan pangan selama musim kering,” papar Wisnu.

Di sisi lain, ada kejadian di luar kontrol masyarakat. Seperti sekarang terjadi perubahan musim penghujan dan kering. Misalnya di beberapa lokasi Buleleng barat, Banjar Bukit Sari, Sumberklampok. Bulan April biasanya sudah kering, tapi sekarang sudah Bulan Mei masih hujan. “Perubahan pola musim seperti ini juga mengganggu. Sehingga petani yang bisa terintegerasi dengan ternak itu jadi salah satu bentuk adaptasi.”

Masyarakat Tangguh Melalui Pemberdayaan Pertanian

Pemberdayaan petani di Sumberklampok, Buleleng


Melalui manajemen risiko bencana, Yayasan IDEP menjangkau masyarakat untuk tangguh melalui pemberdayaan pertanian. Petani diajak bertani organik lagi. Setelah 30 tahun terakhir generasi petani dibentuk menggunakan sistem pertanian intensif, komponen pertanian dibuat hibrid, berbahan kimia, bersifat masif sehingga menjadi ketergantungan.

Sementara di Bali terbaca konsep pertanian tidak butuh lahan masif. Petani memiliki lahan tani untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga kebutuhan pupuk dan bibit bisa terpenuhi secara sendiri dan lokal.
Dari pemetaan konsep dan kebutuhan itu, IDEP melatih petani membuat pupuk cair organik dari sisa dapur, sisa sayur. Menghadapi serangan hama serangga dengan menggunakan tanaman penarik serangga. Biasanya tanaman bunga yang berwarna kuning. Menerapkan penanaman tumpangsari (banyak jenis tanaman dalam satu lahan).

Mengajak petani agar lebih memperhatikan tanah. Perubahan laku petani terhadap tanah yang berbeda juga mempengaruhi. Saat ini yang terjadi tanah hanya sebagai alat produksi petani saja.

“Ini disebabkan karena dulu petani punya lahan, sekarang yang punya lahan menyewakan ke buruh tani. Ini beda pengertian jadinya. Sehingga ada istilah buruh tani,” papar Wisnu.

Pola dan rasa pemilikan ini mempengaruhi laku petani menggarap tanahnya. Pelakuan kurang peduli terhadap kondisi tanah. Tanah yang tersakiti pupuk kimia dan bibit hibrid. Hal ini memicu turunnya produktivitas.

“Itu kondisinya, sehingga IDEP mendorong petani membudayakan lagi benih lokal,” jelasnya.

Benih lokal bisa jadi benih terbaik dengan pola perawatan yang intensif. Ada juga laku adat, seperti memperlakukan tanaman seperti saudara. “Kami ingin mengembalikan laku-laku itu, yang sebenarnya sudah ada sejak dulu di Bali,” tambahnya.

kampungbet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Juniantari

Juniantari

aku juga ada di akun instagram @juniyours

Related Posts

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Next Post
Media Kecil dengan Langkah Besar

Media Kecil dengan Langkah Besar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia