• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Menggalang Dukungan Mendinginkan Bumi

Anton Muhajir by Anton Muhajir
16 March 2010
in Agenda, Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Teks dan Foto Anton Muhajir

Bersama satu temannya, Tri Elida Wulansari, 18 tahun, berjalan kaki mengelilingi Lapangan Puputan Margarana Renon Denpasar, Minggu pagi lalu. Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Udayana Bali ini membawa lingkaran dari kardus bekas. Kardus berbentuk bulat itu berwarna hitam gelap dengan tiga garis putih membentuk bibir tersenyum dan mata, ikon gerakan World Silent Day (WSD) atau Hari Hening Sedunia.

Ide tentang WSD muncul pertama kali dari Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim (KBPI). Kolaborasi yang terdiri dari beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Bali seperti Yayasan Wisnu, Bali Organic Association, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, dan Walhi Bali ini mulai mengenalkan ide WSD pada saat pertemuan PBB tentang perubahan iklim di Bali 2007 lalu. Setelah itu, ide tentang WSD pun terus bergulir.

Merujuk pada namanya, WSD merupakan kegiatan mematikan kendaraan bermotor ataupun listrik selama empat jam tiap tanggal 21 Maret. Kegiatan yang terinspirasi dari Hari Nyepi ini bertujuan mengurangi pembuangan emisi gas rumah kaca. Tanpa kegiatan yang memakai listrik dan kendaraan bermotor, menurut para penggagasnya, WSD bisa menjawab salah satu masalah terbesar bumi saat ini, pemanasan global.

Ide untuk mengurangi dampak pemanasan global ini yang membuat Wulan mendukung WSD. Tak hanya mendukung, dia juga ikut mengampanyekannya. Pagi itu, dengan dua gambar ikon WSD seukuran sekitar 50×50 cm persegi diikatkan di tubuhnya, Wulan dan temannya mencari dukungan tanda tangan.

Wulan membawa stiker dan leaflet. Dia membagikannya pada orang yang ditemui sementara temannya membawa formulir tanda tangan dukungan. “Jangan lupa ya tanggal 21 Maret nanti. Matikan listrik dan kendaraan bermotor selama empat jam,” katanya.

Sejak sekitar sebulan lalu tiap akhir pekan Wulan melakukan kampanye yang sama. Alumni SMA 1 Jepara Jawa Tengah ini tergabung dalam Relawan untuk WSD yang terdiri dari 15 anak muda di Bali. Hampir semua relawan adalah mahasiswa. Selain dari universitas di Bali seperti Unud dan Universitas Hindu Indonesia (Unhi), juga ada relawan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Relawan juga ada di luar Bali seperti di Bandung. Bahkan ada juga relawan dari Jerman yang ikut serta dalam kampanye tersebut.

Para relawan inilah yang gencar melakukan kampanye sekaligus menggalang tanda tangan dukungan untuk WSD. Tiap Sabtu dan Minggu, mereka mengampanyekan WSD ke tempat-tempat publik seperti mall, pantai, dan lapangan.

Minggu (14/3) pagi itu pun begitu. Sekitar 15 anak muda itu ada yang berorasi mengajak tiap orang yang lewat untuk memberikan tanda tangan di sisi selatan Lapangan Renon. Ada yang menyebarkan leaflet dan stiker. Ada yang bernyanyi. Ada pula yang duduk-duduk saja. Mereka juga memasang spanduk berukuran sekitar 4×4 meter persegi dengan materi mengajak warga mendukung WSD.

Selain mengajak warga melakukan hening selama empat jam dari pukul 10 pagi hingga 2 sore pada tanggal 21 Maret nanti, para relawan juga menggalang tanda tangan dukungan warga terhadap WSD.

Menurut Koordinator KBPI Siska Kusumadewi, hingga Minggu tersebut, mereka mendapatkan  7.025 tanda tangan dukungan. Target mereka, akan ada 10 juta tanda tangan pendukung WSD. Jika sudah ada 10 juta tanda tangan, maka gerakan ini akan bisa diakui oleh PBB dan menjadi hari hening internasional. Untuk itulah, KBPI dan para relawan WSD terus menggelar kegiatan ini sekaligus mencari tanda tangan.

KBPI dan para relawan bekerja tak hanya langsung di lapangan, mereka juga menggalang dukungan melalui dunia maya. Selain melalui website resmi di www.worldsilentday.org, para relawan juga menggalang dukungan melalui jejaring social networking Facebook melalui grup Gerakan 10.000.000 (10juta) Facebookers Dukung Hari Hening SeDunia (WSD). Hingga Senin malam, grup ini diikuti lebih dari 5000 pengguna Facebook.

Melalui berbagai cara, para relawan menggalang dukungan sekaligus menebar ajakan agar warga melakukan hening pada 21 Maret nanti. Menurut Wulan, WSD merupakan bentuk terima kasih manusia pada bumi. Bumi sudah memberikan banyak hal pada kita. Sekarang giliran kita yang beterima kasih padanya dengan melakukan hal kecil, hening selama empat jam.

“Meski kecil, saya yakin itu sangat berarti bagi bumi,” ujar Wulan. [b]

Tags: AgendaLingkunganLSMNyepi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Next Post
Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditas

Bagi Industri, Nyepi Adalah Komoditas

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia